KEMPALAN : Pada awal masuk sekolah, Bu Guru bertanya kepada murid-muridnya, di antaranya kepada Jefri :
“Jefri, berapa umur ayah kamu sekarang?”
“Mmm… sama dengan umur saya sekarang, Bu Guru …”
“Kok bisa?”
“Iya, Bu Guru. Dia kan jadi Ayah saya sejak saya mulai lahir…”
“O iya juga ya. Lalu ayahmu lahir pada tahun berapa?”
“Tahun 1983, Bu Guru…”
“Baiklah… Kamu boleh duduk kembali…”
Baru kali ini saya baca anekdot demikian pendeknya.
Boleh jadi, ini salah satu anekdot yang mula-mula membuat saya mengerenyitkan dahi.
Humor jenis ini agaknya mendasarkan kelucuannya pada logika (anak-anak).
Dalam konteks di atas, saya teringat komedian Indra Frimawan finalis Stand Up Comedy Indonesia 2023, seringkali Indra “memainkan” logika, menyampaikan kata-kata aneh, bahkan absurditas untuk menciptakan efek komedi tak terduga.
Misalnya begini : saya tidak pernah berdusta, kecuali waktu saya berbohong; jangan ragu untuk memecahkan masalah, kecuali ada tulisan ‘memecahkan berarti membeli’ ; dan sekian kalimat-kalimat menggelitik khas Indra Frimawan, seperti ini juga : gravitasi tak ada hubungannya dengan jatuh cinta.
Tentu saja sebelum ditutup dengan kalimat (-kalimat) tersebut, didahului dengan semacam cerita.
Nah, saat Jefri mengatakan “Dia kan jadi Ayah saya sejak saya mulai lahir, Bu Guru”, itu adalah anggapan Jefri didasarkan logikanya yang masih anak-anak sehubungan dimulainya perjalanan usia ayahnya.
Bu Guru yang tampaknya bijak ini, lantas mencoba mencari kebenaran normatif dengan pertanyaan : “Lalu ayahmu lahir pada tahun berapa?”, yang lantas dijawab Jefri sebagaimana pada paparan anekdot di atas.
(Amang Mawardi).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi