Kamis, 2 Juli 2026, pukul : 13:20 WIB
Surabaya
--°C

Dari BBM ke Mikroplastik dalam Tubuh Manusia: Krisis Sunyi yang Mengalir ke Dalam Diri Kita

Oleh : Slamet Sugianto

SURABAYA-KEMPALAN: Ketika Krisis Energi Menyentuh Hal Paling Dekat: Tubuh Manusia

Kenaikan harga plastik di pasar, yang dalam beberapa kasus mencapai sekitar Rp6.000 per pak, pada awalnya tampak sebagai gejolak ekonomi biasa. Ia dibaca sebagai dampak lanjutan dari krisis bahan bakar minyak (BBM) global—naiknya harga energi, meningkatnya biaya produksi, lalu merembet ke harga kemasan.

Namun jika ditarik sedikit lebih jauh, peristiwa ini sesungguhnya membuka sebuah realitas yang jauh lebih dalam. Plastik bukan sekadar komoditas. Ia adalah simpul penting dalam sistem ekonomi modern—dan sekaligus pintu masuk bagi krisis lingkungan yang kini telah bergerak dari ruang eksternal ke dalam tubuh manusia.

Secara global, dunia memproduksi lebih dari 400 juta ton plastik setiap tahun. Sekitar 36 hingga 40 persen di antaranya digunakan untuk kemasan sekali pakai. Di Indonesia, timbulan sampah plastik diperkirakan mencapai 6 hingga 7 juta ton per tahun. Angka-angka ini tidak sekadar menunjukkan skala produksi, tetapi juga memperlihatkan betapa dalam ketergantungan kita terhadap plastik berbasis fosil.

Rantai yang Tak Terputus

Krisis ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia mengalir dalam sebuah rantai sebab-akibat yang nyaris tak terputus.

Kenaikan harga minyak mentah mendorong naiknya biaya produksi plastik. Namun konsumsi tidak menurun. Plastik tetap menjadi pilihan utama karena murah, ringan, dan praktis. Dari sini, limbah terus terakumulasi.

Diperkirakan sekitar 79 persen plastik global akhirnya berakhir di tempat pembuangan akhir atau langsung mencemari lingkungan. Seiring waktu, plastik itu tidak benar-benar hilang. Ia terfragmentasi menjadi partikel-partikel kecil yang dikenal sebagai mikroplastik—berukuran kurang dari 5 milimeter.

Partikel ini kemudian bergerak tanpa batas. Ia terbawa arus sungai, terangkat ke udara, turun bersama hujan, masuk ke tanah, diserap oleh organisme, dan pada akhirnya kembali kepada manusia.

Sebuah studi bahkan memperkirakan bahwa manusia dapat mengonsumsi hingga 5 gram mikroplastik setiap minggu—setara dengan berat satu kartu ATM. Sebuah angka yang kecil dalam satuan gram, tetapi besar dalam makna.

BACA JUGA  Escrow Account: Umrah Tanpa Bertaruh Nasib

Dari Sungai ke Darah Manusia

Temuan-temuan dari ECOTON memberi dimensi lokal yang konkret pada persoalan ini. Mikroplastik tidak hanya menjadi isu global yang abstrak, tetapi realitas yang hadir di sekitar kita.

Penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruh sampel ikan sungai di Pulau Jawa mengandung mikroplastik, dengan kisaran 2 hingga 10 partikel per individu. Air minum pun tidak steril, dengan kandungan mikroplastik mencapai puluhan partikel per liter. Bahkan udara di sedikitnya 18 wilayah Indonesia mengandung partikel serupa, yang kemudian dapat terhirup setiap hari.

Yang paling mengkhawatirkan, mikroplastik telah ditemukan dalam darah manusia dan air ketuban ibu hamil. Artinya, paparan tidak hanya terjadi pada individu dewasa, tetapi juga pada kehidupan yang bahkan belum lahir.

Pada titik ini, batas antara manusia dan limbahnya sendiri runtuh. Tubuh manusia bukan lagi sekadar korban, melainkan telah menjadi bagian dari ekosistem pencemaran itu sendiri.

Membaca Lebih Dalam: Krisis Cara Pandang

Dalam kitab Masalah Lingkungan: Sebab-sebab dan Penanganannya dalam Pandangan Islam, ditegaskan bahwa akar persoalan lingkungan bukan semata pada teknologi atau industri, melainkan pada cara pandang manusia terhadap kehidupan .

Sistem ekonomi modern dibangun di atas logika pertumbuhan tanpa batas. Produksi terus didorong, bukan semata untuk memenuhi kebutuhan, tetapi untuk menjaga laju ekonomi. Konsumsi pun tidak lagi berbasis kebutuhan riil, melainkan didorong oleh pasar.

Akibatnya, limbah menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan. Dari seluruh plastik yang pernah diproduksi di dunia, hanya sekitar 9 persen yang berhasil didaur ulang. Sebanyak 12 persen dibakar, dan sisanya—79 persen—menjadi beban lingkungan.

Angka ini menunjukkan bahwa persoalan yang kita hadapi bukan sekadar kegagalan pengelolaan limbah, tetapi kegagalan sistem itu sendiri.

Ketika Kerusakan Menjadi Bagian dari Sistem

Lebih jauh, pendekatan global terhadap krisis lingkungan sering kali justru memperlihatkan paradoks. Lingkungan diperlakukan sebagai variabel ekonomi—sesuatu yang dapat dinegosiasikan, dihitung, bahkan diperdagangkan.

BACA JUGA  Jokowi Berani Tantang Prabowo dan Megawati

Dalam praktiknya, biaya produksi ditekan dengan penggunaan material murah seperti plastik, sementara biaya ekologisnya dialihkan kepada masyarakat. Kerugian akibat pencemaran plastik secara global bahkan diperkirakan mencapai ratusan miliar dolar per tahun, terutama di sektor perikanan dan pariwisata.

Di Indonesia, dampaknya terasa nyata: kualitas air menurun, hasil tangkapan ikan berkurang, dan risiko kesehatan meningkat. Namun semua ini jarang tercermin dalam harga produk yang kita konsumsi sehari-hari.

Mengembalikan Makna Relasi Manusia dan Alam

Islam menawarkan cara pandang yang berbeda. Alam bukan sekadar sumber daya, melainkan amanah. Manusia bukan pemilik mutlak, tetapi penjaga.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut adalah akibat dari perbuatan manusia . Dalam prinsip syariah, segala bentuk bahaya harus dihilangkan, dan aktivitas yang merusak keseimbangan alam tidak dibenarkan.

Dalam kerangka ini, persoalan mikroplastik bukan hanya isu lingkungan atau kesehatan, tetapi juga persoalan etika. Ia menyangkut bagaimana manusia memperlakukan alam—dan pada akhirnya, bagaimana ia memperlakukan dirinya sendiri.

Krisis yang Mengalir Diam-Diam

Yang membuat krisis ini berbahaya adalah sifatnya yang senyap. Ia tidak hadir dalam bentuk bencana besar yang terlihat jelas. Ia mengalir perlahan—melalui air yang kita minum, udara yang kita hirup, dan makanan yang kita konsumsi.

Namun justru karena itulah ia menjadi lebih sulit disadari, dan lebih berbahaya.

Ketika mikroplastik telah ditemukan dalam tubuh manusia, pertanyaannya tidak lagi apakah kita terdampak, melainkan seberapa jauh dampak itu telah berlangsung.

Penutup

Kenaikan harga plastik mungkin hanya berlangsung sementara. Namun krisis yang menyertainya tidak akan hilang begitu saja.

Selama sistem produksi dan konsumsi tidak berubah, selama alam terus dipandang sebagai objek eksploitasi, maka krisis ini akan terus mengalir—dari lingkungan ke tubuh, dari generasi kini ke generasi mendatang.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, krisis itu kini tidak lagi berada di luar diri kita. Ia telah menjadi bagian dari kita sendiri.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.