SURABAYA – KEMPALAN: Upaya penyembuhan pasien Covid-19 melalui terapi plasma konvalesen diyakini sangat efektif. Pasalnya, berdasarkan laporan dari beberapa rumah sakit yang telah melaksanakan terapi plasma konvalesen, efektivitas penyembuhan terhadap pasien Covid-19 bergejala ringan hingga sedang bisa mencapai hampir 100 persen.
Namun, menurut Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy, pelaksanaan terapi plasma konvalesen harus tepat, sehingga mendapatkan hasil yang efektif.
Karena itu, Muhadjir meminta kepada petugas kesehatan agar tidak menunda-nunda pasien Covid-19 untuk mendapatkan plasma. “Harus disegerakan. Jangan ditunggu sampai berat baru kemudian diplasma. Apalagi sudah kritis,” katanya saat menghadiri kegiatan donor plasma konvalesen di Kantor PLN Kota Surabaya dan UDD PMI Kota Surabaya, Selasa (16/2).
Menurut Muhadjir, apabila kondisi pasien Covid-19 sudah kritis, terlebih sampai melampaui badai sitokin, kemungkinan donor plasma konvalesen menjadi tidak efektif.
Sehingga, kata dia, diupayakan apabila sudah ada gejala sedang harus segera diinfus, dibantu dengan plasma. ‘Insya Allah hasilnya bagus,” ujarnya.
Kendati demikian, lanjut dia, pelaksanaan donor plasma konvalesen di berbagai daerah masih menghadapi tantangan. Utamanya yaitu kesulitan mencocokkan golongan darah antara pendonor dengan pasien Covid-19 sebagai penerima donor plasma konvalesen.
Diungkapkan, saat ini stok plasma konvalesen secara nasional masih sangat sedikit, hanya 159 kantong dengan berbagai macam jenis golongan darah. Sementara pasien yang antre untuk mendapatkan donor plasma konvalesen 626 orang dan yang sudah didistribusikan mencapai 17.133 kantong.
“Stok plasma kita masih sangat kurang. Karena itu, kita sedang kampanye besar-besaran untuk menarik para penyintas agar bersedia mendonorkan plasmanya,” harap Muhadjir.
Dia pun menjelaskan bahwa selain DKI Jakarta, Kota Surabaya memiliki angka jumlah pendonor paling tinggi. Hal itu disebabkan ketersediaan alat yang cukup, yaitu sebanyak 4 (empat) unit sehingga memudahkan pendonor memperoleh akses.
Lebih lanjut Menko PMK menjelaskan, pengaturan distribusi stok plasma konvalesen berlaku secara nasional. Misalnya, stok plasma konvalesen di Kota Surabaya bisa didistribusikan untuk membantu pasien Covid-19 di luar Pulau Jawa. Tidak mesti hanya untuk pasien di Kota Surabaya.
“Pengadaannya agar diatur lebih baik supaya tidak terjadi keterlambatan. Begitu pun dengan alat yang belum merata, akan kita sebar supaya merata terutama di luar Pulau Jawa,” tandasnya.
Pada kesempatan tersebut, Menko PMK bersama Menteri Sosial Tri Rismaharini juga sekaligus menyerahkan penghargaan kepada 2 orang pendonor plasma konvalesen sebanyak 10 kali atas nama Agus Eko Nirnowo dan Luki Handoko. Juga pendonor darah 243 kali atas nama Georgious Rudy Katopo, penggerak donor darah atas nama Totok Sudarto, dan beberapa pemberi bantuan atau donatur.
Selain itu, dilakukan pula penyerahan secara simbolis bantuan kemanusiaan berupa peralatan dan fasilitas donor plasma konvalesen dari instansi (PLN, PT Pelabuhan Indonesia III, PT Sinar Indah Kencana) kepada PMI. (*)
Peliput: Dwi Arifin

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi