Rabu, 13 Mei 2026, pukul : 07:32 WIB
Surabaya
--°C

Anies Disorak, Prabowo Dipuja: Politik Standar Ganda Absensi PBB

KEMPALAN: Sepuluh tahun Indonesia absen di forum global bukan sekadar catatan kealpaan, melainkan jejak hilangnya wibawa diplomasi. Dunia bergerak, panggung internasional berputar, sementara kita memilih diam di kursi penonton.

Ketika Anies Baswedan menyuarakan hal itu—dan itu jelas mengkritisi Joko Widodo yang seperti gagap oleh sebab-sebab tertentu—riuh rendah segera terdengar. Kritiknya dipelintir sebagai serangan politik.

Buzzer-buzzer yang diternakkan pun dilepaskan, mencaci-maki tanpa henti. Bukan untuk membantah substansi, melainkan untuk mengganyang sosok yang berani bicara.

Padahal, apa yang disampaikan Anies adalah kenyataan yang tak bisa dibantah. Sepuluh tahun terakhir, Presiden RI memang tidak pernah berdiri di mimbar Sidang Umum PBB. Yang hadir hanya Menteri Luar Negeri. Itu fakta, bukan fitnah.

Fakta publik mencatat,
sejak 2014 hingga 2024, Presiden Jokowi tidak pernah sekalipun hadir langsung di mimbar Sidang Umum PBB. Yang ada hanya dua pidato virtual saat pandemi. Itu sebabnya, apa yang diucapkan Anies bukan karangan, melainkan kenyataan telanjang.

Namun narasi yang seharusnya memantik kesadaran itu justru ditenggelamkan oleh sorak partisan. Katanya, Jokowi tak mungkin lalai. Katanya, itu hanya karangan oposisi.

Kini, menjelang Prabowo berpidato di forum PBB, kalimat yang sama justru dielu-elukan. Indonesia absen sepuluh tahun, katanya—dan semua mengangguk penuh kagum.

Bedanya mencolok. Tidak ada bantahan. Tidak ada caci maki. Justru berubah menjadi kebanggaan: seolah pengakuan itu baru sahih bila keluar dari mulut penguasa.

Ironi macam apa ini? Kata-kata yang sama, ketika berganti pembicara, tiba-tiba berubah makna. Dari “dusta” menjadi “keniscayaan yang harus ditebus.” Dari “fitnah oposisi” menjadi “visi yang disambut gegap gempita.”

Politik di negeri ini memang sudah lama kehilangan standar kebenaran. Yang tersisa hanyalah standar ganda. Kebenaran tidak lagi berdiri di atas data, tetapi diukur dari siapa yang berucap.

Kritik yang lahir dari oposisi dicap sebagai ancaman, tapi bila sama persis diucapkan lingkar kuasa, mendadak jadi kearifan. Di situlah kita melihat wajah telanjang politik: penuh kepalsuan, penuh kebohongan yang dilegalkan.

Absensi Indonesia di panggung dunia adalah fakta, dan Anies yang pertama kali berani menyuarakannya. Kini fakta yang sama dielu-elukan hanya karena keluar dari bibir penguasa. Itulah wajah telanjang politik kita: kebenaran baru dianggap sahih bila dilafalkan oleh mereka yang berkuasa.**

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.