Rabu, 17 Juni 2026, pukul : 19:03 WIB
Surabaya
--°C

Dibekali Ilmu Agama dan Digital, Lulusan Pesantren Al Yasmin Siap Kerja

SURABAYA-KEMPALAN: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meresmikan Pesantren Digipreneur Al Yasmin Surabaya, Senin (10/11) malam. Sesuai namanya, pesantren ini siap mencetak santri yang tak hanya menguasai ilmu agama, melainkan juga dibekali kompetensi dan teknologi sehingga bisa diterapkan di dunia kerja.

Hal ini disampaikan oleh Founder Pesantren Digipreneur Al Yasmin Helmy M. Noor kepada wartawan usai acara peresmian pesantren, Senin (10/11) malam.

“Kami ingin membekali santri tidak sekadar ilmu agama, tapi juga ilmu digital. Kalau biasanya santri baca kitab, sekarang bagaimana ada kolaborasi juga menggunakan laptop. Artinya, laptop ini simbol IT, simbol teknologi,” katanya..

Sehingga, lanjut Helmy, kitab dan teknologi bisa berseiring saling melengkapi, tidak sebaliknya. “Jadi kalau orang belajar lewat kitab sekarang ditambahi lewat laptop. Untuk kepentingan apa? Kepemtingan penguasaan digitalnya. “Ini yang akan dikembangkan di sini,” tuturnya.

BACA JUGA  Khofifah Buka Jambore Perhutanan Sosial di Madiun, Dorong KUPS Naik Kelas

Tidak hanya itu. Menurut Helmy, Al Yasmin juga akan mengajarkan soal enterpreneur. Sehingga begitu keluar dari pesantren ini sudah mempunyai bekal, sudah punya pandangan apa yang akan dilakukan atau dikerjakan.

Founder Pesantren Digipreneur Al Yasmin Helmy M. Noor saat diwawancarai wartawan usai acara peresmian pesantren, Senin (10/11) malam. (Foto: dwi arifin/kempalan.com).

“Sehingga selain ngaji, mereka juga menguasai aspek digital dan punya skill untuk bisa bersaing di luar, siap kerja juga,” katanya.

Karena itu, selain ijazah pondok, lulusan Pesantren Digipreneur Al Yasmin juga akan mengantongi ijazah kompetensi. Sedang lama pendidikan di pesantren ini berlangsung setahun.

Untuk santrinya sendiri, Helmy menjelaskan ada dua pilihan yang ditawarkan Pesantren Digipreneur Al Yasmin, yaitu santri bisa pulang setiap selesai berkegiatan di pesantren dan kedua mondok.

“Kalau santri yang short course satu dua hari. Kalau yang mondok ya satu tahun. Mereka belajar soal konten kreator, public speaking, dan video,” ungkapnya.

BACA JUGA  Khofifah Ajak Masyarakat Jadikan Tahun Baru Hijriah Momentum Hijrah Menuju Kebaikan

Saat ini, kata Helmy, jumlah santri yang hendak belajar ilmu agama dan Interpreneur digital di Al Yasmin sebanyak 1.000 orang yang short course. Sedang yang mondok berjumlah 36 santri.

Peresmian Pesantren Digipreneur Al Yasmin pada Senin malam kemarin juga ada pencatatan rekor dari Museum Rekor Indonesia (MURI).

Pesantren Digipreneur Al Yasmin dianugerahi rekor MURI untuk kategori “Peresmian Lembaga Pendidikan Agama Dengan Pertunjukan Drone Konfirmasi Terbanyak”. (Dwi Arifin)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.