Sabtu, 16 Mei 2026, pukul : 22:46 WIB
Surabaya
--°C

Ketika Jatuh Cinta, Lahirlah Puisi

KEMPALAN: Apa yang saya lakukan ketika jatuh cinta pada usia 17 tahun? Menulis puisi !

Mengapa saya menulis puisi, bukan bentuk literasi lainnya? Saya tidak tahu !

Baru sekian tahun kemudian, saya temukan jawabannya. Antara lain :

Puisi menyebabkan ekspresi emosi lebih dalam, karena bahasa kiasan pada puisi dapat menyampaikan perasaan lebih intens dan bernuansa, dibanding jika melalui prosa yang “straight”.

Selain itu, menulis puisi merupakan tindakan kreatif yang terasa lebih personal dan unik. Hal ini memungkinkan yang sedang jatuh cinta untuk memainkan kata-kata, irama; mengutak-atik “bunyi”, struktur kalimat, sehingga pesan yang disampaikan terasa istimewa.

Pada perkembangannya, melalui studi kepustakaan, saya temukan “aksioma” bahwa puisi memiliki sejarah panjang sebagai media untuk percintaan. Puisi sering kali merangkum emosi yang kompleks menjadi sedikit kata, menghasilkan kristalisasi, sehingga setiap kata lebih punya dampak.

Oleh sebab itu, saya cenderung sependapat dengan Plato : “Dengan sentuhan cinta, setiap orang menjadi penyair”. Setiap orang?

Lantas apa hubungan puisi berjudul ‘Puisi-Puisiku’ pada halaman 37 buku kumpulan puisi Bicaralah yang Baik-Baik karya penyair M. Rohanudin dengan “mukadimah” di atas?

Mari kita seksamai puisi ini :

PUISI – PUISIKU

Helai-helai rambutmu
melayang-layang di atas laguku
lagu rindu lebih teduh dari nyanyian teduhmu

lagu ini kupersembahkan padamu
bait-bait liriknya separuh jingga
separuh jiwaku dan separuh jiwamu
ada ruhmu yang menyertai puisi-puisiku
wassalam

Sesungguhnya, inti puisi ini ada pada bait kedua :

lagu ini kupersembahkan padamu
bait-bait liriknya separuh jingga
separuh jiwaku dan separuh jiwamu
ada ruhmu yang menyertai puisi-puisiku
wassalam

Ketika menyentuh baris separuh jiwaku dan separuh jiwamu, puisi ini mengindikasikan dua hati sedang saling berbagi cinta dalam keselarasan bahasa kalbu.

Ada ruhmu yang menyertai puisi-puisiku sebagai cerminan penyertaan, tidak saja indikasi potensi cinta, tetapi juga kekuatan spiritual, sehingga puisi-puisi (lainnya juga) yang dihasilkan Rohan menjadi lebih bernyawa.

Sedangkan pada bait pertama, Rohan menyampaikan pesan bahwa sesungguhnya ‘rindu’ itu begitu kuat, sehingga : lagu rindu lebih teduh dari nyanyian teduhmu.

Begitulah ‘rindu’, ia adalah elemen dari ‘cinta’. Dan itu anugerah, sesuatu yang sulit untuk diabaikan.

Oleh sebab itu, saya berani mengatakan puisi ini tidak saja denotatif tetapi juga konotatif.

Sebaran makna ‘Puisi-Puisiku’ mengisyaratkan bahwasanya Rohan menulis puisi karena ‘cinta’. Dan kosakata itupun berkembang menjadi ‘cinta yang berdiri kokoh bagi tegaknya humanisme’.

Selaras dengan inti mukadimah di atas, puisi ini sesungguhnya memang disebabkan ekspresi emosi lebih dalam, lantaran bahasa kiasannya dapat menyampaikan perasaan lebih intens dan bernuansa.

Tiba-tiba saya teringat Jalaludin Rumi. Penyair sufi ini bilang : Karena cinta segalanya menjadi ada. Dan hanya karena cinta, ketiadaan nampak sebagai keberadaan.

Dan itu fakta yang tak dapat dihindari tentang keberadaan penyair M. Rohanudin, karena cintalah ia menulis puisi. Dan karena puisilah ia senantiasa berpihak ke humanisme sebagaimana warna-warna puisinya pada buku kumpulan puisi ini. (Amang Mawardi).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.