Jumat, 8 Mei 2026, pukul : 08:06 WIB
Surabaya
--°C

Gapura Seng Berkarat di Mojokerto Jadi Media Kritik HUT RI ke-80‎


‎KEMPALAN: Pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, warga RW 09 –  RT 25 Desa Kedungmaling, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, memilih merayakan kemerdekaan dengan cara yang tak lazim. Bukan gapura megah penuh hiasan merah-putih yang berdiri di pintu masuk gang mereka, melainkan sebuah konstruksi setinggi 4 meter dari lembaran seng rusak berkarat yang disangga tulang bambu.

‎Di permukaan seng tua yang rapuh itu, warga memoles aneka graffiti berisi kritik sosial-politik. Coretan paling menonjol berbunyi “Pejabat Makan Uang, Rakyat Makan Utang”, “Sila ke-V Sudah Musnah”, hingga simbol-simbol perlawanan visual.

‎Di antara goresan graffiti, tampak pula lukisan para pejuang kemerdekaan berdampingan dengan tokoh-tokoh legendaris Majapahit, seolah mengingatkan jurang antara semangat masa lalu dan realita masa kini.

‎Ketua RT 25 Kedungmaling, Muhammad Basuki, mengungkapkan bahwa gapura itu sengaja dibuat dari material yang sudah tak bernilai. “Gapura ini simbol pemerintah yang busuk, berkarat. Kami pakai barang yang dianggap tidak berharga, seperti rasa keadilan di negeri ini,” ujarnya, Rabu (13/8/2025).

‎Basuki mengatakan karya itu dikerjakan bersama pemuda setempat dalam tempo  semalam penuh, mulai pukul 19.00 hingga 03.00 dini hari. Selain menjadi penanda perayaan kemerdekaan, gapura seng berkarat tersebut merupakan media  untuk menyalurkan keresahan warga.

‎“Kalau takut, ya takut. Tapi aspirasi warga banyak yang tidak tertampung. Yang kami hadapi bukan orang biasa tapi gajah besar,” ucapnya.

‎Fenomena ini muncul di tengah kondisi ekonomi dan sosial yang dirasakan semakin berat oleh masyarakat bawah. Meski pemerintah mengumumkan keberhasilan hilirisasi, keuntungan BUMN dan pengembalian aset hasil rampasan koruptor, rakyat  belum merasakan dampaknya secara langsung. Bagi mereka, kehidupan sehari-hari tetap dihimpit mahalnya kebutuhan pokok dan minimnya lapangan kerja yang layak.

‎Penggunaan graffiti sebagai medium protes dinilai efektif oleh warga. Coretan di ruang publik dapat dilihat semua orang tanpa perantara media resmi. Gambar dan tulisan yang kontras di permukaan seng berkarat itu membuat setiap orang yang lewat mau tak mau membaca dan mencerna pesan yang terkandung di dalamnya.

‎“Ini kami buat untuk kenangan anak cucu, bahwa di sini pernah ada gapura seng berkarat yang bercerita tentang keadilan yang tidak adil,” kata Basuki.

‎Bagi warga Kedungmaling, kemerdekaan bukan hanya perayaan lomba dan karnaval. Kemerdekaan juga berarti berani bersuara, meski medianya hanyalah seng lapuk di ujung gang.

‎Dan di tengah riuh pesta HUT RI ke-80, gapura berkarat itu menjadi pengingat pahit, bahwa ada rakyat yang hanya bisa merdeka lewat seng berkarat sementara para penguasa sibuk menumpuk emas.

Rokimdakas
‎18 Agustus 2025

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.