Rabu, 22 April 2026, pukul : 02:46 WIB
Surabaya
--°C

Bergesernya Bandul Perang dan Retaknya Tatanan Lama : Membaca Konflik Iran–Israel dalam Kerangka Geopolitik, Geoekonomi, dan Mafāhīm Siyasiy

Oleh : Slamet Sugianto

SURABAYA-KEMPALAN: Tulisan Dr. M. Uhaib A. yang menyebut “bandul perang bergeser” dan “Barat kehilangan akal waras” sesungguhnya menangkap satu gejala penting: retaknya pola dominasi lama dalam konflik global. Namun, untuk memahami kedalaman perubahan ini, kita perlu melampaui deskripsi peristiwa dan masuk ke struktur yang lebih mendasar—yakni geopolitik, geoekonomi, dan kerangka konseptual politik internasional sebagaimana dijelaskan dalam Mafāhīm Siyasiy karya Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani.

Pergeseran Bandul: Dari Dominasi ke Simetri Konflik

Data konflik mutakhir menunjukkan bahwa perang tidak lagi berjalan dalam pola dominasi sepihak. Dalam kurang dari satu bulan eskalasi:

  • >2.000–2.600 korban jiwa tercatat
  • ±26.500 korban luka-luka
  • >2.000 serangan udara dilakukan pihak Barat

Iran tetap mampu melakukan serangan balasan lintas kawasan

Secara klasik, ini menunjukkan perubahan dari:

dominance warfare → balanced attrition warfare

Iran, meski mengalami kerusakan signifikan:

  • >6.000 tentara tewas
  • 66% fasilitas drone/misil terdampak

tetap mempertahankan kapasitas ofensif residual, termasuk:

  • serangan ke wilayah Israel
  • gangguan terhadap ≥17 basis militer AS

Ini menegaskan bahwa:

kemenangan dalam perang modern tidak lagi ditentukan oleh kehancuran total lawan, tetapi oleh kemampuan bertahan sambil tetap mengganggu sistem lawan.

NATO yang Retak dan Overstretch Barat

Konflik ini juga membuka realitas baru: rapuhnya solidaritas NATO. Tidak ada mobilisasi kolektif formal. Beban perang justru ditanggung oleh aktor utama:

  • Israel mengeluarkan sekitar 1 miliar shekel/hari (~$270 juta/hari)
  • Mobilisasi mencapai 110.000 reservis
  • Anggaran militer melonjak ke ±8,8% dari GDP

Di sisi lain, AS harus mempertimbangkan tambahan:

10.000 pasukan untuk stabilisasi kawasan

Ini menunjukkan fenomena klasik geopolitik:

imperial overstretch — ketika biaya mempertahankan dominasi lebih besar dari manfaatnya.

Iran dan Geoekonomi: Mengubah Energi Menjadi Senjata

Jika aspek militer menunjukkan simetri, maka aspek geoekonomi menunjukkan keunggulan Iran.

Gangguan di Selat Hormuz—yang dilalui sekitar 20% suplai minyak dunia—menyebabkan:

  • penurunan trafik maritim hingga 90%
  • lonjakan harga energi global
  • tekanan inflasi di banyak negara

Di sini terlihat transformasi penting:

dari military warfare → geo-economic warfare

Iran tidak perlu memenangkan perang secara konvensional. Cukup dengan:

  • mengganggu choke point global
  • menaikkan biaya ekonomi lawan

Membaca Lebih Dalam: Perspektif Mafāhīm Siyasiy

Dalam kerangka Mafāhīm Siyasiy, konflik ini tidak dipahami sebagai anomali, tetapi sebagai bagian dari:

ṣirā‘ ad-duwal (pertarungan negara atas pengaruh global)

Timur Tengah, dalam analisis tersebut, adalah:

wilayah yang sengaja dijaga dalam kondisi konflik terkendali

Karena:

  • pusat energi dunia
  • jalur strategis global
  • jantung dunia Islam

Namun justru di jantung inilah berdiri entitas yang memainkan peran sentral: Israel.

Israel: “Implan Strategis” di Jantung Dunia Islam

Keberadaan Israel tidak semata negara, tetapi dalam kerangka geopolitik:

alat permanen untuk menjaga fragmentasi kawasan

Fungsinya:

  1. Memecah kesatuan dunia Islam
  2. Menciptakan ketergantungan keamanan pada Barat
  3. Menghambat munculnya kekuatan regional independen

Dampaknya bersifat struktural:

  • konflik menjadi permanen
  • energi umat terserap pada konflik parsial
  • tidak terbentuk kekuatan geopolitik kolektif

Jantung Dunia Islam yang Terfragmentasi

Paradoks terbesar kawasan ini adalah:

memiliki seluruh syarat kekuatan global, tetapi tidak memiliki kekuatan politik global

Di satu sisi terdapat:

  • Masjid al-Haram
  • Masjid Nabawi
  • Masjid al-Aqsa

Namun di sisi lain:

  • terpecah menjadi >20 negara bangsa
  • bergantung secara militer dan ekonomi
  • tidak memiliki visi geopolitik bersama

Dalam istilah Syaikh An-Nabhani:

kawasan ini berubah dari subjek peradaban menjadi objek konflik

Iran : Aktor Kuat, tetapi Bukan Solusi Struktural

Dalam konteks ini, Iran memang tampil sebagai:

  • aktor independen
  • kekuatan regional efektif

Namun:

ia tetap bagian dari sistem konflik, bukan solusi atas sistem tersebut

Karena:

  • berbasis kepentingan nasional
  • bukan kepemimpinan umat secara keseluruhan

Akar Masalah : Bukan Siapa Menang, tetapi Struktur yang Salah

Dari seluruh dinamika ini, tampak jelas:

Konflik bukanlah akar masalah, melainkan gejala dari:

  1. fragmentasi politik dunia Islam
  2. dominasi kekuatan global
  3. keberadaan Israel sebagai pengunci sistem
  4. ketiadaan kepemimpinan politik global umat

Peta Persoalan Timur Tengah (Sintesis)

Secara ringkas, kawasan ini menghadapi empat lapis krisis:

  1. Geopolitik
  • tidak ada kekuatan pemersatu
  • konflik terus-menerus
  1. Geoekonomi
  • kaya energi, tetapi tidak berdaulat
  • menjadi objek permainan global
  1. Struktur Politik
  • terfragmentasi (nation-state)
  • rezim tidak independen
  1. Faktor Israel
  • pengunci konflik
  • penghambat integrasi kawasan

Rekomendasi Solusi dalam Mafāhīm Siyasiy

Menurut Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, solusi tidak bisa parsial. Ia harus bersifat struktural dan ideologis.

  1. Mengakhiri Fragmentasi
  • mengganti kerangka nation-state
  • menuju kesatuan politik umat
  1. Membangun Kesadaran Ideologis (Mabda’)
  • Islam sebagai sistem politik global
  • bukan sekadar identitas spiritual
  1. Membentuk Kutlah Siyasiyah
  • blok politik ideologis
  • penggerak perubahan sistem
  1. Membangun Opini Umum Umat
  • dari lokal → global
  • dari emosional → strategis
  1. Meraih Dukungan Kekuatan Nyata (Ahlul Quwwah)
  • militer
  • elite strategis
  1. Mendirikan Kepemimpinan Politik Global

Entitas politik tunggal umat yang mengintegrasikan:

  • wilayah
  • sumber daya
  • kekuatan militer

Penutup

Tulisan Dr. M. Uhaib A. benar dalam satu hal penting: bandul perang memang bergeser. Namun, dalam perspektif yang lebih dalam:

yang sedang bergeser bukan hanya perang, tetapi struktur kekuasaan global itu sendiri.

Meski demikian, tanpa perubahan fundamental dalam struktur politik dunia Islam, pergeseran ini tidak akan melahirkan pembebasan, melainkan hanya:

pergantian posisi dalam sistem konflik yang sama.

Dan selama jantung dunia Islam tetap terfragmentasi, serta di dalamnya berdiri entitas yang menjaga ritme konflik, maka setiap eskalasi—termasuk Iran vs Israel—akan tetap menjadi bagian dari siklus panjang:

konflik tanpa resolusi, kekuatan tanpa kedaulatan, dan potensi tanpa arah.[]

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.