Jumat, 1 Mei 2026, pukul : 16:26 WIB
Surabaya
--°C

Presiden Prabowo Hanya Berimajinasi Jadi Juru Damai Iran Dengan AS dan Israel

“Orang kita sudah ada di mana-mana, baik dari Eropa, Asia, China, bahkan Afrika”. Jenderal Ariel menyatakan bahwa agar Indonesia tidak perlu banyak ikut campur terhadap politik luar negeri yang bukan menjadi wilayah kepentingannya.

Oleh: Sutoyo Abadi 

KEMPALAN: Presiden Prabowo Subianto dinyatakan siap terbang ke Teheran untuk menjadi juru damai antara Iran dan Amerika Serikat. Dalam pernyataan tertulis Kementerian Luar Negeri, Indonesia mengajukan diri untuk menjadi fasilitator dialog para pihak yang berkonflik.

“Apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran guna melakukan mediasi,” demikian tertulis dalam pernyataan tersebut, Sabtu, 28 Februari 2026.

Di dalam negeri sendiri langsung mendapat respon dari mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal, menilai ide Presiden Prabowo bertolak ke Teheran untuk menjadi juru damai antara Iran dan Amerika Serikat tidak realistis.

“Sebagai political scientist yang independen dan juga sebagai mantan diplomat Indonesia, saya heran kenapa ide ini tidak difilter dulu sebelum diumumkan karena sangat tidak realistis,” ucap Dino melalui unggahan video dalam akun Instagram pribadinya, @dinopattidjalal, pada Ahad, 1 Maret 2026.

Dino yakin Presiden AS Donald Trump tidak ingin Indonesia ikut campur. Sebab, Dino menilai bahwa sekarang ini Trump sedang gelap mata ingin menumbangkan pemerintahan Iran.

Amit-amit Israel merespon imajinasi atau khayalan Presiden Prabowo, justru yang didapat ejekan dari Jenderal Israel.

Mengutip dari kantor berita Yerusalemo Straight, komandan umum batalyon infiltrasi serangan senyap global Mayor Jenderal Jacoob Ariel Ashaabi menyebut dengan tegas bahwa:

“Orang kita sudah ada di mana-mana, baik dari Eropa, Asia, China, bahkan Afrika”. Jenderal Ariel menyatakan bahwa agar Indonesia tidak perlu banyak ikut campur terhadap politik luar negeri yang bukan menjadi wilayah kepentingannya.

“Sebaiknya Indonesia fokus pada hal-hal kebutuhan mendasar masyarakatnya, kami mengetahui banyak hal yang harus dibenahi, mulai dari kemampuan durasi perangnya yang sangat singkat dan lemah, serta kebutuhan pokok warganya. Tolong jangan ikut campur terhadap urusan kami. Jika tidak, maka kami tidak segan-segan untuk menghentikan jantung ibukota anda”.

Jenderal yang dikenal dengan ahli dalam kamuflase ini menyampaikan dengan keras bahwa peperangan dengan Iran ini adalah murni urusan politik negara keduanya, mencampuri urusan keduanya akan berakibat fatal karena hal itu akan makin memperkeruh dinamika eskalasi dunia terhadap kemungkinan meletusnya perang dunia ketiga.

Dino menyatakan pertemuan Prabowo dan Benjamin Netanyahu berarti political suicide alias bunuh diri politik bagi Presiden Prabowo di dalam negeri. “Saya sungguh tidak tahu dari mana datangnya ide yang menakjubkan ini agar Presiden Prabowo terbang ke Teheran untuk menjadi mediator konflik segitiga ini,” kata Dino.

Komentar pejabat Kementerian Luar Negeri juga terlihat bodohnya, negara merdeka harus tunduk pada kekuatan dari luar (AS dan Israel), mengatakan: “Indonesia menyesalkan kegagalan perundingan Amerika Serikat dengan Iran sehingga konflik bersenjata kembali meletus. Kementerian Luar Negeri pun menyerukan agar semua pihak yang terlibat menahan diri serta mengedepankan dialog dan diplomasi”.

Semua ini terjadi karena negara ini sudah tidak kenal lagi dengan rambu-rambu Pembuatan UUD ‘45 sebagai pakem kebijakan luar negerinya.

Yang muncul dari Presiden Prabowo hanya imajinasi dan khayalan di luar akal sehatnya, dalam menjalankan kebijakan luar negerinya, berakhir menjadi lelucon dan ejekan kekuatan politik global. (*)

*) Sutoyo Abadi, Koordinator Kajian Politik Merah Putih

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.