Dari Walikota Solo Kembali Jadi Tukang Las

waktu baca 5 menit
Hadi Rudyatmo di bengkelnya. Dia kembali menekuni pekerjaannya sebagai tukang las.

KEMPALAN: Ini contoh pejabat yang tidak ketularan penyakit pensiun post power syndrome. Hanya selang tiga hari setelah lengser dari jabatannya sebagai walikota Solo FX Hadi Rudyatmo langsung balik menekuni pekerjaannya sebagai tukang las di bengkelnya.

Hadi Rudyatmo putra asli Surakarta kelahiran 13 Februari 1960 menjadi wakil walikota satu periode dan menjadi walikota dua periode.

Ia sekarang pensiun dan gantikan oleh Walikota terpilih Gibran Rakabuming Raka, anak Presiden Joko Widodo.

Pak Rudy, sapaan akrabnya, bukanlah orang baru dalam panggung politik pemerintah Surakarta. Pertama kali menjabat sebagai Wakil Walikota Surakarta selama dua periode dari  2005-2012 mendampingi Joko Widodo sebagai walikota dan saat ini menjadi Presiden RI. Setelah itu menjabat sebagai Walikota Surakarta selama dua periode  2012-2015 dan 2016-2021.

Menurut penuturannya, saat ditemui di bengkel las tempatnya bekerja, kolega-kolega di pemerintahan kurang setuju dengan apa yang dia lakukan karena posisinya sebagai mantan walikota.

“Lah terus saya harus ngapain? Bisanya cuman ngelas, nukang kayu, nukang batu. Kemampuan yang Tuhan berikan kepada saya, bagi saya wajib untuk saya lakukan, selama masih bisa,” tuturnya menggunakan bahasa Jawa dengan tersenyum.

Rudy bercerita bahwa bengkel las tersebut telah beroperasi sejak 25 tahun yang lalu, dan saat ditanya apakah melayani pemerintahan, ia menjawab dengan tersenyum bahwa tidak melayani pekerjaan dari pemerintah, jika pun ada harus sesuai prosedur yang ada seperti pengerjaan ring basket yang ada di kantor pemerintahan.

Setelah resmi purna tugas, rumahnya ramai dikunjungi kolega-koleganya di pemerintahan.

“Ya masih ramai, banyak tamu sampai nanti malam, ya kadang ada yang nangis, ada yang berterimakasih segala macem,” tuturnya seraya tertawa.

Selain kembali menjadi tukang las, dia juga menekuni beberapa pekerjaan lain yaitu pengumpul kertas dan kardus bekas.

Saat ditanya apakah bersedia untuk kembali menjadi walikota, gubernur ataupun DPR, Rudy menolak pertanyaan tersebut dengan tersenyum.

“Yang namanya walikota itu ada aturannya, maksimal dua kali ya sudah cukup, sudah 15 tahun melayani masyarakat sudah cukup kenyang lah dengan suka dukanya. Sudah cukup tak jadi tukang las aja.” Jawabnya menggunakan bahasa Jawa seraya tertawa.

Rudy juga berharap bahwa masyarakat tetap mematuhi dan menjalankan protokol kesehatan 5M, menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan membatasi mobilitas.

Selama menjadi wali kota Rudy dikenal sebagai pemimpin yang memiliki semangat untuk memperjuangan “wong cilik”. Dalam menyelesaikan sebuah persoalan dan problematika, Rudy selalu mengimplementasikan tiga prinsip, yakni mendengar, melihat, dan berbuat. Rudy dikenal sebagai seorang pemimpin yang komunikatif dengan warganya. Bahkan, setiap harinya ada 200 telepon dari masyarakat yang senantiasa didengarkan dengan seksama oleh Rudy. Ada yang mengeluh soal biaya rumah sakit, biaya sekolah, atau hanya sekadar memberikan informasi mengenai proses pelayanan publik.

Rudy memamerkan aktifitas purna tugas tersebut melalui akun Instagramnya  @fx.rudiyatmo. Hal ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan dari warga yang penasaran soal kegiatan apa yang dilakukan setelah tidak menjabat.

Ia mengatakan, “Katah sing tanglet, kegiatane kulo nopo mawon upami pun mboten dados walikota? Lha niki kulo jawab, salah satu kesibukane yaiku mbaleni gawean lawas dados tukang las” (Banyak bertanya soal apa saja kegiatan saya seandainya tidak menjadi walikota? Ya, ini saya jawab, salah satu kesibukan saya yaitu mengulangi pekerjaan lama menjadi tukang las, Red).

Bengkel bernama Mitra Tama itu didirikan bersama dengan salah satu teman Rudy 25 tahun silam.  Namun, sejak menjadi pejabat,  Rudy sudah tidak lagi ikut mengurusi bisnis tersebut.

Sebagai lulusan Sekolah Teknik Menengah (STM), mengelas memang sudah lama menjadi keahlian Rudy. Bekerja di PT Konimex, sebuah perusahaan farmasi dan makanan yang cukup terkenal, membuat Keahlian mengelas Rudy semakin berkembang.

Saat ditanya perihal pendapat para koleganya di pemerintah, Rudy mengatakan bahwa banyak yang menyayangkan keputusannya untuk kembali menjadi tukang las, namun baginya kembali bekerja sebagai tukang las tidaklah memalukan karena itu merupakan anugerah yang diberikan tuhan kepadanya.

Ya kolega-kolega komentarnya, wong bar dadi walikota kok te ngelas, mbok ojok toh pak, kan begitu. Lah terus kongkon opo aku?  wong aku iso ku ngelas, tukang kayu, tukang batu,  kan begitu. ya kemampuan yang diberikan tuhan kepada saya, bagi saya wajib saya lakukan, selama masih bisa”  (Ya kolega-kolega berkomentar bahwa orang habis jadi walikota kok kerja ngelas gitu pak, yang jangan lah pak. Lah terus saya suruh ngapain? Orang saya bisanya ngelas,  jadi tukang kayu, tukang batu,  kan begitu. ya kemampuan yang diberikan tuhan kepada saya, bagi saya wajib saya lakukan, selama masih bisa, Red)

Rudy juga menjelaskan bahwa pekerjaan tukang las mungkin terlihat remeh, namun tidak baginya. Rudy berpendapat bahwa menjadi tukang las bukan pekerjaan asal-asalan. Ia bahkan menganggap seorang tukang las sama seperti seniman.

Selain itu, imbuh Rudy, secara filosofi tukang las adalah pekerjaan mulia. Sebab, apa yang dikerjakan merekatkan sesuatu yang awalnya terpisah, kemudian disatukan menjadi bagian yang kokoh dan indah.

“Sinten sing ten mriki nate dadi tukang las? Ampun isin, kerjo sing tekun, sing rajin, sopo ngerti iso dadi wali kota (Siapa di sini yang pernah menjadi tukang las? Jangan malu, kerja yang tekun, yang rajin, siapa tahu bisa menjadi wali kota, Red).

Saat ditanya apakah masih banyak tamu yang datang selepas purna dari jabatan walikota, Rudy menjelaskan  “Oh ya masih banyak sampai hari ini, nanti malam masih ada. Ya, ada yang nangis, ada yang ucapkan terima kasih”.

Kemudian saat ditanya perihal kemungkian untuk melanjutkan karir politik menjadi gubernur atau DPR RI Rudy menjawab, “Oh sudah sudah, sudah cukup saya. Saya sudah 15 tahun melayani masyarakat, sudah cukup kenyang lah”

“Tak dadi tukang las neh wae, dadi tukang las lak yo oleh duwik to” (Tak kembali jadi tukang las saja. Jadi tukang las juga dapat uang kan, Red). (amf/ram/win)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *