Sabtu, 2 Mei 2026, pukul : 04:42 WIB
Surabaya
--°C

Indonesia Dalam Ancaman Amerika dan Iran

Betapa kerasnya para ahli politik dan ekonomi, spontan mengingatkan Presiden telah menempuh diplomasi politik dan ekonomi asal-asalan dengan resiko sangat berat bagi negara dan sangat memalukan di kancah nasional dan internasional.

Oleh: Sutoyo Abadi

KEMPALAN: Iran menolak damai dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Perang di kawasan Timur Tengah makin terbuka. Kapal-kapal Perang China dan Rusia mulai merapat ke dekat Teluk Hormuz.

Sementara ketegangan di Eropa makin meningkat, efek sejumlah negara Eropa menolak membantu AS dan Israel dalam perang melawan Iran.

Benar beberapa analis politik dalam dan luar negeri, keikutsertaan Indonesia dalam BoP (Board of Peace), tidak berdampak pada Presiden Prabowo Subianto (Indonesia) memiliki ruang untuk barbaining politik yang normal di forum itu, justru berdampak Amerika kembali mengancam Indonesia:

Bahwa Agar Indonesia menyatakan dukungan penuh untuk Israel; Agar segera mewujudkan hubungan diplomatik langsung dengan Israel; Kalau Indonesia tidak taat dan mematuhi perintah Trum, diancam tarif dagang akan di perbesar;

Sangat mungkin dengan ancaman militer, karena Indonesia dianggap negara yang sangat lemah politik dan ekonominya.

Ancaman Amerika tersebut jelas di ketahui oleh Iran, Rusia, dan China, wajar Iran juga mengancam:

Akan melakukan tindakan militer kalau Indonesia akan memusuhi Iran; Akan melakukan tindakan militer jika Indonesia tetap berpihak dengan Amerika dan Israel.

Dampak lain yang pasti akan menimpa Indonesia:

Bahwasanya di dalam negeri defisit anggaran negara terus meningkat. Harga BBM kemungkinan naik, ekonomi rakyat terguncang; Rakyat berpotensi akan bergolak seperti rakyat di Timur Tengah.

Sesuai sifat dan nalurinya, mahasiswa yang tahu negara dalam ancaman dari dalam dan luar negeri pasti akan bergerak bersama rakyat, kemungkinan akan turun ke jalan dalam skala besar, memprotes keberpihakan Indonesia kepada Amerika dan Israel yang melanggar konstitusi pembukaan UUD 1945.

Kita tidak tahu persis hanya wajar Angkatan Bersenjata (TNI) sudah siaga satu. Pertanda situasi dunia dan Indonesia sedang memanas. Sesuatu yang besar akan terjadi, yang akan mengubah peta dan wajah dunia serta Indonesia di masa depan.

Prabowo Babak Belur

Donald Trump pasti tidak membayangkan dengan jumawa terpancar di layar lebar dipertontonkan di seluruh muka bumi menginisiasi Dewan Perdamaian BoP yang membayangkan dirinya sebagai raksasa dunia, secepat kilat bisa menjadi sampah politik dunia.

Kesalahan fatal yang dilakukan AS – Israel dalam serangan ke Iran 28 Februari, jauh dari wajahnya sebagai inisiator Dewan Perdamaian, yang tampak sebagai drakula dengan angkuhnya menyerah kedaulatan negara lain menginjak semua hukum internasional bergaya Rambo.

BoP seketika itu kehilangan substansi moral kemanusiannya dan Trump telah melanggar tatanan hukum internasional sebagai pemimpin negara agresor.

Otomatis gagasan Presiden Prabowo yang akan mengirim pasukan TNI ke Gaza lewat BoP sebagai katalisator diplomasi politik Indonesia dalam mempercepat kemerdekaan Palestina, menjadi tertawaan di dalam dan luar negeri.

Presiden Prabowo mestinya menyadari kesalahan dan kekeliruannya mengikuti arus atau syahwat politik Trump dan Benjamin Netanyahu. Sadar bahwa Trump beserta Netanyahu adalah penjahat perang.

BoP yang diinisiasi Trump hanya menjadi lembaga tipuan dan omon-omon untuk perdamaian Palestina, yang oleh Prabowo masih digadang-gadang sebagai two state solution.

Lebih konyol lagi munculnya imajinasi dan mimpi ingin menjadi juru damai perang Iran dengan Amerika dan Israel. Bersamaan Dubes Iran baru baru ini menyatakan, “tak ada perdamaian dan perundingan dengan AS”, kalau AS hanya akan mendikte negara berdaulat.

Rakyat Indonesia masih terluka dengan kebijakan Presiden yang telah menjual harga diri dan kedaulatan negara dengan peristiwa baru baru ini, yakni perjanjian dagang antara Indonesia dan AS yang dinilai tidak masuk akal, Presiden dengan merundukan kepalanya mengorbankan kepentingan nasional Indonesia.

Prabowo Subianto tidak ada gunanya membela diri dengan alasan apapun telah melakukan kesalahan-kesalahan yang fatal.

Betapa kerasnya para ahli politik dan ekonomi, spontan mengingatkan Presiden telah menempuh diplomasi politik dan ekonomi asal-asalan dengan resiko sangat berat bagi negara dan sangat memalukan di kancah nasional dan internasional.

Tidak ada kamusnya memenangkan diplomasi politik dan ekonomi di kancah global dengan kepala merunduk kayaknya pesuruh dan budak negara lain. Sekarang terserah Presiden Prabowo terus melaju dijamin babak belur atau mundur teratur dengan pijakan Pembukaan UUD 1945.

*) Sutoyo Abadi, Koordinator Kajian Politik Merah Putih

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.