Di tengah situasi ini, publik global dihadapkan pada pertanyaan klasik yang belum juga terjawab: apakah konfrontasi selalu menjadi jalan keluar, atau justru memperlebar lubang masalah?
Oleh: Massayik IR
KEMPALAN: Sebuah arsip koran lama bertanggal 13 April 1980 kembali beredar dan memicu perbincangan. Isinya menyoroti satu titik rawan dalam geopolitik energi dunia: Selat Hormuz.
Jalur sempit ini sejak dulu diibaratkan seperti “keran bensin dunia” – sekali diputar, dampaknya bisa terasa hingga dapur rumah tangga.
Dalam laporan tersebut, ancaman penutupan oleh Iran sudah dipetakan sebagai risiko serius bagi pasokan energi global. Ketergantungan banyak negara terhadap minyak dari kawasan Teluk membuat skenario ini bukan sekadar spekulasi.
Pertanyaannya, mengapa peringatan lama itu terasa seperti naskah yang kembali relevan hari ini?
Sejumlah analis menilai, selama beberapa dekade, para presiden Amerika Serikat cenderung berhitung ulang sebelum berhadapan langsung dengan Teheran.
Faktor ekonomi global dan stabilitas pasar energi menjadi pertimbangan utama. Ibarat sopir angkot di jalan sempit, salah manuver sedikit saja bisa bikin macet panjang ke mana-mana.
Namun dinamika berubah memasuki periode 2025–2026. Zionis Israel menemukan orang seperti Donald Trump.
Ketegangan pun meningkat, terutama dengan keterlibatan Israel dan aktor-aktor politik yang mendorong pendekatan lebih agresif. Apakah ini murni strategi geopolitik, atau ada skandal dan tekanan kepentingan lain yang bermain di belakang layar?
Keputusan untuk meningkatkan eskalasi terhadap Iran kini disebut-sebut mulai menunjukkan efek domino. Harga energi bergejolak, pasar global bereaksi, dan ketidakpastian ekonomi kembali menghantui.
Jika jalur distribusi energi adalah nadi ekonomi dunia, seberapa besar risiko yang siap ditanggung ketika nadinya ditekan?
Di tengah situasi ini, publik global dihadapkan pada pertanyaan klasik yang belum juga terjawab: apakah konfrontasi selalu menjadi jalan keluar, atau justru memperlebar lubang masalah?
Dan jika sejarah sudah memberi “bocoran soal ujian” sejak 1980, mengapa dunia tampak tetap memilih menjawab dengan cara yang sama?
*) Massayik IR, Pemerhati Politik Internasional

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi