Soal embos, watermarks belum menjawab usia kertas, usia tinta dan lainnya. Kepolisian juga belum berani umumkan hasil detail uji forensiknya. Publik pun masih yakin bahwa ijazah Jokowi palsu.
Oleh: M Rizal Fadillah
KEMPALAN: Rupanya ada rudal Iran yang nyasar ke Indonesia sebagai negara yang bersekutu dengan Amerika dan Israel di Board of Peace (BoP). Hanya saja meleset dari target utama Istana Kepresidenan, melenceng ke urusan ijazah palsu Joko Widodo dan mengenai seorang peneliti yang berkualikasi sebagai “ahli digital forensik” yang selama ini juga mengguncang jagat digital hingga mampu meyakini bahwa 11 ribu triliun persen ijazah UGM Jokowi itu palsu.
Kini dalam status sebagai salah satu Tersangka yang bersangkutan yakni Rismon Hasiholan Sianipar telah mengguncang kembali jagat media informasi dengan dua pemberitaan, yaitu pertama berita Rismon telah mengajukan Restorative Justice (RJ) kepada penyidik Polda Metro Jaya, dan kedua video pernyataan pribadi yang menyatakan, “tidak bisa tidur” atas temuan baru penelitiannya dari dokumen ijazah Jokowi.
Dari 8 (delapan) Tersangka sudah 2 (dua) Tersangka kasus laporan Jokowi dan pendukungnya soal penghinaan, fitnah, dan penghasutan telah menikmati hasil Restorative Justice berupa SP3. Keduanya yakni Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis kini bebas dan lepas dari status Tersangka. Mungkin ini pula yang diharapkan oleh Rismon Hasiholan Sianipar.
Video klarifikasi menyatakan Rismon mengoreksi apa yang ada pada 400 halaman tulisannya dalam buku Jokowi’s White Paper (JWP) berdasarkan variabel geometri translasi, rotasi, dan pencahayaan yang digunakan sehingga otentisitas menjadi teruji.
Keberadaan watermark, emboss, lintasan stempel dan lainnya berbeda dengan kesimpulan penelitian sebelumnya. Rismon meminta maaf telah melukai hati keluarga Jokowi. Ia menyatakan bahwa penelitian obyektif senantiasa progresif dan on going.
Sesungguhya terlalu dini klarifikasi tersebut pada konklusi otentik ijazah Jokowi. Padahal menurutnya “progresif” dan “on going“, sedang berjalan dan bisa saja berkembang. Jadi sesungguhnya belum tuntas.
Ini disebabkan sidang gugatan keterbukaan informasi KIP Bonatua Silalahi yang ternyata menang, begitu juga dengan Bonjowi Dr Leoni Lidya, Lukas Luwarso dan lainnya juga sukses dimenangkan.
Sementara gugatan Citizen Law Suit di Solo masih berlangsung. Perjuangan gigih pembuktian perkuliahan dan keaslian ijazah Jokowi menemukan titik-titik terang.
Fenomena Pasar Pramuka juga temuan progresif dan on going. Justru ini dapat menjadi penentu. Analisa penelitian meski obyektif tetap saja subyektif. Rismon bukan satu-satunya dan segalanya. Ilmu itu terbatas juga.
Soal embos, watermarks belum menjawab usia kertas, usia tinta dan lainnya. Kepolisian juga belum berani umumkan hasil detail uji forensiknya. Publik pun masih yakin bahwa ijazah Jokowi palsu.
Ada orang penting yang bisa memberi keterangan awal kepada Kepolisian soal pabrik pemalsuan Pasar Pramuka terkait ijazah Joko Widodo seperti Beathor Suryadi, Sri Rajasa, dan Rustam Effendi.
Untuk obyek keterangan keterkaitan seperti Paiman Raharjo, Andi Widjojanto, Eko Sulistyo, Prasetyo Eddy Marsudi, Anggit, David, Danny Iskandar, Indra, Juri Ardianto, Yulianto, dan Syarif. Menteri Pratikno juga wajib diminta keterangan.
Kebakaran Desember 2024 boleh menghanguskan berkas, tetapi Pasar yang sekelas Visa Amerika saja bisa lolos dan tidak terdeteksi, masih mampu untuk meninggalkan cerita tentang pembuktian bahwa ada dokumen orang penting yang pernah dibuat di sini, bukan di Universitas ternama.
Betul kata Rismon bahwa penelitian ilmiah itu progresif dan on going.
Sayang Rismon selesai dan menangisi diri dengan tragis, tetapi don’t worry be happy, investigasi masih lanjut progres dan on going to Pasar Pramuka.
Tampaknya akan banyak cerita dari sana.
*) Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi