KEMPALAN : Kata banyak teman saya punya memori kuat jika mengingat tempo dulu — paling tidak yang menyangkut rentetan kejadian seputar 30-50 tahun lalu.
Indikasinya ketika saya menurunkan serial “THR Surabaya Tempo Doeloe” di fesbuk, banyak teman memuji saat mengisahkan hal-hal detail yang menyangkut masa lalu kompleks hiburan rakyat itu.
Boleh jadi yang dikatakan teman-teman betul. Meski tidak seratus persen. Buktinya beberapa teman yang komen yang sifatnya memberi tambahan informasi, yang menandakan saya lupa-lupa ingat. Baru ingatan saya dipertajam setelah informasi itu muncul beberapa saat.
Tapi saya ada kelemahan jika mengingat hal-hal yang baru dikerjakan, misal meletakkan kunci kendaraan, menaruh kacamata, membuka kran air mengisi bak mandi, dan sebangsanya : sering kali lupa.
Yang termasuk sering : menghangatkan sayur. Pernah sayur bobor dalam panci yang saya hangatkan, saya tinggal masuk kamar.
Untuk mencegah nyamuk masuk setelah tadi pintu saya buka — saya tutup kembali.
Lantas saya jejeri istri saya yang sedang berbaring, dan saya pun menyusul melakukan “autisme” sama-sama berHP-ria.
Selang kemudian istri saya berteriak: “Paakkk!!!”.
Saya kaget. Betul, kaget! Spontan saya berpikir, nggak ada ba bi bu kok ngajak tengkar, onok opo iki…
“Ngenget sayur, yo?”
“Iyo… “jawab saya.
“Sayur-e wis tak nget sore tadi…”
Saya terus bangkit menuju dapur setelah membuka pintu kamar. Buset! Bau gosong langsung menusuk hidung!
Segera saya matikan kompor di antara remang-remang cahaya dan tebal asap. Di dalam panci tampak secuil bara sebesar ujung lekukan sendok. Apa ini? Saya tidak tahu. Saya masih takut mendekat. Kami pun terdiam saling pandang. Dapur dan ruang makan masih menyengat dan penuh asap.
Kemudian lampu dapur dan ruang makan dihidupkan istri saya. Semua pintu yang berhubungan dengan pintu luar saya buka.
Panci kami dekati, bara api di dalam panci logam yang gosong song kami perhatikan dengan sesama.
“Oh… irus, Pak…” kata istri saya. Bara itu berasal dari irus (ciduk/sendok besar terbuat dari tempurung kelapa) yang geripis/terkikis tinggal secuil. Kok bisa ya, tidak bersentuhan langsung dengan api bisa jadi bara?
Kegoblokan saya muncul di saat situasi genting…. He-he-he.
*
Pagi subuh selang beberapa hari kemudian, kejadian seperti di atas berulang. Soto ayam yang kemarin siang dibeli anak saya,
saya hangatkan lagi. Kemarin istri saya tidak masak, seharian kami momong cucu dan mengajaknya ke Trans Mart.
Lantas saya bayangkan, nanti setelah pulang subuhan akan saya makan dengan tambahan nasi, pasti mak nyus. Saya lihat poyanya juga masih ada sebungkus. Krupuk di toples plastik juga masih ada beberapa.
Ketika sepeda motor sampai di depan salah satu mini market kira-kira masih separuh perjalanan ke masjid, tiba tiba “Lho aku tadi menghangatkan sayur nggak, ya….” Ragu-ragu…
Segera saya balik arah, sepeda motor saya kebut. Dan pintu pagar saya buka, suara derit terdengar keras. Pintu kamar tamu saya buka…dan bau gosong menyerang hidung saya.
Lantas saya matikan kompor. Saya lanjutkan korah korah, tidak saja panci yang gosong. Ruang dapur jadi mbulak warnanya.
Tak lama, salah satu anak saya perempuan yang tidur di lantai atas yang setiap Jumat malam pulang karena kerja di luar kota, berteriak: ” Paakkk!!!!”.
Kemudian bergegas menuruni tangga. Saya pun menoleh dan memberi isyarat dengan menempelkan jari telunjuk ke mulut. Maksudnya jangan sampai kedengaran ibunya, istri saya. Jelas saya akan digrenengi 😃. (AM/Foto masak di dapur kebakaran: Google).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi