KEMPALAN: Ini pengalaman saat meliput tur musik rock yang dipromotori Log Zhelebour lebih kurang 35 tahun lalu. Tur ini menampilkan grup band God Bless, El Pamas, Power Metal dan penyanyi Mel Shandy. Ada lebih kurang 40 kota yang dipentasi musisi-musisi ini. Saya dan Rokim Dakas wartawan Surabaya Post terlibat aktif meliput, khususnya di Jawa dan Sumatera. Selain bertugas meliput, saya merangkap kru pertunjukan sebagai humas.
Tur musik ini biasanya pentas di beberapa kota, lantas kembali ke base camp di Surabaya. Kemudian pentas lagi di beberapa kota. Pulang lagi ke Surabaya. Libur beberapa hari, berangkat lagi, dan seterusnya, hingga mencapai 40 kota.
Saat itu pun giliran tur di lima kota Sumatera (Padang, Pekanbaru, Palembang, Banda Aceh dan Medan). Rombongan kru dan peralatan panggung diangkut dengan 10 buah truk dan empat mobil (1 kijang dan 3 mini van).
Banyak catatan menarik di luar hal-hal yang berkaitan dengan aksi panggung dalam road show itu, salah satunya yaitu dimana-mana kami selalu menjumpai Rumah Makan Padang. Entah itu di Jawa atau di Sumatera.
Tapi saat memasuki Provinsi Sumatera Barat, lebih-lebih di Kota Padang, kami tak pernah menjumpai Rumah Makan Padang sebagaimana umumnya tertulis di papan nama. Yang ada yaitu rumah-rumah makan dengan nama-nama seperti RM Salero Bundo, RM Restu Bundo, RM Ampera, dan nama-nama lain tanpa ada kata tambahan “Padang” atau “Masakan Padang” di depan huruf “RM” (rumah makan). Tentu saja, meski tanpa kata-kata “Padang” atau “Masakan Padang”, yang disajikan ya tetap masakan padang atau masakan sumatera barat.
Beberapa kru yang mengikuti tur melalui jalan darat, lantas melontarkan pengalaman ini kepada para artis yang melalui jalur udara setiba di hotel. “Ternyata di sini tak ada rumah makan padang,” kata seorang kru kepada salah satu musisi Elpamas. Musisi itu heran dengan lontaran itu. Baru ngeh setelah dijelaskan jluntrungannya.(AM/Ilustrasi foto: Google).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi