BATIK adalah salah satu contoh budaya yang diakui di Indonesia dan dunia. Batik merupakan warisan budaya tak benda dari Indonesia yang telah ditetapkan oleh UNESCO sejak Oktober 2009. Salah satu produk batik yang kini lagi ngetren adalah ecoprint.
Dan di “Kota Pahlawan” Surabaya ada batik ecoprint yang belakangan namanya lagi ramai jadi buah bibir, yakni Namira Ecoprint. Produk UMKM binaan Kadin Jawa Timur ini tidak saja dikenal di tingkat regional, tapi juga nasional, bahkan mancanegara.
Setidaknya, ada beberapa negara yang kini jadi pelanggannya. Sebut saja Timor Leste, Thailand, Malaysia, Jepang, Arab Saudi, Turki, Kanada, Italia, Prancis, Rusia, dan Meksiko.
“Secara resmi Namira Ecoprint memang belum melakukan ekspor ke luar negeri. Tapi, banyak wisatawan mancanegara yang datang langsung ke rumah produksi kami dan kemudian tertarik membeli untuk di bawa pulang ke negaranya,” kata Owner Namira Ecoprint Yayuk Eko Agustin kepada Kempalan.com, Selasa (30/9).
“Bahkan, beberapa wisatawan luar negeri yang awalnya datang langsung ke butik dan sekaligus rumah produksi, sekarang mereka pesan langsung lewat online. Selain Italia, Rusia, dan Kanada, paling banyak dari Meksiko,” lanjut pensiunan ASN Pemkot Surabaya kelahiran Jombang, Jawa Timur, tahun 1962 ini.

Pelanggan mancanegara itu, menurut Yayuk Eko Agustin, mengenal produk batik Namira Ecoprint melalui kegiatan pameran. Baik pameran yang digelar Disperindag Jawa Timur, maupun Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Jawa Timur. Termasuk misi dagang yang difasilitasi Pemkot Surabaya dan Pemprov Jawa Timur di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua. Bahkan pernah mengikuti misi dagang sampai ke luar negeri, seperti Thailand, Arab Saudi, dan Turki.
Disamping itu, banyak juga pelanggannya yang mengenal Namira Ecoprint lewat media cetak, media elektronik, media sosial, youtube, dan instagram.
Dibeli Presiden Jokowi
Ada momen spesial yang tidak bisa dilupakan Yayuk Eko Agustin. Hal ini diceritakan ketika ia hadir di Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrembang) Pemprov Jawa Timur di Hotel Shangri-La, Surabaya, April 2024.
Dia bercerita banyak mengenai perkembangan produksi batik ramah lingkungan miliknya. Salah satunya momen spesial yang tak bisa dilupakan ketika mengikuti Pameran International Handicraft Trade Fair (Inacraft) 2024 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, 28 Februari hingga 3 Maret 2024.
Pada momen itu, usai acara seremonial pembukaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo sempat singgah di booth Namira Ecoprint. Tidak hanya singgah, tapi Presiden Jokowi juga membeli Jaket domba, salah satu produk unggulan Namira Ecoprint.
“Bangga dan bahagia sekali. Saya tak menyangka produk Namira Ecoprint dibeli Bapak Presiden Jokowi,” kata Yayuk Eko Agustin.

Menurut dia, cerita itu terjadi pada pembukaan pameran Inacraf 2024. Tepatnya pada 28 Feberuari 2024 silam. Ketika itu, Namira Ecoprint menjadi salah satu peserta pameran. Ada sekitar 1.500 UMKM yang mengikuti pameran kerajinan tangan terbesar dan terlengkap di Asia Tenggara tersebut.
Sampai sekarang, peristiwa bersejarah itu tidak bisa dilupakan oleh Yayuk Eko, meskipun sebenarnya cukup banyak kepala daerah di Indonesia yang membeli jaket produk Namira Ecoprint.
Salah satunya adalah Gubernur Sumsel Herman Deru. Dia membeli jaket kulit domba saat Namira Ecoprint mengikuti misi dagang bersama Pemprov Jatim pada 27-29 September 2025.
Berawal dari Lomba Smart City
Ketika ditemui di rumah produksi Namira Ecoprint yang terletak di Wisma Kedung Asem Indah Blok G/7 Rungkut, Surabaya, Yayuk Eko Agustin sedang sibuk memberi arahan kepada pegawainya dan tiga mahasiswi Unesa yang sedang magang.

Padahal waktu itu jam di dinding menunjukkan pukul 08.00 WIB. Dan malamnya, sekitar pukul 03.00 dini hari, wanita berusia 63 tahun ini baru tiba di rumah setelah mengikuti misi dagang bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel).
“Ya, beginilah rutinitas setiap hari. Saya harus bangun pagi dan memberi arahan pada pegawai dan mahasiswa yang magang di sini (Namira Ecoprint). Bagaimana lagi, namanya juga usaha, kalau mau maju harus siap kerja keras,” kata Yayuk Eko Agustin, mengawali pembicaraan.
Tidak susah mendapatkan rumah produksi sekaligus butik Namira Ecoprint. Hampir semua warga Wisma Kedung Asem Indah sudah mengetahui. Apalagi suami Yayuk Eko Agustin, Didik Eddy Susilo menjabat sebagai ketua RW di perumahaan yang tampak asri ini.
“Nggak susah kan cari alamat. Kalau belum tahu butik atau rumah saya, tanya saja kepada satpam perumahan, nanti akan diantar,” sambung pensiunan ASN Pemkot Surabaya ini. Yayuk Eko Agustin pernah menjabat sebagai Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) dan terakhir sebelum pensiun dipercaya menjabat Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat.
Kebetulan rumah produksi Namira Ecoprint menjadi satu dengan butik dan sekaligus tempat tinggal. Rumah yang cukup luas itu tidak hanya untuk usaha ecoprint, tapi juga usaha catering yang sudah ditekuni selama bertahun-tahun.
Sementara rumah yang persis ada di depannya, digunakan untuk kantor Global, usaha persewaan alat-alat pesta. Antara lain tenda, meja kursi, sound system, piring, garpu, meja makan, dan lain-lain.
Tidak hanya itu. Saat ini Yayuk Eko Agustin punya pekerjaan baru. Tiap hari harus menyediakan Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk 4000 siswa di lima sekolah di Kota Surabaya. Bahkan, karena dianggap mumpuni, ia diminta menambah lagi untuk melayani MBG 4000 siswa, sehingga total keseluruhan menjadi 8000 siswa.
Untuk MBG ini, Yayuk Eko Agustin bersama suaminya telah menyediakan tempat khusus di Wisma Kedung Asem Indah Tahap 2 Blok HH/10, Rungkut, Surabaya. Tempat seluas 400 M2 ini diresmikan Gubernur Khofifah Indar Parawansa pada 16 Agustus 2025. Lokasinya sekitar satu kilometer dari rumah produksi Namira Ecoprint.
Selain itu, ia juga menyiapkan satu tempat lagi di Jl. Pandugo dengan luas yang sama untuk melayani MBG. Tempat tersebut rencananya akan diresmikan pada pertengahan bulan Oktober 2025.
“Sekarang sedang finishing sekaligus menyiapkan segala persyaratan dan perlengkapan yang dibutuhkan,” kata Yayuk yang ayahnya mantan lurah di Jombang.
Kembali ke Namira Ecoprint. Yayuk bercerita panjang lebar tentang sejarah berdirinya UMKM yang dirintis bersama suaminya Didik Eddy Susilo ini.

Menurutnya, Namira Ecoprint berdiri tahun 2019. Saat itu Pemerintah Kota Surabaya mengadakan Lomba Smart City yang mengharuskan setiap RW mempunyai produk unggulan berbasis lingkungan dengan memberdayakan warganya.
Harapannya agar bisa memberikan tambahan penghasilan untuk masyarakat sekitar.
“Waktu itu era Wali Kota Bu Risma (Tri Rismaharini). Warga saya kumpulkan untuk memproduksi kain batik ecoprint yang ramah lingkungan, namanya Namira Ecoprint,” terang Yayuk Eko Agustin memulai ceritanya.
Produk yang dihasilkan adalah kain ecoprint, kerudung ecoprint, baju jadi perempuan dan laki-laki, tas berbahan dasar kain dan kulit, jaket kulit domba ecoprint dan sandal ecoprint dengan bahan sutera, katun, katun jaguar, kanvas, dan kulit kanguru.
Dikatakan ramah lingkungan karena motifnya dicetak menggunakan daun, bunga, kulit, dan akar pohon tanpa bahan kimia sedikitpun.
Selain itu, produk Namira Ecoprint limited edition. Tiap motif hanya dicetak satu tidak ada yang kembar. Dan bahan baku produksi dapat di daur ulang.
“Karena keunggulan inilah produk Namira Ecoprint banyak diminati oleh wisatawan mancanegara, karena dianggap unik, berbeda dengan batik lainnya,” ungkap Yayuk, bangga.
Sayangnya, ibu-ibu PKK di lingkungan RW-nya saat itu kurang tertarik untuk melanjutkan usaha ecoprint. “Ketika saya tanya bagaimana Bu, jawabnya angel, susah,” ujarnya, mengenang kembali masa lalunya. Padahal, ia telah mendatangkan guru ecoprint.
Karena terlanjur tertarik dan melihat ada prospek, usaha itu dilanjutkan, meski awalnya kurang paham. Yayuk pun serius mencari guru ecoprint yang lebih bagus lewat online, bahkan sampai ke Prancis dan Spanyol.
“Akhirnya ketemu yang namanya Jari Hitam Ecoprint dari Lembang. Kami lantas janjian ketemu di Yogyakarta. Tiap orang bayarnya Rp 1,5 juta,” tuturnya. Setelah diikuti, ternyata pelajaran yang diterima tidak jauh berbeda dengan yang didapat dari guru sebelumnya.
Belajar Lewat Browsing di Internet
Akhirnya, Yayuk memutuskan mempelajari ecoprint lewat browsing di internet. Dari sini ia mulai mendapatkan gambar yang bagus-bagus yang bisa dicontoh.
Sejak itu Namira berhasil menghasilkan produk yang lebih berkualitas dengan motif, corak, dan warna yang bervariasi. Orang luar negeri akhirnya senang. “Terakhir, orang Italia yang bernama Maria Barbara ingin kerja sama dengan kita,” kata Yayuk, bangga.
Kendati demikian, ia belum merasa puas dan terus berupaya melakukan inovasi-inovasi baru agar warna produk Namira lebih cerah atau ngejreng. Setelah hunting dengan memadukan beberapa warna dari daun, bunga, kulit, dan akar pohon, ia akhirnya menemukan buah mengkudu, alang-alang, daun kelor, dan ketepeng.
“Ternyata, akar buah mengkudu kalau dicampur dengan secam, hasilnya sangat bagus. Kemudian daun kelor dengan serat alang-alang. Juga ketepeng yang banyak kita dapatkan di kuburan,” beber ibu dari dua anak ini.
“Prinsip kami adalah kembali ke alam dan harus kreatif. Kami gunakan daun dan bunganya, lalu limbahnya diolah menjadi pupuk organik. Sedang pohon yang kami pakai bisa ditanam kembali,” sambungnya.
Omzetnya Rp 3 M per Tahun
Kini kapasitas produksi Namira Ecoprint mencapai 500 potong kain per bulan. Dengan pegawai delapan orang dan beberapa disabilitas yang dilibatkan sebagai penjahit, Yayuk mampu meraup omzet hingga Rp 200 juta per bulan. Terutama saat musim liburan dan banyak wisatawan menginap di hotel-hotel tempat butiknya berada.
“Tapi kalau ditotal secara keseluruhan, mulai ecoprint, usaha catering hingga persewaan peralatan pesta, omzet bisa mencapai sekitar Rp 3 miliar per tahun. Alhamdulillah untuk ukuran pensiunan,” timpal Didik Eddy Susilo, suami Yayuk Eko Agustin yang juga Ketua Percasi Kota Surabaya.
Padahal, sambung Yayuk, banyak orang yang bingung menghadapi masa pensiun. Tapi hal itu tidak berlaku bagi dirinya bersama suami. “Justru setelah pensiun kami semakin sibuk. Untuk tidur atau istirahat saja sepertinya sudah tidak ada waktu,” aku wakil ketua IWAPI Jatim ini.
Tak jarang, karena padatnya jadwal urusan pekerjaan, ia terpaksa harus tidur di mobil atau tempat seadanya. Sedang suaminya, Didik Eddy Susilo, lebih banyak menangani urusan yang ada di rumah.
“Kami memang berbagi tugas. Kalau semua keluar, siapa yang menangani di rumah,” ucap Yayuk yang masih terlihat gesit di usianya yang sudah di atas kepala enam.
Produk Namira Ecoprint kini bisa dijumpai di beberapa gerai hotel ternama di Surabaya. Di antaranya Samator Novotel di kawasan Rungkut, Grand Mercure di Jl Raya Darmo, Hotel Majapahit di Jl. Tunjungan, dan semua butik milik Pemkot Surabaya. Di antaranya Siola dan Taman Sejarah depan Jembatan Merah Plasa (JMP).
Yayuk juga terus aktif mengikuti misi dagang yang difasilitasi Pemkot Surabaya dan Pemprov Jawa Timur. Lewat misi dagang ini, produk Namira Ecoprint diharapkan semakin dikenal di Indonesia dan mancanegara sebagai batik yang ramah lingkungan asal Surabaya. (Dwi Arifin)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi