Selasa, 19 Mei 2026, pukul : 08:52 WIB
Surabaya
--°C

Sepak Bola Indonesia Terancam Mati, Alhadad: Presiden Harus Turun Tangan

DWI ARIFIN
Surabaya

Kompetisi Liga 1 dan 2 musim 2020/2021 akhirnya resmi dihentikan. Keputusan yang diambil dalam rapat Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Rabu (20/1/2021), dinilai sangat tepat oleh banyak kalangan.

Salah satunya adalah Mohammad Zein Alhadad, mantan legenda NIAC Mitra Surabaya dan Timnas Indonesia. “Menurut saya keputusan Exco PSSI ini sangat tepat,” katanya di Surabaya, Rabu (20/1/2021) petang.

Alasannya, karena pemberhentian itu memang yang dikehendaki oleh mayoritas klub, baik klub Liga 1 maupun Liga 2. Apalagi jadwal kompetisi terus mengalami penundaan dan tidak ada kejelasan. Sementara klub harus mengeluarkan biaya tidak sedikit untuk membayar gaji pelatih, pemain dan biaya operasional lainnya.

Namun demikian, pria yang akrab disapa Mamak Alhadad ini berharap agar PSSI segera memberi kepastian terkait kelanjutan kompetisi Liga 1 dan 2. Jangan terus dibiarkan berlarut-larut tanpa kepastian.

Untuk itu, ia menyarankan agar PSSI atau PT Liga Indonesia Baru (LIB) secepatnya melobi pihak kepolisian agar bisa mendapatkan izin penyelenggaraan kompetisi. Kalau tidak, Mamak Alhadad khawatir sepak bola Indonesia akan mati suri lantaran tidak punya kegiatan.

Ini setelah Timnas Indonesia U-19 yang seharusnya bertanding di Piala Dunia U-20 dan Piala AFC U-19 pada tahun 2021 ini, ternyata juga tidak jadi digelar dengan alasan pandemi Covid-19.

Begitu pula Piala AFC U-16 yang akan diikuti Timnas Indonesia U-16. Kejuaraan itu urung dilaksanakan karena penyebab yang sama. “Praktis tahun ini (2021) sepak bola Indonesia tidak punya agenda kegiatan alias vakum,” kata pria keturunan Arab ini.

“Kalau kompetisi sepak bola di luar negeri bisa berjalan meskipun dalam kondisi pandemi Covid-19, mengapa di negara kita tidak bisa,” ujar mantan pelatih Assyabaab Salim Group Surabaya, Deltras Sidoarjo dan Persija Jakarta ini.

Untuk melobi kepolisian itu, menurut Mamak Alhadad, PSSI atau PT LIB harus menunjuk orang yang benar-benar kompeten atau punya power untuk menjelaskan dan meyakinkan.

“Bila perlu Presiden harus turun tangan. Sebab kalau sampai kompetisi sepak bola di tanah air mandeg, itu merupakan kerugian yang sangat luar biasa,” tandas Mamak Alhadad.

Para stakeholder, lanjut Mamak Alhadad, juga harus siap menanggung risiko jika nantinya kompetisi Liga 1 dan Liga 2 musim 2021 bisa digelar tanpa penonton dan menggunakan protokol kesehatan ketat, seperti di luar negeri. “Artinya, kalau diputuskan tanpa penonton, ya harus dipatuhi. Jangan sampai dilanggar,” pintanya.

Agar bisa disaksikan masyararakat luas, maka pertandingan disiarkan langsung melalui televisi. Sedang bagi suporter yang tim kesayangannya sedang berlaga, bisa disiapkan layar lebar yang dipasang beberapa titik di luar stadion, sehingga bisa nonton bareng.

“Tapi tetap harus menerapkan protokol kesehatan, seperti menggunakan masker, jaga jarak dan cuci tangan pakai sabun,” pungkas Mamak Alhadad yang belakangan aktif menggelar pengajian di rumahnya, Jalan Kalimas Udik, kawasan Ampel, Surabaya. (pin)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.