Sabtu, 18 April 2026, pukul : 22:55 WIB
Surabaya
--°C

Prabowo Juru Damai Israel – Iran: Mimpi Kalee?

Pilihan rakyat semakin sulit dan sempit. Awal hanya minta makzulkan Gibran namun kini terpaksa harus mendesak agar makzulkan Prabowo dan Gibran. Konstitusi mengatur mekanismenya.

Oleh: M Rizal Fadillah

KEMPALAN: Ketika Indonesia tidak lagi memimpin negara Non Blok tapi menjadi bagian dari kepentingan Amerika Israel di BoP (Board of Peace) maka ini hanya mimpi untuk menjadi mediator perdamaian konflik sang “majikan” dengan Iran.

Di depan AS – Israel, Presiden Prabowo Subianto baru diangkat sebagai “kacung”, sementara di depan Iran yang memiliki keberanian melawan dipandang: “siapa elu?” Untuk menjadi “kacung” saja harus bayar upeti Rp 17 triliun. Semua tahu porsi mediasi konflik itu berada di kelas PBB.

Prabowo ini “ge er” menjadi orang besar dunia setelah bergaul di BoP. BoP itu badan tertawaan AS Israel atas sukses tipu-tipunya dan makian Palestina atas kebodohan Indonesia yang berada dalam kubu zionis Israel.

Rakyat Indonesia sendiri juga melihat Prabowo secara terang-terangan telah menandatangani penyerahan kedaulatan negara kepada Donald Trump. Amerika dan Israel berbahagia memiliki budak baru.

Baru sehari perang yang mengguncang dunia, Prabowo sudah narsis tawarkan diri untuk menjadi mediator. Rudal AS – Israel baru meledak di Teheran dan kota lain Iran.

Rudal Iran baru menghancurkan pangkalan AS di Bahrain, Qatar, Saudi dan juga lainnya. Begitu juga dengan kepanikan di Tel Aviv akibat diguncang rudal Iran. Satu hari perang mulai dan akan bereskalasi, kemudian siapa yang percaya bahwa Prabowo bisa mengatasi? Mimpi kalee.

Urusan BoP saja kontroversial. Dorongan rakyat agar segera keluar juga kuat. Ini akibat ia membuat perjanjian internasional seenaknya tanpa mengikuti ketentuan konstitusi.

Presiden Prabowo melanggar UUD 1945. Bahkan, dengan duduk bersama negara biadab jelas menginjak ideologi negara khususnya sila kemanusiaan yang adil dan beradab. Israel itu negara zalim dan tidak memiliki adab.

Kesiapan Prabowo menjadi juru damai perang AS – Israel dan segera terbang ke Teheran adalah ide bagai pungguk merindukan bulan. Ketimbang realistis lebih dekat ke narsistis. Utopis bahkan mistis.

Berangkatlah ke Teheran membawa bayang-bayang Donald Trump dan Benjamin Netanyahu, dijamin tidak akan bisa kembali lagi. Habis dan tamat cerita Prabowo. Perang atas konflik serius seperti itu dianggap bisa selesai dengan diplomasi joget gemoy di panggung? Weleh.

Urusan dalam negeri saja sudah brat bret brot. Prabowo tidak becus mengelola negara.

Lihat saja kinerja Polri, hubungan dengan Jokowi, embege, impor India, koperasi ambisi, korupsi, kebrengsekan menteri, pengangguran, kesenjangan, hingga soal Gibran Gakabuming Raka dan mainan masa depannya. Indonesia semakin gelap saja.

Prabowo bukan pemimpin yang memberi harapan. Omon-omon gedenya menjadi karakter. Semakin terlihat terang akan ketidakmampuannya. Pelanggaran idologi dan konstitusi adalah kejahatan serius bangsa.

Pilihan rakyat semakin sulit dan sempit. Awal hanya minta makzulkan Gibran namun kini terpaksa harus mendesak agar makzulkan Prabowo dan Gibran. Konstitusi mengatur mekanismenya.

Prabowo – Gibran telah merusak kedaulatan negara, kedaulatan rakyat, dan kedaulatan hukum.

Baju kepemimpinan negara terlalu kebesaran bagi keduanya. Kedodoran jadinya. (*)

*) M Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.