SIDOARJO –KEMPALAN: Deru mesin politik Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Kabupaten Sidoarjo memasuki fase krusial. Di bawah naungan semangat Ahlussunnah wal Jamaah, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB Sidoarjo menggelar Musyawarah Cabang (Muscab) sebagai momentum sakral untuk menentukan arah masa depan “Kota Santri” melalui regenerasi kepemimpinan yang berintegritas.
Musyawarah Cabang (Muscab) DPC PKB Sidoarjo menjadi sorotan nasional setelah tim penjaringan calon ketua menyelesaikan tahapan seleksi secara maraton. Proses ini bukan sekadar pergantian struktur, melainkan sebuah ikhtiar politik yang religius untuk memastikan estafet kepemimpinan jatuh ke tangan sosok yang mampu menjaga amanah umat dan partai.
Sejumlah nama besar muncul ke permukaan hasil dari penjaringan yang ketat. Nama-nama muda potensial seperti Abdillah Nasih, Usman, Reza Ali Faizin, dan Ibnu Firdaus secara resmi masuk dalam bursa calon. Namun, dinamika semakin menarik dengan keberadaan nama-nama tokoh sentral yang sudah memiliki akar rumput kuat di Sidoarjo, yakni Ahmad Amir Aslichin dan H. Subandi, SH, M.Kn.
Tahapan penjaringan yang berlangsung intensif dalam sepekan terakhir ini berpuncak pada pembukaan Muscab yang digelar di Fave HotelSidoarjo, yang dihadiri langsung oleh jajaran elit partai.(04/04/2026)
Penjaringan maraton ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap kader terbaik mendapatkan hak yang sama untuk berkhidmah. PKB Sidoarjo sadar bahwa sebagai basis suara terbesar, kepemimpinan di wilayah ini memerlukan sosok yang tidak hanya cakap secara politik, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan kedekatan dengan para kiai.
Seluruh berkas dan hasil penetapan calon ini nantinya akan dilaporkan dan diserahkan sepenuhnya kepada Dewan Pengurus Pusat (DPP) PKB untuk diputuskan melalui mekanisme organisasi yang berlaku.
Komentar Eksklusif Sekjen DPP PKB, Hasanuddin Wahid:
Sekjen DPP PKB, Hasanuddin Wahid, yang membuka langsung agenda Muscab ini, memberikan catatan mendalam mengenai proses yang sedang berlangsung.
“PKB bukan sekadar partai politik, ia adalah wasilah (perantara) untuk mewujudkan kemaslahatan umat. Di Sidoarjo, kami melihat proses Muscab ini sebagai sebuah ijtihad politik. Siapapun yang terpilih nanti, ia bukan sekadar memimpin organisasi, tapi ia sedang mengemban amanah ‘harakatul ishlah’ (gerakan perbaikan). Kita mencari pemimpin yang selesai dengan dirinya sendiri dan siap mewakafkan waktu serta pemikirannya untuk jamaah dan jamiyah,” ujar Hasanuddin Wahid dengan nada teduh namun tegas.
Ia juga menambahkan bahwa munculnya nama-nama seperti Abdillah Nasih hingga H. Subandi menunjukkan bahwa kaderisasi di Sidoarjo berjalan sangat sehat.
“Keputusan akhir ada di DPP, namun ruhnya tetap satu: Sami’na Wa Atho’na kepada garis perjuangan para kiai. Kami mencari nakhoda yang mampu menjadikan politik sebagai jalan ibadah, yang elegan dalam bersikap, namun teguh dalam memegang prinsip rahmatan lil ‘alamin,” pungkasnya.
Kini, bola panas kepemimpinan Sidoarjo berada di meja DPP. Publik menanti, siapakah yang akan dipilih untuk memimpin PKB Sidoarjo menuju kejayaan di Pemilu mendatang dengan tetap menjaga marwah sebagai partai hijau yang religius dan nasionalis.(Ambari Taufiq M Fasichullisan)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi