Rabu, 22 April 2026, pukul : 03:00 WIB
Surabaya
--°C

Di Sumurgeneng pun Tak Terjadi Kepuasan Optimal

KEMPALAN: Menyebut nama Tuban, memori khalayak akan terngiang ke ratusan tahun silam, saat  Ranggalawe sang senopati “dianggap” memberontak Pemerintahan Majapahit. Hiruk-pikuk sejarah menulis itu dengan berbagai versinya, dan sekarang kembali sejarah mencatat bahwa di salah satu sudut kecil di wilayah Kabupaten Tuban yang berpenduduk 1,2 juta ini ternyata ada nama Sumurgeneng yang hari-hari ini begitu populer.

Padahal sebelumnya desa kecil di wilayah Kecamatan Jenu tidaklah terlalu mendapat perhatian publik, yang mungkin saja hanya dikenal oleh mahasiswa-mahasiswa yang sedang KKN disana. Adalah Grass Root Refinery (GRR) Kilang Minyak yang melibatkan Pertamina-Rosneft, perusahaan asal Rusia, telah menyulap kehidupan masyarakat Sumurgeneng.

Tidak menakut-nakuti warga dengan mendatangkan preman dan tanpa menakut-nakuti warga dengan klausul konsinyasi , namun lebih memilih opsi memberikan ganti untung yang sangat layak untuk pembebasan lahan sebagai bagian dari proyek besar yang akan dikerjakannya. Beberapa media menyebut rata-rata Rp 8 miliar adalah nilai yang diterima oleh warga, bahkan yang tertinggi ada di nilai Rp 24 miliar. Namun, disebut Camat   Jenu masih ada warga yang akan menerima di angka Rp 57 miliar.

Semua senang semua menikmati, dan Sumurgeneng pun sekarang menjadi cerita tersendiri. Di tengah babak belurnya daya beli masyarakat karena pandemi Covid-19 saat sekarang ini ternyata warga Sumurgeneng bisa berjalan dengan kepala tegak untuk menyelesaikan transaksi pembelian hampir dua ratus mobil berkelas yang tentu saja baru semua.

Bahkan seorang Branch Manager sebuah dealer ternama di Tuban mengatakan bahwa mobil yang paling banyak dipesan adalah kelas menengah keatas seperti Innova dan Fortuner. Tentu saja itu di kisaran Rp 400 juta sampai Rp 800 juta.

Avanza, sebagai mobil sejuta umat sudah tidak menjadi alternatif untuk dipilih. Meskipun ada juga warga yang pada saat membeli belum bisa menyetir. Lebih familiar mengendarai  traktor dalam kesehariannya, namun tidak sampai sehari sudah mampu menyetir mobil dan memberikan kesimpulan bahwa ternyata lebih nyaman menyetir mobil daripada menyetir traktor.

Apapaun sebutannya apapun istilahnya yang pasti saat ini Sumurgeneng adalah sebuah Desa Miliader dengan ratusan warganya yang memiliki daya beli super. Sepertinya istilah-istilah BPJS, BLT dan BSU untuk sementara waktu boleh dilupakan di desa ini.

Konsentrasi warga sementara waktu adalah menikmati apa yang memang menjadi hak-nya, meskipun Kepala Desa Sumurgeneng beberapa kali mengingatkan warganya agar uangnya digunakan untuk penggunaan produktif. Pembukaan usaha dan lapangan usaha baru.

Pertanyaannya, benarkah warga Sumurgeneng mengalami kepuasan optimal? Tunggu dulu, ternyata dalam tataran mikro ekonomi faktanya tidaklah demikian. Di Sumurgeneng sekarang tidak sedang terjadi yang namanya kepuasan optimal.

Indifference Curve (IC), dipahami sebagai kurva yang menunjukkan tingkat kepuasan. Kurva ini mempunyai pasangan, garis anggaran (budget line/BL), yang boleh dipahami sebagai kurva yang menunjukkan besaran anggaran yang dimiliki oleh konsumen. Kepuasan konsumen akan disebut optimal jika yang terjadi adalah IC bersinggungan dengan BL.

Gampangnya, pas konsumen membutuhkan barang dengan nilai tertentu ternyata konsumen memiliki uang dengan jumlah yang pas digunakan untuk membeli barang tersebut, di situlah kepuasan optimal terjadi. Yang terjadi di Sumurgeneng tidaklah demikian, konsumen memiliki daya beli berlebih, ini yang tidak dapat disebut sebagai sedang terjadi kepuasan optimal.

Pun demikian sebaliknya, jika anggaran konsumen tidak mencukupi yang berakibat konsumen tidak mampu membeli barang yang diminatinya. Kepuasan optimal juga tidak terjadi.

Catatan makro ekonominya, dengan hampir 200 mobil menengah atas terbeli berarti Desa Sumurgeneng sudah kehilangan sekitar Rp 120 miliar peluang pergerakan ekonomi, karena uang ini bergeser keluar dari Tuban. Akan sangat bermanfaat jika uang masyarakat Sumurgeneng diputar tetap di wilayah itu, akan mampu menciptakan multiplier effect yang lebih berguna bagi masyarakat sekitar dibanding jika uang itu harus terbang ke wilayah lain.

Tapi apapun, semua itu adalah pilihan, silahkan. Selamat untuk warga Sumurgeneng, dan hati-hati di jalan dalam berkendara. (Bambang Budiarto–Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.