Menkes: Vaksinasi Covid di Indonesia Terkendala Keterbatasan Stok Vaksin

waktu baca 2 menit

JAKARTA-KEMPALAN: Menteri Kesehatan atau Menkes Budi Gunadi Sadikin mengakui hingga saat ini program vaksinasi Covid-19 belum mencapai target yang ditentukan Presiden Joko Widodo. Alasannya, ada keterbatasan stok vaksin Covid-19.

Jokowi menginginkan sejuta suntikan vaksin dalam sehari. Sementara, Budi menyebutkan, pada Maret dan April mendatang, vaksin yang tersedia sekitar 10 juta dosis, sehingga hanya bisa 300 ribu sampai 500 ribu per hari.

“Masalahnya bukan di kemampuan vaksinasi, masalah di produksi vaksinnya. Kan kita baru bisa dapat 426 juta dosis dalam 15 bulan. Sekarang kita lagi berusaha supaya dipercepat sesuai dengan arahan Bapak Presiden,” kata Budi Gunadi.

Hingga Juni mendatang, kata Budi, ada 40 juta orang yang ditargetkan bisa disuntik vaksin Covid-19. Sebab stok vaksin hanya 80-90 juta dosis.

Ia menyebut target sejuta sehari baru bisa dilakukan pada Juni 2021. Sebab, ujar dia, suplai vaksin juga masih belum memadai untuk saat ini.

“Juni-Juli baru bisa sejuta karena ketersediaan vaksinnya di Juni-Juli bisa 25 juta sebulan. Kalau sejuta sehari kan 30 juta sebulan, kita tidak ada vaksinasi sebanyak itu saat ini,” kata Budi.

Pemerintah menargetkan 60-70 persen rakyat atau sebanyak 181,5 juta penduduk Indonesia menjalani vaksinasi Covid-19. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut ditambah dengan cadangan, pemerintah akan mendatangkan 426 juta dosis vaksin Covid-19. Adapun 90 juta dosis vaksin tiba periode Januari-Juni 2021, sementara sisanya baru tiba periode Juli-Desember 2021.

Sementara itu, Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Sitti Rohmi Djalilah positif Corona (COVID-19) meski telah divaksinasi 2 kali dosis. Epidemiolog Griffith University, Australia, Dicky Budiman, mengatakan seseorang yang sudah divaksinasi 2 kali dosis tetap memiliki kemungkinan terpapar Corona meski pada umumnya tidak bergejala.

“Ketika (orang yang sudah divaksinasi 2 kali dosis) terinfeksi, umumnya yang terinfeksi ini tidak akan bergejala bahkan sebagian besar tidak akan bergejala parah. Jadi itulah sebabnya penting sekali divaksin karena untuk menurunkan kesakitan itu, kesakitan itu bukan berarti tidak terinfeksi tetapi tidak sakit,” ujar Dicky.

Tidak sakit, menurut Dicky, adalah pasien tidak bergejala parah. Pasien yang terpapar tidak sampai harus ke rumah sakit, apalagi menyebabkan kematian.

“Namun yang bersangkutan selain terinfeksi juga bisa menularkan. Jadi Itulah sebabnya setelah divaksinasi itu, ia tetap wajib harus melakukan 5M,” jelas Dicky.

5M adalah memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi. (tm/et/ist)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *