Sabtu, 20 Juni 2026, pukul : 17:44 WIB
Surabaya
--°C

Yahudi Pesek dan Kiri-Islam

KEMPALAN: Menkominfo Budi Arie Setiadi menjadi sorotan, gegara fotonya bersama tentara Israel beredar di media sosial. Foto itu menggambarkan Budi Arie tengah berpose bersama tentara perempuan wajib militer yang menenteng senjata laras panjang. Satu foto lagi menunjukkan Budi Arie berpose di bawah bendera Bintang Daud.

Foto-foto itui diambil dalam kunjungan Budi Arie ke Israel pada 2015. Ketika itu ia tidak banyak dikenal orang. Aktivitas politiknya juga tidak banyak, kecuali sebagai relawan Jokowi. Sekarang Budi Arie menjadi sorotan karena sebagai menteri kominfo dianggap bertanggung jawab terhadap bobolnya server Pusat Data Nasional (PDN) dari serangan hacker.

Foto-foto jadul itu sebenarnya tidak ada hubungannya dengan tupoksi Budi Arie sebagai menkominfo. Tetapi, itulah jailnya netizen. Ketika seorang pejabat tinggi berada dalam sorotan maka rekam jejak digitalnya pun dibongkar ke publik.

Sebagai pemeluk Kristen Protestan wajar Budi Arie mengunjungi Israel, berziarah ke Jerusalem, dan menapak tilas gereja dan tempat lahir Nabi Isa. Tapi, persepsi publik selalu negatif setiap kali ada pejabat yang berkunjung ke Israel. Konflik Israel dengan Hamas yang mengakibatkan terbunuhnya ribuan warga sipil Palestina menjadi penyulut kemarahan warga Indonesia dan publik internasional.

Reaksi netizen terhadap unggahan foto-foto itu pun riuh rendah. Ada yang mendesak Budi Arie dipecat secepatnya. Ada yang menyebut Budi Arie simpatisan zionis dan pendukung genosida Yahudi Israel terhadap warga Palestina.

Publik Indonesia mengecam keras serbuan Israel terhadap Hamas yang menyebabkan kehancuran Gaza. Tapi, diam-diam ada juga publik Indonesia yang membela Israel karena menganggap Hamas sebagai organisasi teroris.

Terjadi polarisasi opini publik, sebagaimana yang terjadi dalam kontestasi politik selama ini. Meskipun polarisasi kadrun-cebong tidak ingar bingar lagi dalam pilpres 2024, tapi garis polarisasi dua kubu itu masih tetap kuat. Pendukung Palestina disebut sebagai kadrun, dan pendukung Israel disebut cebong.

Kadrun dan cebong sebenarnya terminologi yang lucu. Tetapi, karena ada muatan politik maka sebutan itu menjadi pejoratif, sangat merendahkan. Kelompok kanan yang disebut sebagai kadrun bisa sakit hati, dan kalangan liberal yang disebut cebong juga bisa panas telinga.

BACA JUGA  Siap Topang Swasembada Pangan Polsek Porong Bersama Petani Pantau Perkembangan Tanaman Jagung

Mereka yang dianggap mendukung Israel sekarang mendapat julukan baru sebagai ‘’Yahudi Pesek’’. Sebutan ini bikin tertawa karena lucu, tapi bisa membikin telinga merah karena asosiasi yang negatif. Pesek adalah bentuk hidung yang tidak mancung, yang diasosiasikan sebagai bentuk hidung rata-rata orang Indonesia. Sebaliknya hidung mancung identik dengan hidung orang Eropa.

Persepsi yang berkembang luas adalah bahwa orang Yahudi selalu digambarkan berkulit putih, berambut pirang, tinggi besar dan berhidung mancung, khas anatomi manusia Eropa. Hal ini lebih sebagai stereotype ketimbang realitas, karena banyak juga Yahudi dari Ethiopia dan beberapa darah Afrika yang berkulit hitam legam, berambut keriting kriwul, dan hidung tidak mancung.

Para simpatisan Israel di Indonesia yang disebut sebagai Yahudi Pesek umumnya berasal dari kalangan Kristiani seperti Budi Arie. Dalam konflik Palestina ini kalangan Kristiani terlihat lebih pro kepada Israel ketimbang Islam. Dalam hal ini Islam dianggap sebagai common enemy bagi Yahudi dan Kristen, meskipun dalam sejarahnya Yahudi dan Kristen pernah menjadi musuh bebuyutan.

Di Indonesia Islam lebih identik sebagai agama pribumi dan Kristen sebagai agama Eropa. Penjajah Belanda membuat segregasi sosial yang menempatkan pribumi dalam strata sosial yang rendah. Orang-orang China ditempatkan dalam strata sosial yang sejajar dengan bangsa Eropa. Stratifikasi sosial ini membuat kedua etnis itu terpisah menjadi pribumi dan non-pribumu. Dalam hal agamapun akhirnya terjadi segregasi antara Islam dengan non-Islam yang masih terasa sampai sekarang.

Konflik Palestina sekarang membawa perkembangan baru dengan munculnya partai-partai kiri menjadi pemenang dalam pemilu Eropa. Di Prancis partai sosialis kiri berhasil memenangkan pemilu mengalahkan partai kanan. Janji untuk mengakui kemerdekaan Palestina yang menjadi tema kampanye partai kiri berhasil menarik simpati pemilih.

Partai sayap kanan Prancis terkenal sangat anti imigrasi dan anti Islam. Di bawah kepemimpinan Marie Le Pen partai sayap kanan dikenal dengan sikapnya yang sekular ekstrem yang bisa mengancam eksistensi imigran Afrika muslim.

Partai sayap kanan National Rally, yang dipimpin oleh Marine Le Pen, memenangkan 143 kursi dan memimpin putara pertama dengan kemenangan tipis. Partai tengah dan sayap kiri kemudian berkoalisi untuk mengalahkan koalisi sayap kanan, Akhirnya koalisi National Rally yang terdiri dari partai tengah dan kiri, berhasil mengalahkan partai sayap kanan.

BACA JUGA  Scaloni Kagumi Messi Usai Sang Kapten Cetak Trigol ke Gawang Aljazair

Perkembangan ini membuat peta politik berubah. Kelompok sayap kanan awalnya menjadi musuh lama Yahudi Prancis. Pendiri National Rally, Jean-Marie Le Pen, berulang kali dihukum karena ujaran kebencian dan penyangkalan Holocaust dan sangat anti Yahudi. Tetapi, karena ancaman partai sayap kiri sekarang partai sayap kanan berbaikan dengan para pendukung Israel.

Di Inggris juga terjadi perubahan besar. Partai Buruh yang dipimpin Keir Starmer memenangkan pemilu dan meraih kursi mayoritas di parlemen. Perdana Menteri Rishi Sunak dari Partai Konservatif pun mengundurkan diri karena kekalahan ini.
Partai Buruh yang berhaluan kiri meraih 326 kursi di DPR dan menjadikan Partai Buruh sebagai mayoritas. Hasil ini mengkonfirmasi perubahan luar biasa bagi Partai Buruh dalam satu siklus pemilu. Partai Buruh memenangkan 410 dari 650 kursi.

Perubahan ini akan membawa konsekuensi besar dalam konflik Palestina, karena perdana menteri terpilih Inggris menyatakan akan mendukung kemerdekaan Palestina.

Dukungan Prancis dan Inggris terhadap kemerdekaan Palestina akan mengubah lanskap politik Timur Tengah secara signifikan. Selama ini dua negara itu menjadi sekutu utama Amerika Serikat dalam konflik Palestina. Amerika semakin tersudut dalam pembelaannya terhadap Israel setelah membelotnya Prancis dan Inggris dengan mendukung Palestina.

Inggris adalah sponsor utama bedirinya negara Israel pada 1947. Ketika itu menteri luar negeri Inggris Sir James Balfour menyeponsori deklarasi yang menjadi dasar berdirinya negara Israel.

Perkembangan internasional ini menjadi angina segar bagi pra pejuang Palestina dan pendukungnya di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Sebenarnya ada ironi dalam perkembangan ini, karena kemerdekaan Palestina harus didukung oleh politisi kiri yang sosialis dan bahkan cenderung komunis. Fenomena ini bisa menjadi bukti munculnya kekuatan ‘’Kiri-Islam’’ yang sudah digagas pemikir Islam Hasan Hanafi pada 1980-an?
Islam dan sosialis kiri tidak bisa berbaur laksana minyak dan air. Tetapi, menghadapi musuh bersama kapitalisme global ternyata minyak dan air bisa bersatu. Itulah politik.

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.