Sabtu, 6 Juni 2026, pukul : 09:35 WIB
Surabaya
--°C

Pembacaan & Diskusi Puisi 2 Gen

KEMPALAN : Jil Kalaran soal kreatifitas tak ada matinya. Ya, kreativitas yang bersangkut paut dengan (persoalan) seni budaya. Ide-ide yang melandasi event seni budaya –setidaknya di Surabaya– seringkali hadir dari buah kegelisahan mantan wartawan koran Memorandum dan surat kabar Surabaya Post ini.

Beberapa event yang digelar komunitas Bengkel Muda Surabaya (BMS), Seduluran Semanggi Suroboyo (SSS), dan boleh jadi sekian komunitas lagi — lahir dari otak Jil Kalaran yang juga dikenal sebagai sutradara film dokumenter.

Padahal Jil Kalaran sejak lebih kurang 20 tahun terakhir tinggal di Solo. Seringkali Jil harus bolak-balik Solo-Surabaya untuk mengawal realisasi gagasan-gagasannya tersebut.

Tanggal 28 Oktober mendatang, dimulai pukul 19.00, di Studio Kecil BMS kompleks Balai Pemuda Surabaya, Jil mengawal acara Pembacaan & Diskusi Puisi 2 Gen, menampilkan tiga penyair yang tergabung dalam grup WA Bulan Purnama BMS, yaitu Amang Mawardi, Tri Wulaning Purnami, dan HD Aisya.

BACA JUGA  Kenapa NPD Masih Terus Berbohong

Saya tidak tanya ke Jil Kalaran, apa arti ‘2 Gen’ dalam potongan judul acara yang diselenggarakan oleh Bengkel Muda Surabaya ini. Saya menafsir: mungkin gen laki-laki dan gen wanita.

“Masing-masing penampil mesti nyerahkan enam karya puisinya,” pesan Jil Kalaran ke nomor WA saya.

Enam puisi saya ambil dari buku kumpulan puisi saya ke-2 : Buku Waktu tak Pernah Menipu. Puisi-puisi itu jika saya kategorikan (mungkin) terdiri dari ‘puisi reportase’ (Banyu Urip, Stasiun Gubeng) dan ‘puisi kontemplasi’ (Menggoyang Perasaan dan Pikiran, Tentang Brutus dan Si Bung, Suara Malam, Takdir Kurusetra).

Ini salah satu puisi saya :

MENGGOYANG PERASAAN DAN PIKIRAN

Keping-keping ingatan menorehkan kisah-kisah kesabaran dan amarah

BACA JUGA  Ninja Warrior ala Surabaya: Dwi Kistiono Membangun Mimpi Pentathlon dari Pinggiran Kota

Kejadian-kejadian penting menatahkan catatan-catatan kemenangan dan kucuran darah

Selalu ada yang terpisah
yang lelah, yang kalah

Bisakah ingatan dan catatan kelam dibenam dilupakan?

Kenangan dan sejarah retak menggoyang perasaan dan pikiran banyak orang

Oktober 2013

Sebagai pemantik diskusi adalah Ribut Wijoto : penyair, jurnalis, dan Ketua Dewan Kesenian Sidoarjo.

Yang mau nonton, silakan daftar. Link pendaftaran terpampang di poster event. (Amang Mawardi)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.