Kamis, 18 Juni 2026, pukul : 13:26 WIB
Surabaya
--°C

Iran, “Batu Sandungan” Berat Buat Dinasti Rothschild (Bag-2)

“Rezim Iran kemungkinan akan terbukti lebih tangguh dari yang diperkirakan AS dan Israel. Sejarah (sudah) menunjukkan sangat sulit menggulingkan rezim tanpa intervensi darat, yang ditolak Trump karena risiko korban jiwa yang tinggi.”

Oleh: Said Muniruddin

KEMPALAN: Lalu, mengapa harus Iran? Nah, ini pertanyaan kuncinya. Dari sekian banyak negara Islam, mengapa Iran yang harus jadi target utama? Jawabannya kompleks:

1. Iran Nggak Tunduk sama Sistem Keuangan Rothschild

Ini yang paling penting. Iran adalah salah satu dari sedikit negara di dunia yang gak punya utang ke IMF atau Bank Dunia. Sistem perbankan mereka berjalan di luar kendali bank sentral global yang dikontrol Rothschild.

Mereka pakai mata uang sendiri (Rial), nggak sepenuhnya tergantung dolar, dan punya cadangan emas yang cukup.

Coba anda liat, Mayer Amschel Rothschild (sang pendiri) dari tahun 1800-an telah kirim lima anaknya ke seluruh Eropa buat buka bank: Frankfurt (Jerman), London (Inggris), Paris (Prancis), Wina (Austria), Napoli (Italia).

Sekarang, jaringan mereka sudah menjalar ke seluruh dunia. Hampir semua bank sentral negara di dunia terkoneksi dengan sistem mereka. Kecuali Iran (dan beberapa negara lain).

Ingat tahun 2000 dulu? Ada sekitar 9 negara yang nggak ikut sistem bank sentral Rothschild: Iran, Irak, Kuba, Suriah, Libya, Sudan, Venezuela, Afghanistan, dan Korea Utara.

Coba Anda lihat sekarang, nasib mereka gimana? Irak, Afghanistan, Libya, Suriah sudah hancur. Venezuela lagi diperas. Tinggal Iran dan Korea Utara yang masih bertahan. Korea Utara karena mereka punya bom nuklir dan dekat China. Iran karena mereka punya perlawanan ideologis yang kuat.

2. Iran Punya Minyak dan Posisi Strategis

Iran punya cadangan minyak terbesar ketiga di dunia. Tapi yang bikin mereka kuat bukan cuma itu. Mereka juga jadi pemasok minyak utama China, rival Amerika. Jadi, kalau AS bisa kuasai Iran, mereka bisa:

Potong jalur pasokan energi ke China; Kuasai harga minyak dunia; Kendalikan OPEC sepenuhnya.

Belum lagi Selat Hormuz. Sekitar 20% minyak dunia lewat selat ini. Anda bayangin kalau Iran nutup total? Harga minyak bisa tembus $200 per barel. Ekonomi dunia kacau. Inilah senjata pamungkas Iran.

Update Terbaru (Maret 2026): Menlu Iran, Abbas Araghchi, baru saja memberikan pernyataan tegas soal Selat Hormuz. Katanya:

“Selat Hormuz itu terbuka. Tapi hanya ditutup untuk kapal tanker dan kapal milik musuh kita, yang menyerang kita dan sekutunya. Yang lain bebas lewat.”

Artinya: Kapal AS dan Israel dilarang keras. Kapal China, India, Pakistan, Turki, Rusia? Silakan, asal minta izin dulu. Ini strategi jitu. Mereka gak nutup total biar nggak dianggap biang kerok, tapi mereka kontrol siapa yang boleh lewat.

Jadi de facto, AS dan Israel kehilangan akses ke jalur energi paling vital di dunia.

Dan bahkan ada kabar, Iran lagi mempertimbangkan transaksi minyak pakai Yuan China buat gantikan Dolar AS. Ini tantangan langsung buat sistem Petrodolar yang sudah berkuasa puluhan tahun. Jika ini terjadi, dominasi Dolar AS di perdagangan minyak global bakal goyah.

3. Isu Nuklir: Alasan Klasik yang Diulang-ulang

AS dan Israel terus-terusan teriak, “Iran mau bikin bom nuklir! Mereka ancam dunia!” Padahal, ini kebohongan besar yang diulang terus.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, baru saja ngomong tegas:

“Mengulang kebohongan cukup sering akan membuatnya tampak sebagai kebenaran – itu adalah hukum propaganda yang dicetuskan oleh Nazi Joseph Goebbels. Ini sekarang secara sistematis digunakan oleh pemerintahan AS dan para pencari keuntungan perang di sekelilingnya, khususnya rezim Israel yang genosidal.”

BACA JUGA  Cak Armuji Bakal Tampil Baca Puisi Merayakan Bulan Bung Karno

Mereka tuduh Iran kembangkan senjata pemusnah massal? Ingat Irak 2003! Benjamin Netanyahu berdiri di depan Kongres AS, pamer gambar “pabrik senjata nuklir” Irak. Hasilnya? Irak diinvasi, ratusan ribu orang mati, dan nggak ada satu pun senjata nuklir ditemukan.

Iran dari dulu bilang program nuklir mereka untuk tujuan damai: pembangkit listrik, medis, industri. Mereka bahkan punya fatwa dari Pemimpin Tertinggi (alm. Ali Khamenei) yang mengharamkan senjata nuklir.

Tapi AS dan Israel tetap ngeyel. Kenapa? Karena alasan nuklir cuma kedok buat “regime change” (pergantian rezim).

Dan emang benar, target mereka adalah menggulingkan kepemimpinan Iran yang sudah 47 tahun berdiri. Mereka pengen ganti dengan rezim baru yang pro-Barat, kayak jaman Reza Pahlavi dulu.

Si “pangeran badut” yang tinggal di pengasingan itu sudah siap-siap naik tahta. Tapi rakyat Iran sudah pernah merasakan era Pahlavi yang pro-Barat, yang dekat sama Israel, dan mereka nggak mau balik ke masa kelam itu.

Duta Besar Iran untuk Kuwait, Mohammad Totonchi, nulis analisis pedas soal ini:

“Yang diinginkan Barat adalah Iran yang tunduk pada entitas Zionis, beroperasi dalam orbit kepentingan mereka. Rezim Pahlavi dulu adalah salah satu sekutu terdekat Israel di kawasan. Kerja sama intelijen SAVAK-Mossad, pasok minyak ke Israel, semua terjadi. Kembali ke model era Pahlavi berarti menghidupkan kembali sistem timpang yang menempatkan kepentingan Israel di pusat.”

Perang Narasi: Syiah Bukan Islam? Itu Skrip Mossad!

Nah, yang sering banget terjadi di Indonesia, setiap Iran lagi konflik, tiba-tiba muncul narasi:

“Ngapain dukung Syiah, mereka bukan Islam.”

“Biarkan Iran dan Israel perang, keduanya kafir.”

“Iran dan Israel itu bestie, cuma sandiwara.”

“Iran lebih banyak bunuh muslim daripada Israel.”

Anda harus paham, Bos. Ini semua adalah skrip perang psikologis yang dimainkan Mossad dan CIA. Setidaknya, sudah 40 tahun lebih narasi ini diputar. Setiap kali mau berkonflik sama Iran, isu ini dimunculin. Tujuannya: memecah-belah umat Islam, mengisolasi Iran, dan memutus simpati dunia Islam.

Tragedi 11/9, Islam Teroris, dan Rencana 7 Negara Dalam 5 Tahun

Anda ingat tragedi 11 September 2001? Ada 3.000 orang tewas. Yang menarik: nggak ada satu pun Yahudi yang mati di WTC hari itu. Dan, gedung-gedung itu diasuransikan oleh perusahaan Yahudi nggak lama sebelum kejadian. Mereka dapat klaim miliaran dolar.

Setelah 9/11, tiba-tiba Islam jadi kambing hitam. “Islam adalah teroris”. Padahal pelakunya Al-Qaeda, yang dibentuk CIA dan didanai Arab Saudi untuk lawan Uni Soviet di Afghanistan. Pola lama: ciptakan monster, lalu lawan monster itu buat cuan.

Mantan Komandan NATO di Eropa, Jenderal Wesley Clark, pernah ngaku di Al-Jazeera (2003) bahwa setelah 9/11, dia dapat perintah dari elit global: “Dalam 5 tahun, kita harus menyerang 7 negara ini: Irak, Suriah, Lebanon, Libya, Somalia, Sudan, dan Iran.”

Dan lihatlah. Irak (2003): Hancur, pemimpinnya (Saddam Hussein) digantung; · Libya (2011): Hancur, pemimpinnya (Muammar Gaddafi) dibunuh di got; Suriah: Hancur lewat perang saudara yang dimenangkan kelompok proxy Barat;

Sudan: Pecah jadi dua Negara; Lebanon: Masih carut-marut; Somalia: Negara gagal sampai sekarang; Iran (2026): Target terakhir. Dan kini sedang terjadi.

Untuk kasus Suriah, mereka bahkan ciptakan ISIS sebagai alat untuk dapatnya menghancurkan negara itu. Isinya campuran antara mantan intelijen Saddam, milisi asing, dan petualang. Setelah Suriah hancur, siapa yang jadi presiden?

BACA JUGA  Prof. Theodore Postol Mengeluarkan Peringatan Keras Soal Nuklir Iran

Abu Muhammad Jolani Al-Shara, tokoh yang tadinya dianggap “teroris”, sekarang jadi presiden yang “manis” dan “islami”, tapi ternyata patuh sama agenda Trump dan Israel. Polanya sama lagi: hancurkan, lalu pasang boneka baru.

Keuntungan Yang Diincar Kalau Iran Jatuh

Mereka sudah hitung-hitungan. Kalau Iran berhasil ditaklukkan, keuntungannya gila-gilaan:

1. Perbankan Iran tunduk: Sistem keuangan Iran bakal masuk orbit Rothschild. IMF bakal kasih utang, bunga berbunga, dan Iran bakal terbelenggu selamanya.

2. Israel Raya mulus: Nggak ada lagi yang support Hizbullah, Hamas, atau poros perlawanan. Israel bisa ekspansi seenaknya.

3. Sumber daya alam digasak: Minyak, gas, emas, perak Iran bakal diprivatisasi. Perusahaan kayak Exxon, Chevron, dan Shell bakal masuk dan bagi-bagi kue.

4. Pangkalan militer asing: AS bakal bangun pangkalan di Iran, ngontrol seluruh kawasan. Sama kayak yang mereka lakuin di Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Bahrain, UEA.

Polanya sama persis di semua negara yang mereka taklukkan. Nggak ada yang beda.

Tapi, Iran Bukan Lawan Yang Mudah

Nah, ini yang bikin mereka frustrasi. Iran bukan Irak, bukan Libya, dan bukan Afghanistan. Iran punya beberapa keunggulan yang nggak dimiliki negara lain:

1. Ideologi yang kuat: Revolusi Islam 1979 bukan cuma pergantian rezim, tetapi perubahan cara pandang. Rakyat Iran dididik selama 47 tahun untuk mandiri dan nggak bergantung pada Barat. Mereka punya mentalitas “kita lawan setan besar”.

2. Persatuan di saat krisis: Biasanya kalau negara diserang, rakyatnya pecah. Tapi Iran? Setelah serangan 28 Februari 2026 yang menewaskan Ali Khamenei dan 48 petinggi lainnya, rakyat justru semakin solid. Mereka bersatu di belakang pemimpin baru, Mojtaba Khamenei (putra Ali Khamenei).

3. Kemajuan sains dan teknologi: Iran adalah negara Islam paling maju di bidang sains dan teknologi. Mereka produksi rudal sendiri, drone sendiri, bahkan punya program antariksa. Mereka nggak perlu impor senjata kayak negara Arab lain.

4. Jaringan proksi yang kuat: Hizbullah di Lebanon, Hamas di Palestina, Houthi di Yaman, milisi Syiah di Irak dan Suriah – semua ini adalah kekuatan yang bisa digerakkan kapan saja. Ini bikin perang meluas dan musuh kewalahan.

5. Pelajaran dari negara lain: Iran liat sendiri gimana nasib Irak, Libya, Suriah. Mereka nggak mau jadi berikutnya. Makanya resistensinya kuat.

Buktinya? Perang sudah masuk wave ke-57 (per 17 Maret 2026). Lebih dari 700 rudal dan 3.600 drone telah diluncurkan. Iran ngaku 650 lebih tentara AS tewas-luka. Pangkalan-pangkalan AS di Bahrain, Qatar, UEA, Kuwait terus digempur. Kapal induk USS Abraham Lincoln kabur ke Samudra Hindia. Ini bukan negara yang lemah.

Analis Edmond de Rothschild Asset Management (iya, bagian dari grup Rothschild) sendiri nulis dalam analisis mereka:

“Rezim Iran kemungkinan akan terbukti lebih tangguh dari yang diperkirakan AS dan Israel. Sejarah (sudah) menunjukkan sangat sulit menggulingkan rezim tanpa intervensi darat, yang ditolak Trump karena risiko korban jiwa yang tinggi.”

Bahkan, mereka juga memberikan probabilitas 50% untuk “perang atrisi” (perang berkepanjangan) dan cuma 30% untuk “regime change“. Artinya, mereka sendiri ragu Iran bakal tumbang dalam waktu dekat. (Bersambung Bag-3)

*) Said Muniruddin, Rector The Suficemic (Versi Bumbu Dapur + Analisis Kekinian)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.