KEMPALAN – Suasana khidmat menyelimuti makam Wage Rudolf Supratman di Surabaya pada 8–9 Maret 2026. Di tempat peristirahatan terakhir pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya itu, para musisi, pegiat seni, serta pejabat pemerintah berkumpul memperingati Hari Musik Nasional.
Alunan musik, doa, dan penghormatan kepada sang maestro menjadi warna utama peringatan yang berlangsung selama dua hari tersebut.
Hadir dalam acara itu Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo serta Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak. Keduanya menyerahkan bantuan alat musik kepada pekerja seni binaan Institut Musik Jalanan sebagai bentuk dukungan terhadap kreativitas musisi akar rumput.
Namun di balik suasana penuh penghormatan itu, ada satu kenyataan yang sulit diabaikan: bau menyengat dari depo sampah yang berada tepat di samping kawasan makam.
Aroma itu kerap tercium ketika para pengunjung berziarah atau mengikuti acara di lokasi tersebut.
Kondisi itu menjadi ironi yang mengganggu makna penghormatan terhadap sosok yang telah mewariskan lagu kebangsaan bagi Indonesia.
Ketua panitia peringatan, Heri “Lentho” Prasetyo, menyampaikan kegelisahan itu secara terbuka dalam laporannya.
“Hari ini kita memperingati Hari Musik Nasional yang bertepatan dengan hari kelahiran pencipta Indonesia Raya. Musik telah menjadi bahasa persatuan bangsa,” ujarnya di hadapan para tamu.
Ia mengingatkan bahwa dari karya Soepratman, bangsa Indonesia belajar bahwa sebuah lagu mampu menyalakan semangat perjuangan dan meneguhkan identitas nasional.
Namun Lentho menilai penghormatan kepada tokoh besar tidak cukup hanya dengan upacara dan pidato.
“Di sekitar makam tokoh bangsa ini masih terdapat tempat penampungan sampah yang aromanya sangat mengganggu. Hal ini tentu kurang mencerminkan penghormatan terhadap situs sejarah,” katanya.
Permintaan untuk memindahkan depo sampah itu bukan sekadar keluhan emosional. Para pegiat budaya menilai kawasan makam seharusnya menjadi ruang yang bersih dan layak sebagai tempat mengenang sejarah.
Lagu Indonesia Raya yang diciptakan Soepratman sejak era pergerakan nasional telah menjadi simbol kebangkitan bangsa.
Lagu itu pertama kali diperkenalkan secara instrumental pada Kongres Pemuda 1928 dan kemudian menjadi lagu kebangsaan setelah Indonesia merdeka.
Bagi banyak orang, warisan sejarah sebesar itu seharusnya diiringi dengan perawatan lingkungan yang mencerminkan rasa hormat.
Lentho mengatakan pihaknya memahami bahwa memindahkan fasilitas publik bukan hal sederhana.
“Kami mengerti penataan kota tidak selalu mudah. Tapi kami percaya Pemerintah Kota Surabaya mampu mencarikan solusi terbaik,” ujarnya.
Menurutnya, jika kawasan makam ditata dengan baik, tempat itu berpotensi berkembang menjadi destinasi ziarah sejarah dan wisata budaya.
Pelajar, seniman, maupun wisatawan dapat datang untuk belajar tentang perjalanan lagu kebangsaan yang lahir dari semangat perjuangan.
Menanggapi aspirasi tersebut, Emil Dardak menyatakan pemerintah akan segera melakukan kajian.
“Kami akan meneliti dan mencari solusi secepatnya,” katanya.
Jalan Hidup
Sementara itu, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha memilih berbicara santai tentang perjalanan hidupnya sebagai musisi sebelum akhirnya menjadi pejabat negara.
“Saya lahir dari rahim musik,” katanya. Ia bercerita bagaimana dulu banyak orang meremehkan pilihannya menjadi anak band, hingga akhirnya bersama band Nidji ia berhasil membuktikan bahwa musik dapat menjadi jalan hidup.
Menurut Giring, perkembangan teknologi kini membuka peluang luas bagi musisi dari berbagai daerah di Indonesia untuk dikenal dunia.
Namun di tengah cerita tentang masa depan musik Indonesia itu, persoalan sederhana tentang kebersihan makam Soepratman tetap menjadi catatan penting.
Sebab bangsa besar tidak hanya dikenang dari lagu kebangsaannya.
Tetapi juga dari cara ia merawat tempat peristirahatan para penciptanya.
Reportase
Rokimdaka

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi