Buhun Warwer, “Susah Mencari Kerja”

waktu baca 5 menit
Buhun Warwer (Foto : konversi dari video di Google).

KEMPALAN: Apa definisi akun Tik Tok dianggap sukses?

Mungkin di antaranya seperti ini : Jumlah follower banyak; komentar dan interaksi yang tinggi; konten unik dan kreatif.

Jika hal tersebut menjadi kriteria, maka akun ‘Buhun Warwer’ yang diikuti 79,7 ribu orang dan total disuka oleh 1,7 juta netizen, patut lolos kriteria.

Dari tiga kriteria di atas, agaknya poin sebagai : konten unik dan kreatif –boleh jadi, ditambah dengan jati diri kuat dari akun tersebut– akun ‘Buhun Warwer’ lah yang sering FYP (for your page) di beranda Tik Tok saya, pas dengan tiga poin tersebut.

Lantas apa ciri khas akun ‘Buhun Warwer’ ? Delapan puluh lima persen menampilkan narasi seorang pemuda lulusan SMK jurusan Otomotif yang mencari pekerjaan selalu ditolak setiap memasuki industri dan dunia usaha.

Ada momen memperlihatkan, baru saja berada di depan gerbang pabrik, oleh security sudah dibilang : gak ada lowongan.

Kalau pun ada yang diterima untuk menjalani seleksi, selalu gagal di tahapan wawancara dengan HRD. Sampai-sampai sosok pencari kerja ini hafal kalimat penolakan halus itu : nanti kita kabari, tolong selama seminggu mendatang HP Anda on-kan terus ya.

Buhun Warwer sebagai sosok sentral akun ini selalu tampil dengan outfit : baju putih lengan panjang, celana gelap, sepatu sneaker hitam, tas punggung.

Dan selalu memegang atau menggamit amplop besar warna coklat yang berisi surat lamaran kerja. Sampai-sampai ada komentar begini : “Kok amplop lamarannya gak dimasukkan tas. Kenapa mesti dicangking?” Tentu saja amplop besar warna coklat ini adalah bagian dari outfit. Ciri khas.

Sosok pencari loker (lowongan kerja) ini seringkali digambarkan berjalan di trotoar kawasan industri, berteduh di bawah pohon karena kelelahan jalan kaki keluar masuk halaman pabrik untuk menanyakan kans loker.

Pernah juga ketiduran, atau tidur di trotoar pada siang terik, di bawah pohon. Menggambarkan saking lelahnya.

Semua hal tersebut dilakukannya selalu menyertakan outfit itu.

Dan ini yang menjadi salah satu ciri kuat konten tersebut, sosok Buhun Warwer –maaf, bertubuh pendek– meski tidak mirip Ucok Baba, tetapi sedikit lebih tinggi dari pelawak senior almarhum Ateng.

Team kreatif konten ini saya anggap luar biasa. Penayangan konten-kontennya natural, baik yang menyangkut akting dan gesture Buhun Warwer maupun logika-logika narasinya. Oleh sebab itu tidak salah jika ada yang nulis begini di kolom komentar : “Ini memang konten. Tapi begitulah cermin kondisi kita saat ini, betapa susah mencari kerja.”

Tidak setiap konten diberi judul. Kalau pun ada judul, senantiasa mencerminkan dunia lapangan kerja. Misalnya : Pertanyaan HRD yang Konyol Saat Interview; Sampai Kapan Gini Terus, Susah Cari Kerja; Calo Pabrik; Pejuang Job Fair; Ditraktir Teman yang Baru Masuk Kerja; Apakah Aku Bisa !
Apakah Aku Bisa ! Begini Isi Pikiranku Setiap Saat; Ketemu Teman Ngebolang di Kawasan.

Yang dimaksud ‘ngebolang di kawasan’ adalah kawasan industri tempat mereka keluar-masuk pabrik untuk mencari pekerjaan. Mungkin di Tangerang, atau Bekasi, atau di wilayah dekat-dekat Jakarta.

Dari akun ini kita tahu Buhun Warwer yang memerankan pejuang loker, diibaratkan sosok yang senantiasa tabah selama belum dapat kerja, kendati selalu ditolak saat melamar kerja.

Namun di balik ketabahan dirinya, mencuatkan juga rasa empati saat melihat nasibnya. Hal tersebut antara lain terlihat dari konten berjudul : Pengen Banget Seperti Mereka, tapi Apa Daya Cuma Bisa Ngelihatin.

Konten dengan judul di atas memperlihatkan Buhun sedang duduk di plengsengan got. Kakinya menjuntai ke dalam got kering tak berair. Di dekat Buhun duduk, sekumpulan buruh berseragam kaos oblong lengan panjang sedang makan siang di bawah pepohonan di depan sebuah pabrik.

Antara lain memperlihatkan adegan dua orang lelaki buruh makan berdua yang nasi bungkusnya terbuka, diletakkan di rerumputan.

Saya trenyuh melihat Buhun yang masih nganggur memperhatikan kebahagiaan para buruh sedang istirahat makan siang, saya pun terharu melihat buruh-buruh makan dengan begitu sederhananya. Padahal ini cuma konten.

Ada juga judul yang tak kalah menarik : Bingung Cari Kerja di Indonesia, di Atas 29 Tahun Dianggap Fosil, di Bawah 21 Tahun Dibilang Belum Cukup Umur.

Dari puluhan ribu komentar yang terbagi di konten-konten akun ini, saya baca komentar bernuansa politis dari akun ‘@Jibril 63’ : “19 juta (janji) lapangan pekerjaan tidak terlaksanakan.”

Tentu saja komentar-komentarnya lebih banyak terkonteks dengan masalah lapangan kerja, seperti komentar dari akun ‘@AndianaRini’ : “Woi ini persis aku dulu, jalan kaki ke kawasan 25 tahun lalu. Sekarang aku masih bertahan kerja di kawasan. Makasih udah mengingatkan pengalaman minum air keran.”

Selain adegan-adegan mencari kerja, juga digambarkan suasana lain, salah satunya kehidupan di kos dengan segala suka-duka (lebih banyak dukanya), seperti betapa Buhun menahan perasaan lantaran beberapa kali uang kiriman ortu dari desa telat. Sehingga patungan bayar kos sering ditalangin teman sekamar. Atau untuk makan terpaksa harus nimbrung.

Implementasi narasi-narasi konten ini seringkali memperlihatkan Buhun Warwer bermonolog, atau seakan-akan menjawab rentetan pertanyaan. Akting Buhun sebagai pejuang pencari kerja begitu menjiwai.

Oya, ada lagi momen menarik, Buhun Warwer sedang mengomentari rentetan mosaik foto demo buruh lantaran habis di-PHK yang ada di salah satu videonya. Lantas disambung dengan monolognya, Buhun berdiri di pinggir jalan raya dengan latar belakang bangunan pabrik, antara lain : “Yang sudah kerja saja di-PHK, terus bagaimana nasib pencari kerja seperti saya…”

Btw, siapa sesungguhnya Buhun Warwer? Ternyata saya kurang update. Saya pikir komika itu cuma Mongol, Raditya Dika, Pandji Pragiwaksono, Ernest Prakasa, Indra Jegel, Rigen Rakelna, Bintang Emon, Dodit Mulyanto, Kiky Saputri, Arie Kriting, Babe Cabita, Coki Pardede, dan Soleh Solihun. Atau Rispo. Atau juga Nopek Novian.

Nah, Buhun Warwer adalah pelaku stand up
comedy yang sedang naik daun. Keahlian profesinya sering disewa untuk memperkenalkan produk.

Sebelum dikenal sebagai komika, Buhun pernah bekerja sebagai kenek, yang lantas meningkat jadi sopir. Antara lain pernah di divisi angkutan Coca Cola. (Amang Mawardi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *