Ultimatum 24 jam Trump kemungkinan besar akan berakhir dengan kesepakatan di belakang layar yang menyelamatkan muka semua pihak. Namun luka ekonomi akan tetap terasa dalam hitungan bulan, bahkan tahun.
Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad
KEMPALAN: Sambil menyeruput kopi Liong Bogor, mari kita bedah dengan kepala dingin.
Ultimatum 24 Jam: Tekanan Psikologis, Bukan Strategi Militer
Ultimatum Presiden Donald Trump perlu dibaca sebagai tekanan psikologis, bukan doktrin perang. Seorang pemimpin negara adidaya biasanya tidak mengumumkan waktu serangan ke publik jika ia benar-benar berniat menyerang.
Pola serupa pernah terjadi terhadap Korea Utara pada 2017 dan Venezuela pada 2019. Nada keras, namun eksekusi tidak pernah terjadi.
Mengapa demikian? Karena menyerang infrastruktur sipil Iran secara sistematis berarti membuka pintu perang total. Dan perang total adalah skenario yang tidak diinginkan siapa pun, termasuk Pentagon sendiri.
Di balik publikasi ultimatum, fakta di lapangan menunjukkan adanya negosiasi intensif antara Washington dan Teheran melalui mediator Oman dan Qatar. Ultimatum menjadi alat untuk menekan Iran agar bersedia berunding dengan posisi yang lebih lemah.
Iran tampaknya memahami dinamika ini. Mereka tidak menunjukkan kepanikan berlebihan.
Yang patut dicermati, yaitu: jika ultimatum berlalu tanpa aksi militer, kredibilitas ancaman AS di masa depan akan dipertanyakan. Namun sebaliknya, jika Trump tersebut benar-benar menyerang, dunia akan memasuki babak baru yang penuh ketidakpastian.
Klaim Militer: Kebohongan sebagai Amunisi Perang
Dalam perang modern, informasi akurat sering menjadi korban pertama. Iran mengklaim telah menembak jatuh 12 pesawat AS. Tapi, Amerika Serikat hanya mengakui empat unit: satu F-15, satu A-10, dan dua helikopter Black Hawk.
Siapa yang benar? Kemungkinan keduanya tidak sepenuhnya jujur. Iran melebih-lebihkan untuk konsumsi domestik, menunjukkan pada rakyatnya bahwa mereka mampu “menghukum” musuh. AS meremehkan untuk menjaga moral pasukan dan citra global.
Angka sebenarnya mungkin berada di antara keduanya. Atau bisa juga tidak ada yang tahu persis, karena kedua pihak merahasiakan data intelijen mereka.
Yang pasti, kehilangan satu F-15 adalah pukulan signifikan bagi AS. Pesawat ini adalah tulang punggung armada udara tempur AS. Nilainya puluhan juta dolar. Jatuh di wilayah musuh berarti teknologi canggihnya berisiko jatuh ke tangan Iran.
Itu sebabnya AS dikabarkan mengebom lokasi jatuhnya sendiri. Bagi AS, lebih baik menghancurkan bukti daripada membiarkan Iran mempelajari radar dan sistem avionik F-15.
Indonesia Tidak Bisa Lagi Hanya Menonton
Inilah bagian yang paling tidak nyaman untuk disampaikan, tapi harus dikatakan.
Indonesia selama ini memiliki kebiasaan menjadi penonton dalam konflik global. Kita mengeluarkan pernyataan resmi berisi keprihatinan. Kita menyerukan untuk pengendalian diri. Lalu kita kembali ke rutinitas seolah tidak ada yang terjadi.
Kali ini, kebiasaan itu harus diubah. Penutupan Selat Hormuz secara langsung mengancam ketahanan energi Indonesia. Harga BBM dalam negeri berpotongan melonjak. Inflasi akan naik. Daya beli masyarakat akan tergerus.
Jika pemerintah tidak menyiapkan skenario darurat sejak sekarang, kita bisa menghadapi krisis multidimensi yang tidak kalah berat dengan krisis 1998.
Tiga Pelajaran untuk TNI dan Para Jenderal Indonesia
Dari konflik Iran-AS ini, ada tiga pelajaran penting bagi TNI.
Pertama, perang modern tidak diukur dari jumlah bintang di pundak, tetapi dari kesiapan teknis di lapangan. Seorang jenderal yang hebat dalam upacara belum tentu hebat dalam krisis.
Perang menuntut satu kecepatan mengambil keputusan, ketepatan intelijen, dan keberanian memikul risiko. Bukan soal jumlah staf atau kemewahan ruang rapat.
Kedua, pengalaman tempur tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh pendidikan atau kursus di dalam negeri. Sebagian besar jenderal Indonesia tidak pernah mengalami langsung pertempuran melawan musuh yang seimbang. Ini bukan aib jika diakui secara jujur. Yang menjadi masalah adalah jika kita bersikap seolah-olah tahu segalanya.
Ketiga, struktur organisasi TNI saat ini perlu dievaluasi ulang. Jumlah perwira tinggi terbilang besar dibandingkan dengan jumlah personel secara keseluruhan. Ini bukan rahasia. Setiap bintang di pundak seharusnya mencerminkan beban tanggung jawab yang sepadan, bukan sekadar beban anggaran.
Konflik Iran-AS menunjukkan bahwa organisasi militer yang lebih ramping, gesit, dan loyal seperti IRGC di Iran seringkali lebih efektif dalam situasi krisis seperti ini dibandingkan birokrasi militer yang kaku dan gemuk.
Jika TNI tidak segera melakukan pembenahan struktural dan kultural, kita berisiko menjadi penonton abadi saja di panggung militer dunia. Padahal APBN kita setiap tahun dialokasikan tidak sedikit untuk pertahanan.
Empat Langkah yang Harus Segera Dilakukan
Pertama, pemerintah harus jujur kepada rakyat. Jelaskan secara terbuka bahwa krisis Timur Tengah akan berdampak pada harga energi dan stabilitas ekonomi domestik. Jangan sembunyikan fakta di balik jargon “kita siap”.
Kedua, aktifkan diplomasi tingkat tinggi ke Iran dan Amerika Serikat. Indonesia memiliki modal diplomatik yang langka: hubungan baik dengan kedua pihak. Manfaatkan itu. Jangan sia-siakan.
Ketiga, siapkan cadangan energi strategis. Isi penuh depot-depot minyak dan LPG. Stop sementara ekspor energi jika diperlukan demi kepentingan dalam negeri.
Keempat, bergerak sekarang. Jangan menunggu eskalasi lebih lanjut. Dalam krisis, setiap detik keterlambatan adalah kerugian yang tidak bisa ditarik kembali.
Penutup: Dunia Memasuki Era Baru
Perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel bukanlah perang kita. Tapi dampaknya adalah tanggung jawab kita bersama.
Ultimatum 24 jam Trump kemungkinan besar akan berakhir dengan kesepakatan di belakang layar yang menyelamatkan muka semua pihak. Namun luka ekonomi akan tetap terasa dalam hitungan bulan, bahkan tahun.
Harga minyak tidak akan kembali ke level USD 70 per barel dalam waktu dekat. Karena dunia sedang memasuki era baru: era energi mahal, era ketidakpastian permanen, era di mana perang ekonomi terbukti cukup ampuh untuk (dapat) menghancurkan sebuah negara tanpa perlu menembakkan satu rudal pun.
Pertanyaan besar untuk Indonesia: apakah kita akan terus menjadi korban yang pasif, ataukah kita akan belajar menjadi pemain yang aktif?
*) Mayjen Tni (Purn) Fulad, Penasihat Militer RI untuk PBB 2017-2019

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi