Ada yang Pernah Berkarier di Koran Dr. Abdul Gofur

waktu baca 3 menit
Alumni Pos Kota Perwakilan Jawa Timur reuni tahun 1990 di rumah makan Taman Sari, sebagian besar alumni AWS, ki-ka : Affan Bey (Angkatan 1975), Amang Mawardi (Angkatan 1975), Karyanto (Angkatan 1977), Bagus Sudarmanto (perwakilan Pos Kota Jakarta, kini Profesor Doktor), Errol Jonathans (Angkatan 1977), dan Ivans Harsono (Angkatan 1975).

KEMPALAN: Pada seri ke-2 sudah saya deskripsikan sosok-sosok alumnus yang jauh 3-4 angkatan dari angkatan saya, yaitu Amak Syarifudin, Moehtar, Farid Dimjati, Basoeki Rachmad, Hadiaman Santoso, dan Peter A. Rohi.

Meski sudah saya singgung nama-nama di alinea terakhir seri ke-2, tapi belum saya deskripsikan, yaitu: Zainal Arifin Emka, Hadi Purnomo (Didit HP), Tanjung Suparnadi, Slamet Oerip Prihadi, Sunendar, dan Edi Sutedjo. Ada lagi yang lupa saya sebut, yakni Bambang Sumaryono HD.

Zainal Arifin Emka sosok yang disegani. Pernah menjadi Ketua Sema (Senat Mahasiswa AWS). Memulai karier jurnalistiknya sebagai redaktur di koran berkala Indonesia Bangun yang orang nomor satu di media ini adalah Mayor TNI AU dr. Abdul Gofur. Kelak dr. Abdul Gofur oleh Pak Harto diangkat menjadi Menpora. Kantor koran ini berlokasi di Jl. M. Duryat, Surabaya.

Sosok kalem tapi tegas ini, sesudah dari Indonesia Bangun, lantas membantu Agil H. Ali sebagai redaktur pelaksana di koran MM (Mingguan Mahasiswa). Lantas bergabung dengan Harian Sore Surabaya Post yang kemudian mengantarkannya menjadi wakil pemimpin redaksi. Kalau tidak salah, sesudah Surabaya Post memasuki “sandyakala”, Zainal Arifin ikut mendirikan koran Surabaya Sore yang usia koran ini tidak lama.

Kini sosok ini menjadi dosen di almamater yang sudah dielaborasi menjadi: Stikosa AWS. Pernah menjadi Kepala Stikosa AWS, semacam “rektor” dalam skope kecil.

Dua minggu lalu saat saya berobat di Puskesmas Gunung Anyar Surabaya, saya oleh perawat di situ dibagi majalah Al Falah. Saya lihat di halaman terakhir masih ada Kolom Zaenal Arifin Emka. Berarti sudah lebih dari 10 tahun usia kolom ini. Luar biasa.

Sejak duduk di tingkat I Hadi Purnomo yang akrab dipanggil Didit rajin menulis masalah-masalah sosial di Harian Merdeka, atau kalau tidak menulis cerpen dan artikel budaya di Minggu Merdeka.

Saat Mas Didit sudah di tingkat III, saya beberapa kali menjumpai wesel hasil menulis di koran itu untuk Mas Didit, berada di meja Pak Tarip kepala TU AWS. Nantinya akan diserahkan ke Didit HP. Sosok yang juga mengesankan seniman dimana sosok ini menggunakan alamat kampus AWS di Jl. Kapasari 3-5 Surabaya.

Saat di pertengahan tingkat III, Mas Didit pamit karena diterima di TVRI. Saat itu belum ada TVRI Stasiun Surabaya. Dia ditempatkan di TVRI Pusat.
Oleh pengurus Sema AWS yang saat itu ketuanya adalah Ivans Harsono, diadakan upacara pelepasan di salah satu ruangan yang biasa dipakai untuk kuliah.
Kelak saat TVRI Stasiun Surabaya berdiri di tahun 1978, Didit dipindah di stasiun ini. Mas Didit dikenal sebagai bertangan dingin yang melahirkan beberapa mata acara yang digemari pemirsa, di antaranya ‘Rona Rona’ dalam format majalah udara.

Sudah puluhan tahun Didit HP bergelut dengan anak-anak jalanan yang “base camp“-nya berada di sebelah barat Terminal Joyoboyo. Didit HP adalah pendiri Sanggar Alang-Alang yang meraih banyak penghargaan ini.

Tanjung Suparnadi pernah menjadi kontributor Surabaya Post. Saat Tanjung diterima di Pemda Kabupaten Magetan, tulisannya masih mengalir di harian sore itu.

Pada akhirnya Tanjung Suparnadi menjadi Kepala Humas.

Lima orang wartawan –termasuk saya (Pos Kota) dan Edi Sutedjo (Sinar Harapan)– di seputar 1980-an pernah diundang oleh Humas Pemda Tingkat II Kabupaten Magetan yang waktu itu bupati kabupaten tersebut dijabat oleh Drs. Bambang Kusbandono bupati termuda di Jawa Timur alumnus Fakultas Publisistik UGM. Kabupaten ini di bawah Bambang Kusbandono banyak mengalami kemajuan pesat. (Bersambung).

Amang Mawardi, wartawan senior.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *