KEMPALAN: Dalam pusaran ekonomi global yang tidak menentu, Indonesia tengah berada di persimpangan yang genting.
Angka-angka yang mencuat dari laporan resmi bukan sekadar statistik mati, tetapi denyut nyawa yang menggambarkan betapa rapuhnya ketahanan sosial ekonomi bangsa ini.
Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terus melejit, menciptakan lingkaran setan yang mengancam menjerumuskan jutaan keluarga kembali ke jurang kemiskinan.
Pemerintahan Prabowo Subianto yang kini berada di tampuk kekuasaan tak ubahnya seperti nahkoda yang harus segera mengemudikan kapal besar bernama Indonesia ke perairan yang lebih tenang—sebelum kapal itu oleng dan karam dihempas badai.
Seiring dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi global dan domestik, Indonesia kini dihadapkan pada peningkatan drastis jumlah PHK.
Data dari Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa sepanjang semester pertama 2025, sebanyak 42.385 pekerja telah kehilangan pekerjaan, meningkat lebih dari 32% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Jawa Tengah menjadi provinsi dengan angka PHK tertinggi, disusul oleh Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta.
Angka ini tidak hanya mencerminkan kondisi perusahaan yang lesu, namun juga memperlihatkan betapa ringkihnya sistem ketenagakerjaan nasional yang masih sangat bergantung pada sektor-sektor yang rapuh menghadapi tekanan global seperti manufaktur dan tekstil.
Fenomena ini ibarat angin ribut yang tak hanya menerpa lapisan ekonomi makro, tetapi juga menggoyahkan tiang-tiang rumah tangga masyarakat bawah.
Bagaimana tidak, ketika seorang kepala keluarga harus pulang membawa surat PHK, bukan hanya pendapatan yang terhenti, tetapi juga harapan anak-anak untuk tetap bersekolah, untuk tetap makan tiga kali sehari, bahkan untuk tetap tinggal di rumah kontrakan.
Dalam konteks inilah, pemerintah tidak bisa lagi menunda untuk bertindak tegas dan cepat.
Kepala Pusat Pangan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan dari INDEF, Abra Talattov, mengingatkan bahwa meningkatnya PHK ini akan memberi tekanan serius terhadap angka kemiskinan.
Meskipun data Badan Pusat Statistik mencatat bahwa per Maret 2025 jumlah penduduk miskin secara nasional menurun ke angka 23,85 juta orang—terendah dalam dua dekade terakhir—namun ironi justru terjadi di kawasan perkotaan, di mana angka kemiskinan naik dari 6,66% menjadi 6,73%.
Sebuah sinyal bahwa masyarakat yang sebelumnya mampu bertahan di batas garis sejahtera, kini mulai tergelincir karena guncangan lapangan kerja.
Pemerintahan Prabowo-Gibran, dalam hal ini, mesti membaca pertanda ini sebagai alarm peringatan dini. Dalam analogi politik, Prabowo kini bukan hanya pemimpin negara, tapi penjaga bara api di tungku rumah besar Indonesia.
Bila bara itu dibiarkan redup, maka api harapan rakyat pun ikut padam. Namun jika ia sanggup menjaga dan mengarahkan kobaran itu, maka akan lahir kebijakan yang tidak hanya protektif, tapi juga transformatif.
Ini adalah momentum untuk menciptakan reformasi struktural di sektor ketenagakerjaan—mulai dari diversifikasi sektor ekonomi, peningkatan kualitas tenaga kerja, hingga penyediaan jaring pengaman sosial yang lebih manusiawi.
Pendapat dari pakar ekonomi internasional menambah bobot penting dalam melihat persoalan ini secara menyeluruh.
Professor Joseph Stiglitz, ekonom peraih Nobel asal Columbia University, pernah mengingatkan bahwa ketika ekonomi mengalami stagnasi dan pasar tenaga kerja rapuh, intervensi negara menjadi satu-satunya kekuatan penyeimbang agar masyarakat tidak terjerembab dalam ketimpangan struktural yang terus memburuk.
Kata-kata Stiglitz itu seharusnya menjadi bahan perenungan mendalam di meja-meja rapat kabinet Prabowo.
Negara tidak boleh hanya berfungsi sebagai penonton atau penunda, tetapi harus menjadi mesin utama pencipta solusi.
Dalam konteks global, Organisasi Buruh Internasional (ILO) mencatat bahwa penciptaan tenaga kerja secara global akan melambat dari 1,7% menjadi 1,5% di tahun ini.
Artinya, Indonesia tidak hanya bersaing dengan tantangan internal, tetapi juga dengan derasnya tekanan eksternal.
Negara-negara seperti Vietnam dan India sudah mengambil langkah antisipatif dengan menyiapkan reformasi ketenagakerjaan dan memberikan insentif untuk industri padat karya.
Jika Indonesia terlambat, maka akan semakin banyak investor yang memilih keluar atau enggan masuk, dan efek domino terhadap pengangguran pun tak terbendung.
Prabowo, yang selama masa kampanye berulang kali mengangkat isu keadilan sosial dan nasionalisme ekonomi, kini ditantang untuk membuktikan bahwa pidato-pidatonya bukan sekadar slogan kosong.
Rakyat menantikan langkah konkret, seperti penyesuaian regulasi ketenagakerjaan yang adaptif terhadap dunia kerja masa depan, pembentukan program pelatihan ulang bagi korban PHK, serta pemberian subsidi bagi sektor usaha mikro yang menyerap banyak tenaga kerja informal.
Tak kalah penting, pendekatan kemanusiaan dalam kebijakan ekonomi perlu dijadikan dasar. Jangan sampai negara hadir hanya ketika menyusun angka, tetapi absen saat rakyatnya menjerit di tengah badai.
Kesejahteraan bukan hanya tentang angka kemiskinan yang turun sementara, tetapi tentang keberlanjutan hidup yang bermartabat.
Dengan latar belakang realitas yang kompleks ini, maka diperlukan kepemimpinan yang tidak ragu mengambil risiko politik demi keberlanjutan ekonomi nasional.
Prabowo harus bisa mengayunkan palu keputusan layaknya seorang jenderal di medan perang, cepat, presisi, dan berpihak pada rakyat.
Kita tidak sedang menulis ulang sejarah kegagalan masa lalu. Kita sedang memulai bab baru dari pemerintahan yang digadang-gadang membawa transformasi.
Namun transformasi sejati bukan hanya soal membangun ibu kota baru atau menggenjot infrastruktur, melainkan tentang keberanian untuk mengutamakan manusia di atas mesin ekonomi.
Bila badai PHK ini dibiarkan terus berhembus tanpa perisai, maka tidak lama lagi awan gelap kemiskinan akan kembali menggulung langit Indonesia—dan saat itu, sejarah akan mencatat siapa yang bertindak, dan siapa yang tinggal diam.
Oleh: Bambang Eko Mei
*

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi