KEMPALAN: Rasisme itu menjadi sesuatu di Barat, menjadi masalah serius, mengguncang masyarakat melakukan protes keras, mengucilkan perilaku rasisme.
Rasisme tidak mendapat tempat dan bahkan jadi musuh bersama. Bahkan ucapan dengan nada rasis, meski hanya sekadar canda, itu tetap tidak bisa diterima. Pokoknya tidak ada tempat sepetak pun untuknya.
Istana Buckingham di Inggris, pekan-pekan ini diguncang isu rasisme, yang disebabkan wawancara cucu dan cucu menantu Ratu Elizabeth II; Pangeran Harry dan Putri Meghan Markle.
Wawancara dengan Oprah Winfrey, di A CBC Primetime Special, Ahad (7/3), itu mampu mengguncang jagat pemberitaan. Menyudutkan istana Buckingham, kerajaan yang berusia 1000 tahun itu.
Meghan dan Harry dalam wawancara itu menyebut, bahwa ia diserang pernyataan rasisme dari salah seorang keluarga kerajaan.
Tidak disebut siapa nama anggota kerajaan yang menebar pernyataan rasisme itu. Katanya, yang jelas bukan Ratu Elizabeth atau suaminya Pangeran Philip.

Meghan Markle, perempuan biasa. Bukan dari keluarga bangsawan. Meghan dari keluarga campuran, ayah kulit putih, dan ibu kulit berwarna (Afro Amerika).
Awalnya ada sedikit keberatan saat Harry memutuskan ingin menikahi Meghan. Dari segi usia Meghan (39) lebih tua tiga tahun, dan seorang janda. Harry (36) memang sedikit rada bengal, ketimbang sang kakak, Pangeran William.
Tapi sang Ayah, Pangeran Charles, dan keluarga kerajaan lalu merestui pilihan Pangeran Harry itu. Perkawinan mereka dirayakan khas kerajaan yang mewah.
Setelah beberapa tahun menikah, mereka memutuskan keluar dari kerajaan. Mereka meninggalkan Inggris dan memilih Amerika sebagai tempat tinggalnya.
Pangeran Harry bahkan menanggalkan gelar aristokrat sebagai pangeran dan hak-hak yang dimilikinya sebagai pangeran. Satu langkah yang disesali sang kakak, dan tentunya sang nenek, Ratu Elizabeth.
Meski demikian, sang nenek tetap menganggap Pangeran Harry, Megan dan Archie tetap bagian utama dari keluarga kerajaan.
Meghan memang mendominasi pemikiran Harry, sehingga ia tampak sebagai pribadi “penurut”, dan puncaknya wawancara dengan Oprah, yang mengguncang itu.
Kami Bukan Keluarga Rasis
Pernyataan yang disampaiakan keduanya dalam wawancara dengan Oprah Winfrey, itu sebenarnya hal biasa saja, tapi tidak bagi Meghan-Harry.
Meghan mengatakan, bahwa saat itu ia baru melahirkan anak pertamanya, Archie, lalu ada yang mengatakan, “Seberapa gelap kulit anak putri Meghan dan Pangeran Harry.”
Di benak mereka berdua, kalimat itu menjadi sesuatu, dan itu rasis. Sakit hati keduanya terpendam sekian lama, meletus diumbar pada wawancara itu.
Keduanya tetap tidak membuka siapa pribadi yang mengatakan perkataan itu, meski Oprah mencoba menguliknya. Perkataan, seberapa gelap kulit anak Putri Meghan dan Pangeran Harry, itu bisa menjadi sesuatu.
Istana Buckingham lewat pres rilis, dan itu pernyataan resmi Ratu Elizabeth mengatakan, bahwa keluarga merasa sedih dengan betapa sulit kondisi pasangan itu, selama beberapa tahun ini.

Sang kakak, Pangeran William, menyatakan sikap, “Kami sama sekali bukan keluarga rasis.” Ia berjanji akan mengontak sang adik, Pangeran Harry.
Kakak beradik, anak pasangan Pangeran Charles dan Putri Diana, memang memiliki kepribadian dan sikap berbeda di antara keduanya.
Sang kakak, Pangeran William, sikapnya memang layak sebagai Pangeran, menjaga tata krama khas kerajaan. Pantas kelak mewarisi tahta sebagai Raja Britania Raya.
Setelah kematian Putri Diana dalam kecelakaan mobil bersama Dodi al-Fayed yang tragis itu, Pangeran Charles mengawini seorang janda, yang usianya juga lebih tua darinya, Camilla Shand.
Tampaknya Pangeran Harry mewarisi “bakat sang ayah”, juga “perangai sang ibu”. Kadang genetik mewariskan pada anak turunan sikap-sikap hidup, yang sebenarnya tidak ingin dipilihnya. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi