Selasa, 28 April 2026, pukul : 00:45 WIB
Surabaya
--°C

Pengakuan Sumiati

KEMPALAN: Sindhu kembali mengerjakan tugasnya sebagai kepala desa. Tidak lupa dia bergaul dengan masyarakat,termasuk sholat di mesjid. Siang tadi habis Jumatan dia mendapat teguran dari imam sholat yang mengenalnya dengan baik.

“Pak lurah kapan tindak kaji?” tanya pak Rahmat Imam mesjid di desanya.

“Wah pak haji kok tumben nanya begitu?”

“Lho ini bentuk kepedulian saya ke Pak Lurah. Kan sudah lengkap, jabatan sudah, keluarga sudah, pekerjaan juga lancar. Sudah waktunya Pak lurah naik haji.”

“Terima kasih pak haji…Saya masih dalam keraguan. ”

“Keraguan gimana toh? Itu kan rukun Islam. Wajib bagi yang mampu. Lha Pak lurah jelas mampu dari sisi ekonomi dan juga fisik.”

“Iya betul pak haji. Yang belum ada itu niat dari dalam hati.”

“Wah gimana to, orang lain yang nggak punya uang pada berharap bisa haji. Kok njenengan malah belum niat?”

“Nah itulah Pak haji. Saya ngomong jujur. ”

“Ya diniaiti,nanti kan pasti ada jalan.”

“Iya pak terima kasih. Saya masih pingin menuntaskan pembangunan desa kita.   Anak2 muda harus diberi kesempatan tampil. Saya ingin ada lomba olah raga antar kampung. Entah volley, badminton atau catur. Biar mereka nggak terjebak minuman keras. Bakatnya harus diberi jalan dan dibuat sibuk biar pikirannya nggak kemana-mana.”

“Wah kalau mikir itu nggak ada habisnya Pak lurah. Cepat diniatkan saja.”

“Ya tapi siapa lagi yang harus mikir itu pak haji?”

“Tapi Bapak kan pak lurah, harus jadi contoh seorang muslim yang baik. Apalagi jika nanti ingin maju jadi bupati. Ini modal besar mendulang suara pak lurah.”

Sindhu makin kaget. Kalau lah suatu saat dia naik haji, dia harus memastikan bahwa niatnya bersih bukan politis atau ada pamrih lain.

Kemudian mereka terpisah diujung jalan. Sindhu menuju ke tokonya.  Pak haji Rahmat pulang ke rumahnya. Pak haji  jelas belum memahami jalan pikiran pak lurah. Bagi dia sederhana saja. Puncak dari semua ibadah adalah haji.

Sementara Sindhu tidak demikian. Haji bisa nanti, lebih penting baginya mengembangkan masyarakat.

*

Sampai di toko Sindhu menyampaikan kepada Sumi perihal pembicaraannya dengan Pak Haji Rahmat. Sumi pun ternyata punya ide untuk menghajikan bapak ibunya. Sudah saatnya mereka melaksanakan rukun Islam ke 5 itu karena usia makin tua dan ekonomi mereka aman.

Ini juga sebagai bukti bakti anak ke orang tua.

” Mbok, simbok sama bapak munggah kaji ya…”, tanya Sumi dengan nada menawari ketika sedang jaga toko.

” ora nduk…nggak usah.”, sahut Lik Kartiyem.

” Loh sudah waktunya mbok. Simbok wis tambah sepuh, harus mendekatkan diri pada Gusti Allah.”

” Bukan masalah nggak mau dekat nduk. Simbok bukan orang alim. Simbok sama bapakmu nggak pantes menyandang gelar haji…”

” Setiap orang berhak mbok. Dan, wajib..” kata Sumi.meyakinkan.

” Iya tapi simbok nggak sreg.”

” Mungkin simbok belum siap. Kaget. Didaftarkan dulu mbok. Berangkatnya kan masih tahun depan.”

Lik Kartiyem diam. Dia seperti menyimpan sesuatu.

Tapi berat diungkapkan.

“Gimana mbok?”

” Sik tak pikir dulu..”

Sumi tidak menyangka malah mboknya nggak mau naik haji.

Dia akan membicarakan dengan Sindhu soal ini.

*

Suatu malam kembali Sumi membicarakan rencana itu dengan suaminya.

” Simbok nggak mau kutawari naik haji mas.”

” Oh gitu? sudah kau jelaskan?”

” Iya. Apa ibu saja?”

” Ibu juga belum tentu mau. Tapi coba nanti kusampaikan.”

” Kita sendiri kapan mas?”

” Aku belum punya niat. Apa kamu sama ibu?”

” Eh kenapa belum niat?”

” Ya belum niat, belum pingin.”

” Ini kewajiban mas, bukan soal pingin.”

” Iya aku nggak mau menjalankan amalan dengan keterpaksaan.”

Sumi kaget. Dia baru paham. Selama ini memang banyak amalan dia kerjakan karena perintah. Kalau boleh jujur dia juga belum menangkap esensi dari amalan. Banyak amalan yang tidak merubah dirinya jadi orang yang lebih baik.

” jangan2 simbok mikirnya kayak kamu ya mas?”

” Bisa saja. Jangan anggap orang2 sederhana kayak simbok itu nggak tahu soal ketuhanan atau spiritualitas lho. Diam2 bisa jadi mereka lebih bijak mikirnya dari kita.”

” Hmm..bener juga mas. ”

Diskusi selesai sementara. Mereka lalu tidur. Gangsar sudah sejak tadi tidur.

*

” Pak mosok kita ditawari munggah kaji. ” Lik Kartiyem ngajak ngobrol suaminya.

” Wis ora pantes. Kita kan bukan orang2 alim. Baca arab aja nggak jelas kok mau naik haji.”

” Lha yo to. Kita ini lebih baik hidup rukun saja sama tetangga. Kalau punya rejeki kita bantu saudara kita, tetangga kita. Masih banyak yang butuh bantuan.”

“iya mathuk. Gusti Allah itu bersama mereka yang kurang beruntung. Kita harus sering menjenguk mereka. Asal kita dulu juga dari sana.”

Lik Kartiyem segera menyudahi pembicaraan malam itu.

Lain waktu Sindhu mendatangi ibunya untuk menawarkan hal yang sama.

” Le ibu ora sah haji. Haji ki untuk yang mampu.”

” Kita yang membiayai buk.”

” Ibu maunya dari hasil keringat ibu sendiri.”

” Loh aku kan anakmu buk.”

” Tapi pemahaman ibu nggak begitu. Biarkan ibu nggak kaji nggak papa. Ibu nyaman kok beribadah seperti biasa.”

Sindhu pun bingung. Orang2 pada nolak dihajikan. Ya tapi dia maklum karena ibadah itu sesuatu yang personal.

” Le duitmu untuk nyumbang fakir miskin saja. Banyak lho tetangga perlu bantuan. ”

Lagi2 Sindhu kaget dengan pemikiran bu Padmo.

Dia kadang juga berpikir begitu. Tapi takut pikiran begitu disalahkan. Baginya kurang elok menikmati ibadah dengan biaya mahal sementara banyak yang bisa dibantu dengan uang itu. Apalagi dia lurah yang bisa menyalurkan dana itu dengan mudah. Tuhan apa harus ditemui lewat ibadah yang mahal? Itu mengganggu pikiran Sindhu.

Konon Sultan Agung tidak pernah mau naik haji. Dia malah bikin cerita bisa naik haji tanpa raga. Sukmanya saja yang ke Mekkah.

Ah mungkin Sultan Agung punya logika yang sama meski hidup di masa beberapa abad lalu. Tapi kabarnya Sultan Agung tidak mau menghamba pada Arab. Tapi Sindhu takut itu hanya dongeng bukan cerita nyata. Haji bukannya menghamba pada Tuhan, kenapa  dihubungkan dengan Arab?

Ya Sindhu masih mencari hidayah hingga akan ada niat suatu saat nanti untuk pergi haji. (Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya/bersambung)

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.