PROBOLINGGO-KEMPALAN: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa secara resmi melakukan groundbreaking penataan Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Kabupaten Probolinggo, Senin (13/4).
Didampingi Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan Satyawan Pudyatmoko, Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha, serta kepala daerah setempat, Khofifah optimistis proyek ini mampu mentransformasi pengelolaan wisata Bromo menjadi lebih tertib, aman, nyaman, dan berkelanjutan.
Menurut Khofifah, JLKT akan menjadi jalur penghubung antarwilayah di sekitar kaldera Bromo sekaligus alternatif distribusi wisatawan agar tidak terpusat di satu titik. Dengan demikian, tekanan terhadap lingkungan dapat ditekan dan manfaat ekonomi lebih merata dirasakan masyarakat.
“Penataan ini bukan sekadar infrastruktur, tetapi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara daya dukung alam, lingkungan, serta kekuatan adat dan budaya masyarakat Tengger,” ujarnya.
Proyek JLKT dirancang sepanjang sekitar 13 kilometer dengan lebar 18 meter. Fasilitas pendukung meliputi tiga titik rest area, empat kantong parkir, 9.725 patok pembatas jalur, serta 60 sumur resapan untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Jalur ini juga tidak akan diaspal guna mempertahankan daya dukung alam kawasan.

Selain itu, Pemprov Jatim juga meresmikan sarana prasarana air bersih untuk menunjang kebutuhan wisatawan. Tangki berkapasitas 12.000 liter disiapkan untuk melayani kawasan rest area Watu Gede dan Cemoro Lawang, dengan pasokan dari mata air Pusung Jantur dan Widodaren.
Khofifah menegaskan, pembangunan JLKT dan fasilitas pendukungnya merupakan bagian dari visi besar pariwisata berkelanjutan Jawa Timur yang bertumpu pada tiga pilar utama, yakni pelestarian lingkungan, penguatan budaya lokal, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Kita ingin membangun Bromo dengan cara yang benar. Alamnya lestari, budayanya kuat, dan masyarakatnya sejahtera,” tegasnya.
Sementara itu, Dirjen KSDAE Kemenhut Satyawan Pudyatmoko menyatakan bahwa JLKT dirancang untuk memperkuat harmoni antara pengelolaan kawasan konservasi dengan nilai-nilai adat masyarakat Tengger.
“Desainnya sudah terintegrasi dengan pengembangan UMKM, rest area, dan jalur wisata, sekaligus menjaga kekuatan spiritual dan budaya setempat,” ujarnya.
Dengan dimulainya pembangunan ini, pemerintah berharap JLKT menjadi wajah baru pengelolaan kawasan Bromo yang berkelas dunia, namun tetap berakar pada kearifan lokal. (Dwi Arifin)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi