WINA-KEMPALAN: Austria memiliki kasus kekerasan terhadap umat Islam yang cukup tinggi. Salah satu yang terkenal adalah persekusi terhadap Fared Hafez dari University of Salzburg.
Kasus tersebut melibatkan pihak keamanan dimana kepolisian mendobrak masuk ke dalam rumah Hafez dan menodongkan senjata kepada Hafez dan keluarganya pada akhir 2020 silam. Hal ini dibarengi dengan upaya pemerintah Austria yang membekukan semua sumber dana profesor itu yang membahayakan penghidupannya. Tindakan Austria ini mendapat kecaman dari dunia internasional.
Menurut Anadolu Agency, seperempat dari 3.000 serangan rasis diarahkan kepada Muslim di Austria. Mayoritas serangan ini terjadi di dunia maya dengan jumlah 2.148 serangan.
Adapun rasisme di ruang publik non-dunia maya memegang posisi kedua dengan 303 tindakan. Sementara 227 tindakan terjadi di sektor hiburan dan pelayanan.
Namun 92 di antaranya dideteksi ada di institusi dan organisasi publik sementara 85 kejadian di media cetak dan visual juga dalam dunia politik. Pihak keamanan juga tidak luput dari tindak rasisme dengan jumlah 75 kejadian, seperti yang terjadi pada Fared Hafez di atas. Ada 59 serangan rasisme di dunia kerja, nahasnya, ada juga 29 serangan terhadap individu dan organisasi yang bekerja melawan rasisme.
Organisasi Non-Pemerintah (ORNOP), Civil Courage and Anti-Racism Work (ZARA/Zivilcourage und Anti-Rassismus Arbeit) telah mencatat serangan rasis di negara itu selama lebih dari 20 tahun dan menerbitkan “2020 Racism Report.” Ada peningkatan yang pesat serangan rasisme dari angka 1950 serangan pada 2019 menjadi 3036 serangan pada 2020.
Pada tahun 2017, organisasi bernama Documentation and Consultancy Center for Muslims menyatakan bahwa ada sebanyak 253 serangan terhadap Muslim di Austria pada tahun 2016, kenaikan dari 156 serangan pada tahun 2015, 31% di antaranya merupakan serangan verbal atau tertulis, 30% berupa ujaran kebencian, 5% serangan fisik, 12% menyasar institusi Muslim, dan 22% jenis serangan lainnya. Adapun 98% dari serangan terhadap Muslim di Austria itu melibatkan perempuan dan 62% insiden terjadi di ruang publik dan transportasi publik.
Tidak hanya Austria, namun negara tetangganya, Swiss juga mengidap Islamofobia dalam kebijakannya dengan menyepakati referendum pelarangan penggunaan cadar di ruang publik. Selain Swiss, Bulgaria sudah melarang penggunaan cadar di ruang publik pada 2016.
Sementara itu, Prancis juga membentuk kebijakan publik bernuansa Islamofobik dengan kedok “separatisme” yang menyasar pada minoritas umat Islam. Kebijakan itu akan membuat organisasi keagamaan harus melaporkan pendanaan yang mereka dapatkan dari luar negeri dan apabila tidak dilakukan, maka akan dibekukan. (Anadolu Agency, rez)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi