Banjir Semarang, Dari Gesang sampai Waldjinah

waktu baca 6 menit
Stasiun Tawang, Semarang.

KEMPALAN : Banjir di Semarang dan Jawa Tengah sudah hidup lama dalam psyche masyarakat dan menjadi bagian dari kenangan kolektif suka maupun  duka. Bagi yang cukup senior tentu tahu atau hafal lagu “Bengawan Solo” gubahan maestro Keroncong, Gesang.

Bengawan Solo ada dalam ingatan bersama sebagai bagian dari urat nadi sosial dan ekonomi, sekaligus bagian dari penderitaan rutin berupa banjir “air mengalir sampai jauh” menenggelamkan apa saja, sebelum akhirnya “akhirnya ke laut”. Lagu itu, entah mengapa” mengalir sampai jauh dan digemari sebagian masyarakat Jepang. Lagu itu menjadi evergreen, tembang abadi, yang tetap dinyanyikan sampai sekarang.

Anda yang cukup senior mungkin masih ingat potongan tembang Jawa berjudul “Jangkrik Genggong” yang dinyanyikan penembang keroncong legendaris Waldjinah, dan menjadi hit di seluruh Indonesia pada 1980-an.

Potongan lirik syair itu berbunyi, “Semarang kaline banjir, ojo sumelang ora dipikir”. Secara harfiah artinya sungai di Semarang banjir, jangan gelisah bimbang, tidak perlu dipikir. Lagu ini bukan lagu mengenai Semarang yang kelelap banjir beberapa hari terakhir ini. Lagu ini sebenarnya adalah lagu mengenai anak-anak muda yang jatuh cinta, mengenai kesetiaan, dan patah hati.

Lagu memakai gaya pantun atau parikan dengan kalimat sampiran dan kalimat arti. Lagu ini temanya lucu. Meskipun bercerita mengenai jatuh cinta dan kekecewaan tapi ungkapan yang dipakai sederhana dan mengundang senyum sehingga tetap diingat dan dinyanyikan oleh para senior di berbagai acara.

Lagu ini menjadi relevan sekarang karena Semarang dan sebagian Jawa Tengah sedang dilanda banjir. Sekitar  Bandara Ahmad Yani terendam air sampai operasional dihentikan sementara. Stasiun kereta api Tawang juga terendam air dan rute kereta api dialihkan ke jalur lain.

Sebagai kota besar Semarang sudah menjadi langganan banjir sebagaimana kota-kota besar lainnya. Banjir akibat sungai yang meluap juga sudah menjadi fenomena umum sejak 1980-an, terbukti dari potongan bait lagu Waldjinah itu. Tapi, tidak seperti bunyi sampiran lagu yang mengatakan tidak usah gelisah dan tidak perlu dipikir, banjir Semarang ini membuat banyak orang gelisah dan kepikiran.

Banjir ini bukan hanya terjadi di Semarang tapi meluas di wilayah Jawa Tengah yang lain. Volume air dan luasnya wilayah yang terendam tentu harus dipikir dan pantas membuat gelisah, terutama karena fenomena banjir besar ini terjadi juga di wilayah-wilayah lain di Indonesia. Daerah-daerah yang sebelumnya tidak dikenal sebagai pelanggan banjir tetiba sekarang dilanda banjir besar.

Kalimantan Selatan adalah salah satu wilayah yang tidak biasa kena banjir tapi tahun ini nyaris seluruh provinsi tenggelam. Foto udara dari drone menunjukkan luapan air yang masif, sejauh mata memandang yang terlihat adalah air dan air. Ibukota Banjarmasin yang mendapat julukan “Kota Seribu Sungai” sekarang menjadi kota seribu kolam karena nyaris seluruh penjuru kota terendam air.

Fenomena yang tidak biasa ini menunjukkan bahwa banjir bukan sekadar peristiwa alam karena curah hujan yang tinggi, tapi ada campur tangan manusia yang membuat bencana banjir sulit dikendalikan. Dalam kasus Kalimantan Selatan pengrusakan lingkungan dalam bentuk penggundulan hutan dan eksploitasi pertambangan yang berebihan membuat bencana makin buruk.

Banjir Semarang dan banjir yang lain juga mempunyai pola yang sama. Selain pengaruh alam ada juga pengaruh kebijakan. Kesadaran akan tata ruang dan wilayah, kesadaran akan lingkungan, menjadi persoalan serius. Daerah-daerah yang berfungsi sebagai resapan yang seharusnya dipertahankan ternyata dibabat dan diurug menjadi bangunan dan perumahan. Wilayah-wilayah yang tinggi seperti Puncak, Bogor pun diterjang banjir karena lahan-lahan sudah ditumbuhi bangunan-bangunan permanen.

Bencana ini mempunyai dampak jangka panjang yang devastating, menghancurkan, dan menentukan nasib peradaban manusia di masa depan. Sekarang ini manusia dibuat kelimpungan oleh bencana pagebluk Covid 19 yang memporakporandakan tatanan dunia dan membunuh jutaan manusia.

Di masa lalu pagebluk Black Death di awal abad ke-19 menyapu Eropa dan kematian yang diakibatkannya nyaris menghilangkan separuh penduduk Eropa. Diperkirakan 25 juta orang mati masal akibat pandemi itu. Flu spanyol, Spanish Flu, pada 1918 melanda seluruh dunia membunuh 20 juta sampai 100 juta manusia dan meluas sampai ke Indonesia.

Manusia merespons itu dengan cekatan. Paduan ilmu pengetahuan dan kebijakan poltik yang tepat melahirkan temuan vaksin yang bisa menjinakkan dan mengendalikan virus flu. Penyakit ini tidak pernah hilang tapi manusia sudah bisa hidup damai dengannya karena ilmu kedokteran sudah bisa mengatasinya. Hal yang sama diperkirakan akan terjadi dengan Covid 19 yang diprediksi akan berlangsung terus sampai 10 tahun kedepan. Kalau merujuk pada sejarah kemungkinan Covid 19 akan tetap ada tetapi temuan vaksin akan membuat manusia bisa menjinakkan dan menjadikannya seperti flu biasa.

Peradaban manusia bisa survive dan malah bisa berkembang maju setelah melewati bencana penyakit itu. Pendudukan orang kulit putih di Amerika Utara dan penjajahan bangsa Spanyol di Amerika Selatan semua membawa korban puluhan juta, bukan karena senjata saja, tapi karena penyakit menular yang ditularkan para kolonialis itu. Penyakit-penyakit ringan seperti campak dan cacar yang dibawa kolonialis kulit putih membunuh puluhan juta atau ratusan juta penduduk pribumi. Senjata biologis itu, entah sengaja atau tidak, telah menjadi senjata yang paling efektif untuk menghancurkan penduduk pribumi.

Setelah penyakit itu reda kolonialisme membawa kehidupan baru. Peradaban bisa bertahan, dan dalam kasus Amerika Utara bisa berkembang hebat dan menjadi kekuatan terbesar di dunia.

Sebaliknya, sejarah sudah menunjukkan bahwa peradaban-peradaban besar dunia tidak akan bisa bertahan terhadap bencana lingkungan. Peradaban yang hebat itu tersapu oleh bencana lingkungan dan musnah tanpa bekas dari peta peradaban dunia.

Jared Diamond, profesor geografi dan lingkungan, mendeskripsikan kehancuran peradaban besar dunia itu dalam “Collapse: How Societies Choose to Fail or Succeed” (2005). Bagaimana peradaban besar seperti Maya, Aztec, Pulau Paskah, Pictairn, Pulau Henderson dan Mangareva di Pasifik yang begitu tinggi teknologinya bisa hilang disapu zaman.

Jared Diamond melakukan penelitian di seluruh dunia dan ia mendapatkan kesimpulan yang sama. Peradaban besar itu amblas karena lima faktor: kerusakan lingkungan karena kekhilafan manusia, perubahan iklim yang ekstrem, permusuhan dari tetangga, berkurangnya sokongan dari tetangga yang bersahabat, dan respons masyarakat terhadap masalah lingkungan, masalah sosial dan politik.

Di antara faktor-faktor itu Diamond melihat faktor kesalahan pengelolaan lingkungan dan cuaca ekstrem sebagai penyebab signifikan kehancuran peradaban manusia. Diamond menyebutnya sebagai pilihan sebagaimana tersurat dalam judul buku, bagaimana masyarakat memilih untuk sukses atau gagal menghadapi tantangan itu.

Diamond menyimpulkan bencana lingkungan karena cuaca ekstrem akan menjadi penyebab yang sama bagi kehancuran peradaban modern sekarang. Ketika ia berdiri di Pulau Paskah ia merenung bagaimana manudia zaman itu bisa mendirikan patung batu setinggi ratusan meter dengan berat ratusan ton menjadi ikon pencakar langit. Sekarang ikon itu lenyap tanpa bekas. Ketika kembali ke New York Diamond membayangkan hal yang sama akan terjadi pada gedung-gedung pencakar langit di New York.

Setelah kita bisa mengatasi bencana pandemi bencana besar berikutnya adalah bencana lingkungan yang tanda-tandanya sudah ada di depan mata. Tentu saja kita tidak bisa seperti Waldjinah “ojo sumelang ora dipikir” jangan gelisah tak usah dipikir. Kita harus memikirkan problem lingkungan dengan sangat serius, berjangka panjang dan terkoordinasi.

Kecuali kalau kita memilih untuk memikirkan kepentingan praktis jangka pendek seperti pilpres 2024, misalnya. Kalau sudah seperti itu kebijakannya akan dangkal dan hanya akan mementingkan retorika dan pencitraan.

Ganjar Pranowo, gubernur Jateng, dan para pemimpin yang ingin nyapres di 2024 harus berpikir strategis jangka panjang dan jangan omdo, omong doang. Harusnya kita malu pada sindiran Waldjinah, “jangkrik genggong, luwih becik omong kosong”. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *