KEMPALAN : Inilah salah satu kanal YouTube yang disukai penggemar dunia mancing di Indonesia, bahkan oleh banyak orang dari luar negeri.
Nama kanal itu : Angger Papua. Memiliki 1,9 juta subscriber (pelanggan), dan sudah mengunggah 1,1 ribu video.
Saat saya cari arti ‘angger’, Meta AI menjawab dalam banyak versi. Saya pilih versi Jawa yang artinya : Asalkan.
Kalau saya “kawinkan” dengan ‘Papua’ sehingga menjadi ‘Angger Papua’, lantas saya coba elaborasi, kurang lebih artinya : Asalkan Anda di Papua, tidak sulit mencari ikan.
Dalam konteks judul tulisan saya ini, hunting berarti berburu. Sedangkan fishing mencari ikan dengan cara seperti biasa — kalau nggak mancing, ya menjaring.
Untuk konteks hunting pada konten-konten di vlog kanal ini, berarti memanah, menggunakan gandewa, busur, dari kayu yang lentur (mungkin rotan), dengan tali yang dipilin menyerupai tampar kecil untuk meletakkan pangkal anak panah.
Sedangkan anak panah itu dari kayu lurus yang ujungnya diikat dengan dua logam tajam, sebut saja : Dwisula.
Sementara di ujung anak panah itu, untuk hunting di sungai maupun anak-anak sungai, diberi senar panjang.
Jika ujung dwisula ini mengena sasaran, maka senar yang berpangkal di botol plastik, ditarik oleh pemburu. Kemudian ikan dilepas, dan diletakkan di ceruk (dasar) perahu yang sedikit lebih besar dari kano.
Mula-mula saya heran, para pemburu ikan nila ini rasanya tanpa membidik, anak panas dilepas begitu saja, diarahkan di rimbun rumput tepi sungai. Yups! seekor nila pun menggelepar tertancap besi tajam itu.
Pemburu sepertinya sudah paham gerakan-gerakan kecil di rerimbunan tanaman air di tepi-tepi Sungai Maro, Merauke bahwa itu adalah sarang nila.
Anda jangan bayangkan dengan nila di Jawa dimana paling besar seukuran tapak tangan orang dewasa. Kalau di sini besarnya rata-rata 2-3 kali. Bahkan bisa lebih.
Berbeda dengan hunting di kolam-kolam alami yang tersebar di beberapa titik di daratan. Kedalaman air cuma setinggi mata kaki, atau paling dalam separuh betis.
Bisa jadi kolam-kolam ini airnya asalnya sisa-sisa hujan atau dari sumber-sumber kecil yang berpangkal di akar-akar pepohonan.
Berbeda lagi dengan cara memanah di tepi sungai, di rawa atau kubangan-kubangan kecil ini menggunakan anak panah tanpa disambung dengan senar.
Membidik pun terlihat begitu lama. Baru jika sudah terasa pas, anak panas dilepas, yups! — tertancaplah ikan gabus sebesar paha orang dewasa, atau paling kecil sebesar lengan.
Bagaimana dengan fishing ?
Sungai Maro yang lebarnya 2 kali Kali Mas, Surabaya, ini menyimpan tidak saja nila-nila babon, juga kakap putih atau barramundi atau cukil, yang beratnya berkisar 5-15 kilogram.
Para pemancing Papa-papa Papua yang berkulit coklat legam mendekati hitam dan bertubuh rerata perkasa ini, menggunakan senar yang digulung di botol plastik bukan transparan — tanpa joran.
Udang hidup yang diletakkan di ujung pancing sebagai umpan, dilempar begitu saja cuma sejengkal-dua jengkal dari bodi perahu. Sekian detik kemudian strike. Senar pun ditarik tanpa menggunakan sarung tangan. Mungkin tangan para Papa ini sudah kapalan sehingga “kalis” dengan tali nilon yang boleh jadi tajam licin itu.
“Sungguh saya tak bisa berkata apa-apa. Di sini memang surganya alam,” komentar seseorang yang menyebut dirinya Si Bungsu, di salah satu konten.
Sementara Ponsal Video menulis di kolom komentar : “Alam yang memikat. Semoga tidak ada usaha tambang di sekitar sini.”
“Kalau di Brazil ada sungai seperti ini, aku pasti akan tinggal di tepinya,” tulis Vavasinples dari Brazilia. (Amang Mawardi).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi