Selasa, 2 Juni 2026, pukul : 18:11 WIB
Surabaya
--°C

Jazirah Arabiah di Mata Rogan

Dengan lima tesis tersebut, Rogan memperluas pendekatannya yang dalam dan kontekstual saat mempelajari sejarah itu, sehingga punya kemampuan dahsyat ketika menjelaskan kompleksitas sejarah yang muncul.

Oleh: Yudhie Haryono

KEMPALAN: Judul Asli buku ini A History of The Modern Arabs. Ditulis oleh Eugene Rogan dengan jumlah halamannya, 784+vii. Terbit pada Juni 2024.

Adakah mens rea dalam karya-karya Eugene Rogan? Pasti. Di mana itu? Mari kita temukan bersama. Ini adalah buku ketiga dari bahan bukber pada Ramadan tahun 2026.

Kita tahu bahwa Rogan adalah sejarawan Amerika yang spesialisasi dalam sejarah Timur Tengah dan Afrika Utara dari era Utsmaniyah hingga sekarang ini. Ia adalah Profesor Sejarah Timur Tengah Modern di Universitas Oxford dan Direktur Pusat Timur Tengah di St Antony’s College, Oxford.

Tugasnya jelas: menemukan kelebihan dan kekurangan warga Arabiah.

Karenanya, tesis yang menarik darinya adalah, “terikat oleh identitas bersama yang berakar pada bahasa dan sejarah, bangsa Arab (itu) lebih menarik karena keragamannya. Mereka adalah satu bangsa sekaligus banyak bangsa pada saat yang bersamaan (h.333).” Mirip Indonesia: kumpulan bangsa-bangsa (suku) yang membentuk bangsa (suku) baru.

Pada bangsa dan negara banyak suku dan ras, mereka mudah diadu-domba. Mereka mudah diinfiltrasi dan dimutilasi. Arab spring adalah produk terbaik adu- domba di negeri arabiah. Inilah sumbangan data dan hasil riset Rogan pada kebijakan invasi di jazirah arabiah.

BACA JUGA  Ada Dua Kali Adil

Rogan lahir pada 31 Oktober 1960 di Burbank, California, dan memperoleh gelar sarjana di bidang ekonomi dari Columbia University, serta gelar master dan doktor di bidang sejarah Timur Tengah dari Harvard University. Ia telah menulis beberapa buku terkenal, termasuk “The Arabs: A History” dan “The Fall of the Ottomans: The Great War in the Middle East, 1914-1920“.

Melengkapi informasi tentangnya, Rogan merupakan Fellow dari British Academy dan telah menerima beberapa penghargaan atas kontribusinya dalam studi Timur Tengah. Tentu saja riset dan buku-bukunya (tersebut) selalu spesial dan memicu perdebatan, juga menjadi big data bagi negeri asing ketika ingin menjajah.

Suatu kali, ia berucap bahwa, “sejak 1517 dan seterusnya, bangsa Arab menegosiasikan tempat mereka di dunia melalui aturan yang ditetapkan oleh negara asing dan di ibu kota asing (Amerika dll), padahal, bangsa Arab tidak pernah menerima untuk dijajah oleh Inggris, Prancis, Israel dan negara manapun.” Di sini mens rea-nya: kumpulin data untuk modal menginvasi.

Dengan membaca semua karyanya, kita dapati bahwa inti pemikirannya adalah:

(1) Sejarah bangsa Arab adalah proses kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk politik, ekonomi, sosial, dan budaya; (2) Di sinilah pentingnya memahami konteks sejarah dalam mempelajarinya agar tidak terjerumus menjadi pengadilan dan pelabelan yang salah;

BACA JUGA  Tantangan Terbesar Presiden Prabowo: Bagaimana Menjelaskan Visi Besarnya Kepada Rakyat

(3) Terdapat adanya peran negara-negara besar (Inggris, Prancis, Amerika) dalam membentuk sejarah mereka yang sangat dominan; (4) Terlihat nasionalisme (Islam dll) sebagai kekuatan penting dalam sejarahnya;

(5) Pentingnya memahami perspektif lokal dan pengalaman masyarakat arabiah dalam mempelajari sejarah wilayah tersebut agar fair dan adil plus objektif.

Dengan lima tesis tersebut, Rogan memperluas pendekatannya yang dalam dan kontekstual saat mempelajari sejarah itu, sehingga punya kemampuan dahsyat ketika menjelaskan kompleksitas sejarah yang muncul.

Di sini, Rogan (juga) memiliki pengetahuan yang sangat luas sekaligus punya kemampuan analisis yang kuat dan memungkinkannya untuk memahami dan menjelaskan kompleksitas sejarah serta tahu persis kelemahannya. Di sini, rekomendasi Rogan menjadi penting bagi politik luar negeri Amerika dkk.

Rogan memang dikenal objektif dalam menulis tetapi terlalu fokus pada negara-negara besar yang telah mengendalikan sehingga kurang memperhatikan peran masyarakat lokal; ia juga kurang (begitu) memperhatikan aspek ekonomi dalam analisisnya sehingga terlalu kompleks, yang dapat membuat pembaca kesulitan memahami argumennya.

Di atas segalanya, kita perlu belajar pada semangatnya dan pada usaha mewarnai cara pandang dunia terhadap jazirah arabiah. Saat bersamaan, kita juga perlu bikin wacana tandingnya.

*) Yudhie Haryono, Pengasuh Pesantren Yusufiah

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.