Jumat, 1 Mei 2026, pukul : 16:24 WIB
Surabaya
--°C

KPR DP 0%, Blangkon dari Pak Gubernur BI

KEMPALAN: Blangkon sering dipahami sebagai tutup kepala yang terbuat dari kain batik dan sering  digunakan oleh kaum pria. Sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa, masyarakat mengenal ada blangkon Ngayogyakarta, Surakarta, Kedu, dan Banyumasan. Hampir seluruh tipe blangkon menggunakan tonjolan atau mondholan atau bendol pada bagian belakang yang menandakan model rambut pria masa dulu yang sering mengikat rambut panjangnya  di bagian belakang kepala.

Hal ini yang mengakibatkan bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon atau bendol. Karena tempatnya di belakang kepala, masyarakat sering menyebutnya sebagai “mbendol mburi”, tonjolan atau bendolan yang ada di belakang. Blangkon, rapi rata didepan, tapi bendol di belakang.

Obrolan warung kopi di masyarakat kita mengibaratkan blangkon yang “mbendol mburi” sebagai suatu situasi yang aman lancar-lancar saja di awalnya atau di depan namun rentan memunculkan masalah di belakang hari. Itulah harfiah mbendol mburi.

Menjelang berakhirnya Kuartal I/2021, sepertinya pemerintah betul-betul secara serius merapatkan barisan. Seluruh instrumen PEN dikerahkan guna menggairahkan pergerakan ekonomi masyarakat. Setelah peluncuran relaksasi pajak berupa penghapusan PPnBM untuk pembelian mobil baru ber-kubikasi di bawah 1.500 CC  per 1 Maret 2021 dengan evaluasi tiga bulanan, menyusul yang berikutnya adalah program Loan to Value (LTV) dan Financing to Value (FTV) dengan beberapa syarat dan ketentuannya.

Diumumkan langsung oleh Gubernur Bank Indonesia dan efektif juga akan berlaku per 1 Maret 2021. Masyarakat tidak terlalu ambil pusing dengan pemahaman LTV dan FTV, istilah-istilah keuangan yang digunakan untuk menyebut ukuran pinjaman dibandingkan dengan nilai properti yang akan dijadikan agunan.

Masyarakat lebih menangkap berita baiknya, bahwa per 1 Maret bisa mengajukan KPR dengan uang muka (down payment) 0%. Bagi masyarakat, mimpi untuk dapat memiliki rumah sendiri akan lebih mudah terwujud. Bagi dunia usaha, mimpi untuk dapat menyaksikan unit bisnisnya terus berkembang dapat terealisasi. Bagi pemerintah, mimpi untuk segera menyaksikan pemulihan ekonomi nasional bakal segera jadi kenyataan. Itulah  mimpi-mimpi yang diharapakan segera datang kehadirannya.

Namun ada satu catatan, khususnya bagi masyarakat yang akan mencoba untuk menikmati DP 0%. Berbeda dengan Relaksasi Pajak berupa penghapusan PPnBM, yang memang nyata masyarakat dapat  melihat salah satu bentuk “penurunan harga jual mobil”. Efek positifnya langsung terasa bagi masyarakat karena tidak lagi terbebani biaya PPnBM.

Sementara untuk program LTV dan FTV dengan wujud DP 0%, secara sederhana dapat dipahami bahwa harga unit rumah tidak berubah (baca: turun). Masyarakat mendapati kemudahan dalam transaksi di awal pembelian properti, mulai pemesanan unit sampai realisasi.

Pada gilirannya yang harus disadari adalah bahwa mendapat persetujuan KPR ibarat mengikuti sebuah marathon, lama dan melelahkan. Semakin lama semakin berat rasanya memenuhi pembayaran cicilan setiap bulannya.

Jika yang disasar adalah keluarga muda, biasanya masih di kisaran usia 25 – 30 tahun. Tentu saja memerlukan unit rumah sebagai pengejawantahan membangun sebuah keluarga. Perjuangan yang utama pastilah bagaimana caranya bisa mendapat rumah, dan program LTV & FTV ini adalah angin surga untuk itu. Setelah hitung-hitung ulang, diberanikan diri masuk pengajuan KPR dengan DP 0%.

Ingat, seperti sebuah marathon, cukup lama dan di tengah jalan dimungkinkan munculnya biaya-biaya yang mengiringi perjalanan mendampingi berartnya cicilan KPR; biaya persalinan, biaya perawatan kesehatan anak, biaya sekolah, renovasi rumah, dan lain-lain biaya yang sangat setia mendampingi cicilan KPR tadi. Hal inilah yang harus dipertimbangkan sejak awal oleh calon pembeli properti yang akan mengajukan KPR dengan DP 0%.

Jangan sampai melihat semua fasilitas dan kemudahan ini seperti blangkon. Kelihatan mulus rata dan baik-baik saja didepan tapi ternyata mbendol mburi, babak belur di belakang. Membayar cicilan dengan jumlah yang sama rasanya semakin lama semakin berat, benarkah? Mari kita tunggu jawabnya dengan melihat fakta beberapa tahun ke depan, dan jangan lupa tetap memakai blangkon supaya tetap ingat beban cicilan. Salam. (Bambang Budiarto– Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.