Kamis, 23 April 2026, pukul : 06:23 WIB
Surabaya
--°C

Radikal, Radikalisme, Radikalisasi, Mana yang Benar? Memahami Konsep dari Pakarnya

Judul buku: Radicalization
Penulis: Farhad Khosrokhavar
Peresensi: Reza Maulana Hikam
Penerbit: The New Press

Istilah radikal dan radikalisme seringkali digunakan berkenaan dengan pembahasan mengenai tindak terorisme, seperti kedua istilah itu merupakan prasyarat bagi terorisme. Nampaknya teroris atau kelompok teroris yang belum melakukan tindakan terorisme adalah orang radikal atau kelompok radikal. Kegagalan untuk memahami istilah radikal sendiri jatuh pada pemerintah Indonesia sendiri yang menuding semua kelompok yang tidak selaras dengan kebijakan pemerintah sebagai individu/kelompok radikal. Bahkan mantan ketua umum dari organisasi Muhammadiyah sempat dituding radikal oleh kelompok yang kurang jelas.

Kegagalan masyarakat Indonesia dalam memahami istilah radikal, radikalisme, dan radikalisasi disebabkan karena minimnya bahan bacaan berkenaan dengan tema tersebut. Mungkin belum banyak yang mengenal nama Farhad Khosrokhavar, profesor di EHESS kelahiran Iran yang memiliki kepedulian terhadap kajian Islam dan penggunaan istilah radikal sehingga menuliskan bukunya, Radicalization: Why Some People Choose the Path of Violence.

Dalam bukunya, Farhad lebih suka menggunakan istilah radikalisasi yang menggambarkan sebuah “proses.” Ia memaknai radikalisasi sebagai proses di mana seorang individu atau kelompok mengadopsi tindak kekerasan yang secara langsung berhubungan dengan ideologi ekstrim dengan sebuah isi yang bersifat politik, sosial, atau keagamaan yang melawan tatanan yang sudah mapan dari tingkatan politik, sosial maupun kebudayaan.

Karena istilah radikalisasi tidak jauh-jauh dengan teroris, berbeda dengan radikalisme dan radikal yang terlalu umum untuk diterapkan pada kajian keamanan, maka sejarah radikalisasi sendiri juga berkaitan dengan terorisme, seperti yang dibahas oleh Farhad, di mana studi kasus sejarah radikalisasi ia memilih menggunakan Hassassin yang melakukan pembunuhan terhadap Wazir Kesultanan Seljuk, Nizam Al-Mulk pada 1092. Hassan-i-Sabah, pemimpin kelompok itu, menggunakan gabungan antara indoktrinasi dengan idelogi yang radikal (Syiah Ismailisme) dan sektarian, maka para pengikutnya rela untuk berbuat apapun. Ini sama halnya dengan para anarkis pada abad kedelapanbelas, dimana anarkisme dipadankan dengan kata terorisme.

Namun Farhad sendiri lebih memfokuskan pembahasannya pada radikalisasi dari masyarakat relijius, utamanya umat Islam. Umat Islam yang masuk dalam lingkup ter-radikalisasi ialah mereka yang menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompok yang sedang dipojokkan di dunia internasional: Islam yang dikarakteristikkan sebagai “agama dari mereka yang tertindas.” Radikalisasi sendiri akan semakin menjadi-jadi ketika mereka merasakan ketidakadilan, sementara mereka juga merasa bahwa reformasi tidak bisa membantu menyelesaikan masalah keadilan.

Pada dasarnya, radikalisasi membutuhkan imajinasi dan kesadaran dari pribadi yang akan masuk ke dalam dunia ekstrim, hal ini akan semakin kuat ketika pribadi itu menemukan keterkaitan hidupnya dengan ajaran tertentu yang disampaikan entah melalui sesama manusia secara langsung, kelompok tertentu, media sosial atau internet dan utamanya, hubungan dengan orang yang sudah ter-radikalisasi, ditambah dengan pemberian identitas kepada pribadi tersebut sehingga mudah mengidentifikasikan musuhnya.

Buku ini terdiri dari sebelas bagian: Introduction: The Notion of Radicalization; The History of Radicalization; Islamist Radicalization in the Muslim World; The Jihadist Intelligentsia and Its Globalization; The Web; Financing Radicalization; Sites of Radicalization; The Ambiguous Role of Frustation in Radicalization; The European Model of Radicalization; The New Radicalism on the March; dan Radicalization versus Deradicalization. Bagi para pembaca yang mendalami tentang terorisme, agar tidak bias dalam menggunakan istilah, buku ini wajib hukumnya untuk dibaca. Penggunaan istilah yang digunakan juga tidak terlalu rumit, namun masih akademis, jadi bukan tergolong buku non-fiksi, tapi buku untuk kuliah. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.