KEMPALAN : Siang itu sekitar 5 tahun lalu, saya berangkat ke gedung JX (Jawa Timur Expo) di Jalan A. Yani, Surabaya, untuk menghadiri pembukaan Pasar Seni Lukis Indonesia ke-10, sebuah perhelatan tahunan yang melibatkan sekitar 200 pelukis dari banyak kawasan di Tanah Air dengan menampilkan lebih kurang 8.000 lukisan.
Sampai di lampu stopan samping kantor Kecamatan Rungkut, mobil mengantre untuk menunggu lampu hijau menyala. Cuaca begitu panas. Menyengat.
Dari deretan 4-5 mobil yang ada di depan saya, terlihat sesosok langsing mengenakan celana panjang dan jaket terusan nyambung sebentuk topi/tudung yang menutupi kepalanya (hodie?), dengan beberapa majalah di tangan, makin lama kian dekat ke arah mobil saya.
Setelah sampai di mobil depan saya, tampak sesosok ini selain tangan kanannya memegang beberapa majalah, tangan kirinya memegang icrik-icrik yang biasa dipakai untuk mengamen. Buset deh, pikir saya, ‘kreatif’ juga ini orang. Kalau dagangannya tidak laku, icrik-icrik dari tumpukan tutup botol itu lantas digoyangnya, digunakan untuk mengais “seperak-dua perak”.
Ketika telah persis di samping kanan mobil saya, sosok ini lha kok perempuan. Lantas tombol kaca saya pencet, saya ulungkan sekeping seribu rupiah, dan perempuan muda itu sedikit membungkukkan badan ber-gesture pemain drama sembari mengatakan, “terima kasih pengacara…”
Saya sedikit tertegun… Ini siang kok aneh ya. Rasanya seperti di alam antah berantah. Ada orang menjual majalah sambil ngamen, ditambah ucapan terima kasih yang juga aneh. Pengacara?
Apa sosok seperti saya ini potongan pengacara. Kalau pengangguran banyak acara memang tidak salah. Benar-benar siang yang absurd!
Seperti hari-hari sebelumnya, saya terbiasa pakai baju batik lengan pendek dan berkaca-mata jarak jauh. Hanya kali ini saya pakai topi anak saya model sosoran, mengingat hari-hari belakangan cuaca Surabaya sangat terik ditandai dengan langit biru bersih. Btw, apa pengacara identik dengan berpakaian batik?
—
Berkaitan dengan hal tersebut –meski tidak persis– saya teringat saat tinggal di kawasan Kalibokor, Surabaya, sekitar 45 tahun lalu ketika masih bujang. Seorang tetangga –laki-laki muda– bertanya pada saya setengah “fait accompli” : “Mas, sampeyan ini wartawan tapi potongannya kok gak seperti wartawan ya…?!”
“Lha kayak apa, lho?” ujar saya balik bertanya.
“Guru!” katanya, disusul senyum-senyum.
Eladalah ! (AM/Foto ilustrasi : Google).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi