Kamis, 2 Juli 2026, pukul : 18:10 WIB
Surabaya
--°C

Diplomasi Budaya Tari Gedrug di Jepang

KEMPALAN: Di tengah keramaian festival budaya di Jepang, dentuman ritmis dari hentakan kaki para penari bertopeng menyeruak dari kejauhan. Irama gamelan yang membungkus gerakan agresif namun tertata rapi itu memikat perhatian warga setempat. Inilah Tari Gedrug, kesenian tradisional dari Jawa Tengah yang kini tak hanya bertahan tetapi justru tumbuh di negeri asing.

Tari Gedrug atau sering disebut Rampak Buto adalah tarian kerakyatan yang berasal dari lereng Gunung Merapi, tepatnya Magelang. Berakar dari tradisi rakyat yang sarat nilai spiritual dan filosofi, Gedrug awalnya dimainkan untuk menolak bala, menjaga keseimbangan desa hingga memeriahkan hajatan rakyat. Unsur utamanya adalah topeng raksasa, kostum mencolok, serta hentakan kaki penari yang gemuruh oleh gemerincing “gongseng” menciptakan kesan magis sekaligus atraktif.

Tapi siapa sangka, ekspresi “kemarahan buto” yang divisualisasikan melalui gerak serempak ini justru mampu mencuri perhatian publik Jepang. Tak sedikit yang membandingkannya dengan teater Butoh atau kesenian topeng Noh dari Jepang. Keduanya sama-sama mengeksplorasi tubuh sebagai medium ekspresi batin dan memiliki atmosfer yang kuat dalam narasi simboliknya. Kesamaan karakteristik inilah yang tampaknya membuat Gedrug terasa akrab sekaligus eksotis di mata publik negeri Sakura.

BACA JUGA  SD LABSCHOOL UNESA SURABAYA KUASAI GOR SENAM NUSANTARA

DIPLOMASI BUDAYA
Fenomena unik ini bermula dari komunitas diaspora Indonesia yang aktif memperkenalkan Gedrug dalam berbagai event, seperti matsuri, car free day maupun festival budaya Indonesia di kota Tokyo dan Osaka. Di tangan mereka, kesenian ini bukan sekadar pertunjukan melainkan juga bentuk diplomasi budaya yang membumi.

Tari Gedrug juga menyimpan pesan moral, bahwa seni tradisi bisa menjadi jembatan diplomasi budaya yang efektif. Ketika kesenian lokal tampil di panggung dunia, Gedrug membawa serta identitas bangsa. Dari apresiasi seni bisa tumbuh rasa ingin tau lalu dorongan untuk berkunjung langsung ke tempat asalnya. Maka tak berlebihan jika dikatakan, Gedrug bisa menjadi pintu masuk untuk meningkatkan daya tarik pariwisata Indonesia.

BACA JUGA  Khofifah Resmikan PELITA ASN, Hadirkan Layanan Pendampingan Keluarga

Hanya saja peluang ini harus dijemput dengan kesiapan. Daerah-daerah kantong Tari Gedrug seperti Magelang, Kendal dan Surakarta perlu merancang paket tontonan yang menarik bagi wisatawan. Bukan sekadar menampilkan tariannya tetapi menyuguhkan pengalaman budaya yang utuh. Dari sejarah, filosofi hingga pelatihan singkat bagi wisatawan yang ingin ikut menari.

Tari Gedrug bukan hanya seni hiburan. Ia adalah pernyataan estetika yang kuat, warisan spiritual masyarakat dan potensi strategis dalam mengangkat citra Indonesia di mata dunia.

Kini, dari panggung desa hingga jantung kota metropolitan asing, Gedrug menari dengan percaya diri sekaligus menandai bahwa seni tradisi tak pernah benar-benar tua, hanya perlu diberi ruang untuk hidup kembali.

Rokimdakas (Jurnalis dan penulis)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.