Jumat, 10 Juli 2026, pukul : 11:45 WIB
Surabaya
--°C

Akademi China Kuno Dorong Pertukaran Lintas Budaya lewat Kearifan Timur

SURABAYA-KEMPALAN: Ketika dunia mencari cara untuk menjalin dialog lintas peradaban sembari tetap mempertahankan identitas yang berbeda, “shuyuan,” atau akademi China kuno, muncul sebagai panduan dari sejarah China.

MENCARI KONSENSUS DI TENGAH PERBEDAAN

Berasal dari Dinasti Tang (618-907), “shuyuan” merupakan institusi unik China yang menggabungkan pendidikan, perpustakaan, pelaksanaan ritual, dan perdebatan ilmiah. Pada masa Dinasti Song (960-1279), institusi-institusi ini telah menjadi pusat intelektual utama China, tempat para cendekiawan sering terlibat dalam refleksi kritis, pertukaran gagasan yang intens, dan perdebatan.

Kearifan “shuyuan” China mulai mendapat sambutan di Barat pada masa Dinasti Ming (1368-1644). Pada akhir abad ke-16, misionaris Italia Matteo Ricci mengunjungi Akademi Yuzhang di Nanchang, Provinsi Jiangxi, China timur, dan berinteraksi dengan Zhang Huang, yang saat itu menjabat sebagai kepala Akademi Bailudong (Gua Rusa Putih) yang terkenal. Ricci membawa pengetahuan tentang astronomi, geografi, dan matematika Barat, sementara Zhang mewarisi teori Konfusianisme yang telah berusia seribu tahun. Ricci mempelajari kitab-kitab klasik Konfusianisme di bawah bimbingan Zhang, sementara Zhang memasukkan pengetahuan geografi Barat ke dalam karyanya sendiri, yang mencerminkan rasa saling menghormati dan interaksi.

Dalam sebuah surat kepada Roma, Ricci menulis bahwa mereka telah menemukan cukup banyak hal dalam kitab-kitab klasik China yang sejalan dengan keyakinan mereka.

Xiao Hongbo, presiden Akademi Ilmu Sosial Jiangxi (Jiangxi Academy of Social Sciences) sekaligus direktur Pusat Penelitian Budaya Akademi itu, mengidentifikasi semangat “mencari konsensus di tengah perbedaan dan membangun sinergi melalui pertukaran” ini sebagai kearifan penting dalam budaya tradisional China untuk mengelola perbedaan pendapat dan menyelesaikan konflik.

Semangat dialog ini masih hidup hingga saat ini. Pada Oktober 2025, hampir 200 akademisi dari 51 negara dan kawasan berkumpul di Akademi Kaoting di Fujian, China timur, untuk menghadiri Konferensi tentang Filsafat Zhu Xi dan Dialog Peradaban Global, guna mengeksplorasi bagaimana pemikiran mendiang filsuf China Zhu Xi dapat memberikan wawasan untuk menyelesaikan benturan peradaban.

Mantan Ketua Konferensi Umum UNESCO, Simona-Mirela Miculescu, menyebutkan bahwa keyakinan Zhu akan tak terpisahkannya pembelajaran dan kebajikan sejalan dengan misi UNESCO untuk membangun perdamaian melalui pemahaman, pembelajaran, dan saling menghormati.

Di saat teori “Benturan Peradaban” (Clash of Civilizations) masih memiliki pijakan di dunia, dan perpecahan serta konflik menghambat kemajuan manusia, akademi-akademi China, dengan praktiknya yang telah berlangsung selama ribuan tahun, menawarkan kearifan Timur yang mendorong dialog dan memperkuat kerja sama.

PLATFORM BARU UNTUK DIALOG PERADABAN

Terinspirasi oleh “shuyuan,” cendekiawan Korea Ju Se-bung mendirikan Akademi Baegundong pada 1543 dengan mencontoh Akademi Bailudong, yang merupakan akademi pertama dari jenisnya di Semenanjung Korea. Dalam kurun waktu sekitar dua abad, lebih dari 900 akademi bermunculan di seluruh wilayah tersebut. Hingga kini, Pedoman Akademi Bailudong (Bailudong Academy Directives) masih dijunjung tinggi sebagai moto sekolah di beberapa institusi di Korea Selatan dan Jepang.

Cendekiawan Korea terkemuka lainnya, Yi Hwang, kemudian mengembangkan Akademi Baegundong menjadi Akademi Dosan di Gyeongsangbuk-do untuk mempromosikan filsafat Zhu Xi. Jejak budayanya tercermin dalam kehidupan sehari-hari: uang kertas 1.000 won menampilkan potret Yi Hwang di bagian depan dan Akademi Dosan di bagian belakang, warisan budaya bersama yang dimiliki setiap warga Korea Selatan.

“Bagi warga Korea Selatan modern, akademi tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka dan salah satu simbol budaya terpenting,” kata Keum Jia, seorang lektor kepala (associate professor) di Fakultas Bahasa Asing Universitas Peking.

Deng Hongbo, selaku direktur Pusat Riset Akademi China (Chinese Academy Research Center), menyatakan bahwa meskipun akademi-akademi di luar negeri memiliki garis keturunan yang sama dengan akademi-akademi di China dan mempertahankan fungsi budaya inti mereka, akademi-akademi ini telah mengembangkan karakteristik berbeda yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti waktu penyebaran dan lokasi geografis, misalnya akademi di Korea yang menekankan ritual seremonial, akademi di Jepang yang berfokus pada penerbitan, sementara akademi China di Asia Tenggara berfungsi sebagai jangkar spiritual yang menghubungkan komunitas-komunitas dengan tanah air mereka.

Deng menemukan bahwa melalui pengumpulan dan pengkajian sistematis dokumen-dokumen sejarah dari Dinasti Joseon Korea dan akademi-akademi Jepang, berbagai arsip berharga berhasil dihidupkan kembali. Pekerjaan semacam ini menegaskan kontribusi sistem akademi terhadap peradaban Konfusianisme Asia Timur yang berakar pada aksara China, serta memberikan dukungan akademis yang kuat bagi praktik historis saling belajar antarperadaban.

Seiring penyebaran akademi ke arah timur, jalur lain mengarah ke Barat.

Di Napoli, Italia, di samping sebuah jalan berliku bernama “Salita dei Cinesi” (Lereng China), berdiri sebuah bangunan tiga lantai berwarna kuning kecoklatan, “Collegio dei Cinesi” (Perguruan Tinggi China) yang didirikan oleh misionaris Italia Matteo Ripa.

Setelah bertugas sebagai pelukis dan penerjemah di istana kerajaan Dinasti Qing (1644-1911), Ripa kembali ke Italia pada 1723 dan mendirikan perguruan tinggi tersebut dengan misi yang jelas untuk mengatasi hambatan bahasa dan budaya dengan membina bakat lintas budaya yang benar-benar inklusif.

Dalam lebih dari 100 tahun hingga 1868, perguruan tinggi ini mendidik 106 pelajar China dari lebih dari 10 provinsi, yang sebagian besar dari mereka kembali ke China untuk menjadi jembatan antara Timur dan Barat. Ketika misi Kedutaan Besar Inggris yang dipimpin oleh George Macartney mengunjungi China pada 1793, interpreternya adalah lulusan perguruan tinggi tersebut, hal ini menjadi bukti warisan yang ditinggalkannya.

Setelah beberapa kali mengalami perubahan nama, perguruan tinggi ini berkembang menjadi University of Naples L’Orientale, yang tetap menjadi pusat terkemuka untuk studi Sinologi di Italia.

Di era kontemporer, akademi-akademi kembali berfungsi sebagai platform untuk dialog peradaban. Forum Nishan tentang Peradaban Dunia (Nishan Forum on World Civilizations) di Provinsi Shandong menggunakan budaya akademi untuk menghubungkan para akademisi global. Akademi Yuelu di Provinsi Hunan merekrut staf pengajar internasional untuk melakukan penelitian humaniora digital mutakhir, sementara perkuliahan di Akademi Bailudong menjangkau audiens global melalui siaran langsung.

Praktik-praktik pertukaran yang berpusat pada akademi-akademi ini memungkinkan budaya China untuk terus menyerap pengaruh, berkembang, dan berinovasi melalui dialog dengan berbagai peradaban di seluruh dunia. Pada saat yang sama, hal ini memungkinkan dunia untuk memperoleh pemahaman yang lebih dalam dan komprehensif tentang China melalui jendela institusi pendidikan kuno ini.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.