SURABAYA-KEMPALAN: China telah menjadi pemimpin global dalam bidang robotika dan energi hijau, sektor-sektor yang tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan lapisan dasar bagi ekonomi masa depan, ungkap Jack Perry, chairman 48 Group.
Dalam sesi wawancara dengan Xinhua pada Selasa (24/3), di sela-sela Konferensi Tahunan Forum Boao untuk Asia (Boao Forum for Asia/BFA) yang diselenggarakan di Provinsi Hainan, China selatan, Perry menuturkan laju pengembangan teknologi dan inovasi China dalam beberapa tahun terakhir sungguh luar biasa.
Dia menyatakan bahwa strategi China terkait pembangunan berkualitas tinggi dan kekuatan produktif berkualitas baru menargetkan manufaktur kelas atas, mendorong pertumbuhan berbasis teknologi, dan mengangkat posisi manufaktur China dalam rantai nilai global.
Dari yang sebelumnya tertinggal dalam sektor teknologi tinggi hingga muncul menjadi pemimpin global, China mencatatkan progres yang luar biasa dan sedang membentuk ulang lanskap inovasi global, tutur Perry.
Peningkatan pesat teknologi China telah menarik investor global yang mengakui stabilitas jangka panjang dan potensi pertumbuhannya, ujar pengusaha Inggris tersebut. “China membangun kemampuan kelas dunia di berbagai industri. Bagi mereka yang mengupayakan penciptaan kekayaan lintas generasi, China Daratan tetap menjadi tujuan utama bagi investasi jangka panjang.”
Selain itu, keterbukaan China telah memasuki fase baru. Hal itu tidak lagi sekadar merek-merek China yang mengglobal, tetapi juga tentang merek-merek global yang dikembangkan dan diluncurkan dari China, imbuhnya.
Konsep “buatan China” (made in China) berubah menjadi “diciptakan di China, dikembangkan di China, dijual oleh China” (created in China, cultivated in China, sold by China), sehingga memberi negara itu kendali yang lebih kuat atas pasar akhir dan rantai pasokan global, urai Perry.
Di antara sektor-sektor teknologi tinggi, Perry menekankan pentingnya regulasi AI dan menyatakan dukungan kuat untuk Inisiatif Tata Kelola AI Global yang diusulkan oleh China.
Meskipun AI melampaui perbatasan negara, isu-isu seperti data, privasi, aset digital, dan aplikasi keuangan tetap sangat sensitif, katanya.
Dunia harus bekerja sama untuk menetapkan aturan AI, kata Perry, seraya menekankan pentingnya dialog dan pedoman bersama guna mencegah tindak penyalahgunaan, kejahatan, dan perkembangan AI yang tidak terkendali.
Perry juga menyoroti peningkatan sentralitas Asia, menggambarkannya sebagai kekuatan pendorong ekonomi global. Menurutnya, keunggulan geografis, klaster industri, dan pasar dinamis yang dimiliki Asia menarik perhatian dan investasi global.
Dia menyerukan agar Asia terus memperkuat ikatan ekonomi, belajar dari integrasi ASEAN, dan menggunakan mekanisme-mekanisme seperti Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP) untuk mengurangi hambatan perdagangan dan meringankan dampak proteksionisme serta kenaikan tarif.
“Tidak ada negara yang dapat berkembang sendirian di dunia yang penuh ketidakpastian ini. Kerja sama regional dan multilateral tidak tergantikan,” ucapnya.
Sebagai pembela teguh multilateralisme, China memberikan stabilitas dan kepercayaan pada ekonomi global, lanjut Perry.
China selalu terbuka dan mendukung pertumbuhan bersama, kata Perry. Meskipun gesekan antara negara-negara besar kemungkinan terjadi, siklus ekonomi akan tetap berkembang, dan kerja sama pada akhirnya akan menang, tambahnya.
Ke depan, Perry mengaku tetap optimistis dengan kerja sama internasional dan pembangunan China.
“Inovasi dan keterbukaan China akan terus memimpin industri masa depan … Hanya dengan menolak pemikiran menang-kalah, meningkatkan dialog, dan bekerja sama, masyarakat internasional dapat mengatasi ketegangan geopolitik, dan membangun tatanan ekonomi global yang lebih adil, inklusif, dan stabil,” urainya.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi