JAKARTA-KEMPALAN: Langkah yang bersejarah dibuat untuk memperkuat hubungan kesehatan antara India dan Indonesia. Artemis Hospitals dan Perkasa Hospital Services mengumumkan kemitraan strategis yang bertujuan untuk menjembatani kesenjangan kesehatan dan meningkatkan kolaborasi medis antar negara.
Pengumuman ini disampaikan dalam acara yang bertema “Bridging Healthcare: India-Indonesia Synergy,” yang digelar di Kedutaan Besar India, Gama Tower, Jakarta. Acara ini menandai tonggak penting dalam kemitraan tersebut, menegaskan komitmen kedua organisasi untuk menggabungkan kekuatan dan keahlian mereka.
Acara ini juga menampilkan diskusi panel menarik yang dimoderatori oleh Chairman Indonesia-India Business Forum (IIBF) Poonam Sagar. Hadir pula CEO Perkasa Hospital Services Septo Adjie, Direktur Utama AXA Financial Indonesia Niharika Yadav, dan Kepala Transformasi Bisnis Artemis Hospitals Vishal Arora.
Pidato Duta Besar India untuk Indonesia dan Timor Leste Sandeep Chakravorty menjadi pembukanya. Chakravorty menyoroti kekuatan kesehatan saling melengkapi antara dua negara. ’’Indonesia unggul dalam perawatan kesehatan primer dan sekunder, tetapi menghadapi tantangan dalam perawatan tersier,” ujar Chakravorty.
BACA JUGA: Turnamen Golf untuk Merayakan 75 tahun Hubungan Diplomatik India-Indonesia
’’Sebaliknya, India sangat maju dalam perawatan tersier tetapi menghadapi kesulitan di tingkat primer dan sekunder,’’ tambahnya. Dia menunjuk ke kolaborasi antara jaringan RS di India dan RS di Indonesia sebagai contoh utama memanfaatkan kekuatan masing-masing negara dapat menciptakan kerangka kerja kesehatan yang lebih kuat.
Yadav memberi gambaran mendalam tentang ekosistem kesehatan, mengidentifikasi empat pemangku kepentingan utama, antara lain dari konsumen, perusahaan asuransi, penyedia medis, dan regulator atau pemerintah. Dia menekankan perlu adanya peranan penting pemerintah membentuk kebijakan kesehatan dan memastikan koordinasi yang efisien antara pihak bersangkutan ini.
“Keterlibatan pemerintah sangat penting untuk menjaga keseimbangan dan efektivitas dalam sistem kesehatan,” ujar Yadav. Dari pengalamannya di Indonesia, dia membahas langkah proaktif OJK, regulator asuransi. Upaya OJK untuk menghubungkan perusahaan asuransi dengan dewan medis dan Kementerian Kesehatan dirancang mengurangi tekanan pada perusahaan asuransi dan meningkatkan efisiensi sistem.
Inisiatif ini mencerminkan adanya upaya regulasi yang lebih luas yang diperlukan untuk menyelaraskan kepentingan semua pemangku kepentingan kesehatan. Meski penetrasi asuransi swasta saat ini masih rendah, Yadav masih konfiden dengan masa depan pihak asuransi swasta.
BACA JUGA: Pj.Gubernur Adhy Terima Dubes India untuk Indonesia dan Timur Leste, Bahas Kerjasama Bilateral
“Dengan biaya kesehatan yang terus meningkat dan kelas menengah yang berkembang, asuransi swasta diperkirakan akan menjadi lebih terjangkau,” kata Yadav. Menurutnya, kini hanya 70 persen orang Indonesia menyadari pentingnya perlindungan kesehatan. Peningkatan kesadaran ini menandakan masa depan menjanjikan asuransi swasta di Indonesia.
Arora memberikan wawasan berharga tentang tantangan operasional yang dihadapi oleh institusi kesehatan. Ia menekankan pentingnya manajemen keuangan dan efisiensi operasional dengan ungkapan, “Top line is vanity, bottom line is sanity, and cash flow is reality.”
Arora menekankan kepada perlunya standarisasi proses untuk memastikan efektivitas operasional dan keberlanjutan dari operasional kesehatan. Wawasannya menekankan bahwa efisiensi adalah kunci untuk mempertahankan layanan kesehatan berkualitas tinggi.
Adjie membahas isu pentingnya membangun kepercayaan dalam sistem kesehatan Indonesia. Dia mengakui, kepercayaan masih jadi kesenjangan signifikan dibandingkan dengan negara-negara seperti Malaysia dan India. “Kepercayaan kepada dokter dan RS memperlakukan pasien sangat penting,” kata Adjie.
Dia mengadvokasi peningkatan kolaborasi dan integrasi dukungan finansial atau asuransi untuk meningkatkan penyampaian layanan kesehatan. Adjie juga menyoroti potensi pengurangan biaya kesehatan dengan memanfaatkan opsi asuransi di India, mencatat bahwa banyak orang Indonesia saat ini mencari perawatan medis di luar negeri karena biaya domestik yang tinggi.
Diskusi panel ini mengungkap potensi besar bagi India dan Indonesia untuk menjalin kerjasama yang efektif dalam menghadapi tantangan kesehatan. Acara ini menekankan bagaimana kedua negara dapat bahu-membahu dalam memanfaatkan kekuatan masing-masing untuk menciptakan solusi kesehatan yang lebih inovatif dan efisien.
Para ahli dan pemimpin dari kedua negara, menyoroti berbagai kesempatan yang ada untuk memperkuat sinergi India dan Indonesia di bidang kesehatan. Maka dengan memanfaatkan sumber daya, pengetahuan, dan keahlian yang dimiliki kedua negara, bersama bisa membawa manfaat yang signifikan bagi kesehatan masyarakat.
Kemitraan ini diharapkan jadi contoh negara-negara lain dari kerjasama antarnegara di bidang kesehatan yang berpotensi dalam mengatasi tantangan kesehatan global serta memperkuat hubungan internasional dalam bidang kesehatan.
Dengan membangun kepercayaan dan kerjasama yang erat, India-Indonesia dapat berkomitmen untuk mengatasi isu-isu kesehatan secara komprehensif, menciptakan dampak positif yang luar biasa, dan menetapkan standar yang baru dalam kerjasama kesehatan internasional. (YMP)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi