Keluar dari Blok Uni Eropa, Seniman Inggris Resah dan Kecewa
KEMPALAN: Dilematis, skeptis, dan problematis dirasakan oleh para seniman inggris terhadap keluarnya negara Inggris dari Uni Eropa. Adanya pandemi Covid-19 semakin memperkeruh industri ini pada posisi yang kritis. Dampak dari Brexit secara gamblang membuat para musisi ketar-ketir dengan berbagai birokrasi dan regulasi yang terkesan sulit dan berpotensi menghabisi sektor industri seni.
Sejak negara Inggris bercerai kongsi dengan Uni Eropa pada akhir tahun lalu, masyarakat inggris tidak bisa secara bebas untuk dapat tinggal dan bekerja di negara yang terdaftar menjadi struktural anggota blok Uni Eropa.
Hal ini secara nyata menyebabkan seniman inggris harus mematuhi segala aturan dan regulasi yang memiliki diferensiasi dalam 27 negara Uni Eropa. Yang bersangkutan harus melakukan transaksi serta negosiasi perihal visa untuk artis dan izin peralatan.
Biaya dan birokrasi yang tidak praktis, membuat para seniman inggris nihil untuk tampil di benua biru. Situasi dan kondisi yang pelik diproyeksikan dapat membahayakan status negara Inggris sebagai pusat kesenian dunia.
Lebih dari 100 musisi Inggris secara kolektif menyampaikan surat terbuka kepada pemerintah. Dimana meraka mengatakan bahwa aturan imigrasi pasca Brexit akan mengharuskan musisi membayar ratusan poundsterling untuk mengisi formulir yang akan menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk menunggu persetujuan dari pihak yang bersangkutan.
Melalui surat terbuka tersebut, para pekerja seni mendesak agar Boris Johnson selaku Perdana Menteri Inggris, untuk meratifikasi dan menegosiasikan persyaratan baru dengan Uni Eropa.
“Tidak bertindak sekarang bisa menimbulkan bahaya lebih lanjut dan akan menghancurkan tenaga kerja kreatif Inggris, industri kami, dan posisi kami di panggung budaya Internasional,” Tertulis di surat tersebut mengutip dari The Associated Press.
Aktor kawakan, Patrick Stewart dan Ian McKellen, juga secara tegas memberikan peringatan kepada Perdana Menteri Inggris, Boris Jhonson. Mereka meminta agar pemerintah dapat mempermudah seniman Inggris untuk mengunjungi negara blok Uni Eropa tanpa menggunakan visa. Karena jika tidak, sangat dikhawatirkan sektor budaya Inggris akan mengalami kerusakan yang instan.
“Kami akan kehilangan bagian yang sangat penting dari ekonomi kami, kecuali pemerintah dapat mengatur perjanjian pembebasan visa,” ucap Deborah Annets, kepala eksekutif Incorporated Society of Musicians, kepada Komite Budaya, Media, Olahraga Parlemen.
Pemerintah Inggirs mengatakan bahwa kesepakatan keluarnya negara Inggris dari Uni Eropa tidak dapat dinegosiasikan ulang. Namun, pemerintah berjanji akan mengupayakan kesepakatan bilateral untuk seniman yang akan melakukan tour dengan anggota Uni Eropa individu. (rafi aufa mawardi)
