Petani Stroberi Optimistis Omzet Stabil Selama Ramadhan

waktu baca 2 menit
Pertuah Barus.

KEMPALAN: Di tengah merebaknya virus Coronna, petani stroberi di Desa Basam, Kelurahan Barus Julu, Kecamatan Barus Jahe, Kabupaten Karo (Sumatera Utara) tetap optimis permintaan pasar tetap stabil. “Alhamdulillah, sampai sekarang permintaan tidak pernah menurun,” komentar Pertuah Barus, salah satu pembudidaya stroberi terkenal di Desa Basam.

Saban hari dia minimal memasok 80 kilogram stroberi varietas Berastagi dan Mencir. Harga di kelas petani mulai Rp 25 ribu hingga Rp 35 ribu per kilogram.

Ayah 4 orang anak ini menambahkan, petani stroberi di daerahnya amat optimis penghasilannya tidak akan menurun menjelang Bulan Puasa. “Saya yakin penghasilan kami akan stabil, jika kondisi perekenomian seperti sekarang ini,” sambung dia.

Barus –yang sudah belasan tahun berbisnis stroberi– bahkan sangat percaya diri omset menjelang Hari Raya Idul Fitri akan naik hingga 3 kali lipat.

“Berdasarkan pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya, permintaan 7-10 hari menjelang Lebaran naik hingga 3 kali lipat. Kenaikan harganya sekitar 10 persen saja,” ungkap Barus, blak-blakan.

Desa Bayam berada di kaki Gunung Barus dengan ketinggian 1.350 dpl. Desa ini populer sebagai salah satu pemasok terbesar stroberi di Sumatera Utara. Khusus untuk Barus, pasokan stroberinya bahkan mencapai Riau dan Sumatera Selatan.

Stroberi varietas berastagi.

Cuaca Ekstrem
Yang justru menjadi kekhawatiran Barus adalah jika curah hujan berlebihan, menjelang Ramadhan hingga pas Lebaran tiba.

“Kalau dalam sehari hujan turun selama 5-10 jam secara terus-menerus, tentu akan merusak kualitas dan kuantitas stroberi,” jelas Barus. “Bunga stroberi akan sulit tumbuh menjadi buah. Kalau pun jadi buah, maka daya tahannya bakal menurun lantaran kandungan airnya juga berlebihan,” lanjutnya.

Masalahnya, sambung Barus, seluruh petani stroberi di Kelurahan Barus Culu menggunakan kebun dengan atap ‘terbuka’. “Stroberi lebih gampang tumbuh dan berkualitas sangat baik, kalau panas dan hujan berlangsung secara normal,” kata Barus. “Pokoknya cuaca ekstrem benar-benar menjadi ancaman bagi petani stroberi di sini,” ucapnya.

Dalam kondisi normal, stroberi bisa dipanen setiap 2 hari. Untuk varietas Berastagi dan Mencir, setiap kilogramnya ukuran jumbo berisi 20-30 buah. “Daya tahan kedua varietas ini mencapai 1×24 jam lama perjalanan,” ucap Barus yang memiliki kebun stroberi seluas 0,4 hektare ini.

Sebelum membudidayakan varietas mencir, Barus memakai varietas California dan Rosalinda. “Tetapi, daya tahan buahnya kurang baik, sehingga gampang rusak dalam perjalanan,” tutur Barus. Itulah sebabnya dia kemudian beralih ke varietas Berastagi dan Mencir. (moch taufiq)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *