TBILISI–KEMPALAN: Dalam sebuah wawancara dengan Current Time yang dikutip dalam Radio Free Europe/Radio Liberty pada Rabu (24/2), mantan Presiden Georgia, Mikheil Saakashvili menyatakan bahwa ia tidak terkejut dengan krisis politik yang melanda negaranya. Hal itu adalah hasil dari tindakan keras terhadap oposisi pemerintah yang berkuasa.
Saakashvili yang merupakan pendiri United National Movement dan pernah menjadi Presiden Georgia pada tahun 2004 hingga 2013 pernah memimpin protes damai bernama Rose Revolution (Revolusi Mawar) pada tahun 2003, mengatakan bahwa penangkapan Melia adalah upaya terbaru dalam memojokkan oposisi.
“Awalnya mereka memblokade upaya saya untuk kembali ke negara saya dengan dalih kasus kriminal yang dibuat-buat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa ketika dirinya tidak mampu memimpin partai itu, maka UNM memilih Melia untuk memimpinnya, lalu mereka menangkapnya juga dengan dalih yang mengada-ada.
Menurutnya, tidak hanya Melia, tapi ada sejumlah orang lain dari partainya yang dipersekusi oleh pemerintah sementara sejumlah lainnya melarikan diri dari Georgia.
“Saya rasa, apa yang terjadi dalam 24 jam terakhir telah terjadi selama beberapa tahun terakhir. Dan apa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir hanyalah titik puncak dari apa yang terjadi pada tahun-tahun terakhir ini. Model Rusia – Belarusianisasi – telah diperkenalkan kepada Georgia. Tapi apa yang dapat anda harapkan ketika oligark mengambil alih kekuasaan,” tambahnya.
Mantan presiden itu membandingkan keadaan Georgia dengan apa yang terjadi di Rusia dan Belarus dimana pemerintah juga mempersekusi kelompok oposisi. “Semuanya: penahanan, intimidasi, pemerasan terhadap oposisi, retorika pihak berwenang – semuanya sama persis,” tambahnya. (RFE/RL, Reza Maulana Hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi