Manajer Siaga

waktu baca 3 menit
Foto ilustrasi rak-rak buah di supermarket. (Google).

KEMPALAN : Seorang manajer sebuah super market sewaktu tugas kontrol, mendengar percakapan karyawannya dengan seorang pelanggan.

“Sudah beberapa hari ini nggak ada, Bu. Tampaknya Minggu depan juga nggak bakalan ada.”

Kaget mendengar apa yang diomongkan karyawannya dari sela-sela barang yang dipajang di rak-rak di situ, manajer tadi segera mengejar pelanggan tersebut yang sudah berada di dekat pintu keluar, yang lantas dengan cepat mengatakan:

“Itu tidak benar, Bu. Super market ini bakal menyediakan. Seminggu lagi pasti ada.”

Pelanggan tadi diam dengan sikap tanda tanya, mendengar penjelasan tersebut. Jidatnya sedikit berkerut.

Lantas, dengan gesture sopan dan menyisakan sedikit heran, berlalu dari hadapan manajer.

Kemudian, manajer itu kembali ke lokasi semula dan segera menarik tangan karyawannya itu sembari memarahi:

“Jangan sekali-sekali berkata seperti itu, ya! Jangan diulangi ngomong kepada pelanggan nggak ada barang di super market kita. Kalau barangnya tidak ada, bilang saja sedang dalam perjalanan dikirim,” katanya nyerocos agak ketus. “Lantas, apa yang ditanyakan pelanggan tadi?!”

Dengan menahan senyum, karyawan tadi menjawab: “Hujan, Pak …”


Namanya saja anekdot, tentu pembaca tidak bakalan mengkritisi: Masa’ pelanggan tanya soal hujan kepada karyawan super market.

Namun, bisa saja itu terjadi manakala pelanggan sudah kenal baik dengan karyawan. Apa salahnya ngomong soal sehari-hari, seperti cuaca misalnya, di sela-sela berbelanja. Apalagi jika saat itu memang sedang musim hujan.

Dari ketiga orang tadi : pelanggan, karyawan, dan manajer — tentu yang sedang mengalami “kecelakaan” adalah manajer, salah mengantisipasi, lantaran –mungkin– terlalu bersemangat, situasi pun mengarah runyam.

Ya, begitulah kalau yang didengar hanya potongan kalimat akhir, tidak mengikuti pembicaraan awal, lantas “sok tahu” mencoba berkomentar.


Setiap memasuki super market seringkali di dekat pintu kasir terpampang foto manajer yang bertugas hari itu, di antaranya terindikasi tertulis duty manager, lebih kurang artinya : manajer siaga.

Kata ‘siaga’ cenderung simetris dengan ‘awas’. Tetapi mengapa manajer tadi tidak awas sehingga terjadi peristiwa itu? Ya, karena tergesa-gesa bertindak lantaran tidak sepenuhnya mendengar, sehingga luput menangkap makna di balik percakapan karyawan dengan pelanggan itu.

Semua yang tergesa-gesa cenderung fatal. Contoh, orang yang ngebut berkendara seringkali kurang waspada karena terkonsentrasi pada tujuan, bukan pada lalu-lintas yang ada di sekeliling. Maka, ketika terlihat orang menyeberang, fatal akibatnya.

Kurang awas menyebabkan mengerem mendadak, roda kendaraan roda dua berputar cepat ke arah yang sulit dikendalikan. Bahkan seringkali tak sempat mengerem dan langsung menabrak si penyebrang.


Soal ‘tergesa-gesa’ erat kaitannya dengan makna kesabaran. Kok bisa?

Suatu hari saya diundang oleh seorang teman yang pengusaha properti. Ia mantan wartawan.

Di dinding ruang kerjanya terpampang slogan tentang kesabaran yang dibingkai rapi.

Begini bunyinya. SABAR adalah: 1. Tidak Marah; 2. Tidak Tergesa-gesa; 3. Tidak Putus Asa; 4. Istiqomah (Konsisten – penulis); 5. Menerima Takdir.

Unsur tidak tergesa-gesa menempati urutan kedua. Cukup penting, bukan? (Amang Mawardi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *