Pertanyaan Mengenai Palestina

waktu baca 6 menit
Rumah dan bangunan hancur akibat serangan Israel di Gaza. (rtr)

KEMPALAN: Perang terbuka Israel vs Palestina sudah berlangsung selama sepekan. Ribuan roket meluncur dan ribuan warga sipil meninggal. Perang terbuka ini menjadi perang paling berdarah dalam sejarah konflik Israel-Palestina selama 75 tahun terakhir.

Konflik panjang ini mulai pecah sejak 1948 ketika Inggris yang mempunyai mandat internasional mendirikan negara Israel. Mandat internasional yang dipegang Inggris adalah hadiah kemenangan pasukan Sekutu dalam Perang Dunia II. Sejak itu bangsa Palestina yang sudah ratusan tahun mendiami tanahnya, menjadi bangsa yang terdesak oleh kedatangan imigran Yahudi dari seluruh dunia.

Israel menjadi negara kuat dengan persenjataan canggih berkat dukungan Inggris dan Amerika. Bangsa Palestina semakin tersudut dan hanya mendiami wilayah kecil seperti Gaza yang terisolasi dan terkepung oleh blokade Israel.

Bangsa Palestina berjuang menuntut kemerdekaan. Israel bersikukuh tidak akan meninggalkan Palestina. Solusi yang ditawarkan adalah satu negara dengan dua pemerintahan. Tetapi, sampai sekarang yang terjadi adalah satu negara dengan dua kasta. Yang tertinggi adalah kasta Yahudi dan bangsa Palestina menjadi kasta terendah.

Perang terbuka kali ini adalah perang antara pasukan Hamas melawan Israel. Hamas adalah salah satu organisasi perlawanan bangsa Palestina yang paling aktif melawan Israel dengan senjata. Karena aktivitasnya ini Hamas dikategorikan sebagai organisasi teroris. Sementara Israel yang membunuh ribuan warga muslim Palestina selalu lolos dari kutukan dunia internasional berkat perlindungan Amerika.

Perang kali ini merupakan bagian dari sekian banyak perang yang sudah terjadi. Sangat mungkin dalam waktu dekat konflik akan berhenti, tetapi permusuhan tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Di masing-masing kubu ada kekuatan militan yang tidak mau berkompromi dan ingin menghancurkan lawannya sampai habis. Itulah yang menjadi sebab konflik berkepanjangan.
Bangsa Yahudi Israel mendapatkan perlakuan istimewa dari Amerika dan Eropa, karena merasa berdosa terhadap masa lalu yang dialami oleh bangsa Yahudi atas represi oleh Nazi Jerman. Tetapi di sisi lain Amerika dan Eropa justru berdiam diri terhada kejahatan yang dilakukan oleh Yahudi terhadap bangsa Palestina.

Selama ini bangsa Yahudi mencitrakan diri sebagai bangsa yang terzalimi oleh rezim Nazi Hitler pada Perang Dunia Kedua 1940-an. Pembunuhan melalui operasi Holokaus oleh Hitler disebut-sebut telah membunuh jutaan bangsa Yahudi di Eropa sampai jutaan.

Holokaus disebut sebagai genosida, pembununuhan terencana terhadap bangsa Yahudi di semua wilayah Eropa yang dikuasai oleh rezim Nazi Jerman. Adolf Hitler sebagai penguasa tertinggi memimpin langsung pembunuhan masal itu. Dari sembilan juta Yahudi yang tinggal di Eropa sebelum Holokaus, sekitar dua pertiganya tewas. Secara khusus, lebih dari satu juta anak Yahudi tewas dalam Holokaus, serta kira-kira dua juta wanita Yahudi dan tiga juta pria Yahudi menjadi korban.

Definisi Holokaus meliputi pula genosida Nazi terhadap jutaan orang dalam kelompok lain selain Yahudi, di antaranya orang-orang komunis tawanan perang dari Uni Soviet, orang-orang gipsi, orang-orang homoseks dan lesbian, penganut Saksi Yehova, dan penganut agama lain yang dianggap menyimpang. Jika jumlah korban ini dijumlahkan dengan korban dari kalangan Yahudi maka totalnya bisa mencapai 11 juta dan bahkan bisa sampai 17 juta.

Bangsa Yahudi yang lari sebagai pengungsi karena menghindari kekejaman Hitler, sekarang justru bertindak lebih brutal dan biadab dari Hitler. Yahudi memperlakukan bangsa Palestina sebagai tawanan yang terkepung dalam kamp konsentrasi di tanah airnya sendiri. Kamp konsentrasi terbuka itu menampung sedikitnya dua juta orang di Gaza. Inilah kamp konsentrasi terbesar di era modern sekarang.

Bagaimana mungkin bangsa yang pernah menghadapi tragedi kemanusiaan seperti Holokaus bisa melakukan kekejaman yang sama terhadap bangsa lain? Bagaimana mungkin orang Yahudi yang pernah merasakan brutalnya penderitaan akibat politik rasis Nazi, melakukan hal yang sama terhadap bangsa Palestina.

Inilah pertanyaan besar yang diajukan oleh Edward Said dalam ‘’The Question of Palestine’’ (Pertanyaan mengenai Palestina), yang menggugat siap diam komunitas intelektual dunia terhadap kejahatan kemanusiaan oleh Israel terhadap Palestina.

Banyak orang yang meragukan bahwa Holokaus benar-benar terjadi dengan skala sebesar itu. Tapi, orang-orang yang menggugat Holokaus akan dibully dan dikucilkan secara internasional, dan dituduh sebagai anti-semit yang diskriminatif terhadap bangsa Yahudi.

Tapi, orang-orang yang diam terhadap perlakuan diskriminatif terhadap bangsa Palestina oleh Yahudi Israel dianggap baik-baik saja. Itulah salah satu pola pikir ‘’Orientalisme’’ Barat terhadap bangsa Timur yang dipenuhi oleh rasa superioritas bangsa kulit putih terhadap bangsa kulit berwarna di Timur.

Itulah cara pandang Orientalisme khas Barat, yaitu sebuah cara pandang umum Barat terhadap Timur beradasarkan pada keyakinan keunggulan ras kulit putih terhadap ras lain. Dengan keunggulan itu bangsa Eropa merasa mendapatkan justifikasi untuk menjajah bangsa lain yang berkulit beda. Pandangan Orientalisme berpendapat bahwa kolonialisme dan imperialisme yang dilakukan bangsa Eropa di Asia dan Afrika adalah sebuah tugas sejarah bangsa Barat untuk meningkatkan peradaban dunia lain yang kurang beradab.

Penjajahan bukan kejahatan, tapi kewajiban yang menjadi tugas bangsa kulit putih, White Men’s Burden, tugas bangsa kulit putih untuk mengajarkan peradaban kepada bangsa kuit berwarna. Pemusnahan Hitler terhadap Yahudi didasarkan pada keyakinan keunggulan ras bangsa Aria atas ras Yahudi. Dan sekarang bangsa Yahudi melakukan hal yang sama terhadap bangsa Palestina atas dasar alasan yang sama.

Amerika dan Inggris hanya diam melihat kebrutalan Israel sekarang. Presiden Biden yang sudah sering pikun memang tidak bisa diandalkan untuk membela Palestina. Dia cs kental dengan Netyanahu sejak masih senator. Waktu menjadi wakil presiden Barack Obama Biden juga berkali-kali ke Israel mendukung semua kebijakan apartheid terhadap Palestina.

Sekarang Biden mengangkat menteri luar negeri Antony Blinken yang Yahudi. Dibanding dengan Donald Trump yang ultra-nasionalis Joe Biden sama saja, tidak ada beda sama sekali. Biden tidak bakal membatalkan pemindahan kedutaan besar Amerika dari Tel Aviv ke Jerusalem. Ini merupakan perlambang dukungan Amerika paling besar terhadap zionisme Israel.

Tidak ada yang bisa diharapkan dari Joe Biden. Begitu pula tidak banyak yang bisa dilakukan oleh PBB yang selama ini ompong. Keberadaan Organisasi Konferensi Islam (OIC) juga sama saja letoy tak berdaya. OIC malah dipelesetkan menjadi “Oh I See..”

Palestina semakin teraleniasi dan dilupakan. Negara-negara Teluk seperti UEA dan Bahrain sudah bermesraan dengan Israel dengan membuka hubungan diplomatik. Sudan yang selama ini punya basis perjuangan Islam yang kuat juga sudah terbujuk untuk menyambung hubungan diplomatik dengan Israel. Bahkan, Arab Saudi pun sudah gatal tangan untuk berhubungan bisnis dan ekonomi dengan Israel.

Godaan gelontoran triliunan petro-dolar dari Israel membuat negara mana pun meneteskan liur, termasuk Indonesia. Sudah banyak suara bermunculan mengenai kemungkinan menyambung hubungan dengan Israel. Opini publik yang terpecah dalam kasus penolakan Piala Dunia U-20 di Indonesia beberapa waktu yang lalu menunjukkan bahwa sudah banyak publik di Indonesia yang lupa akan sejarah kebrutalan Israel terhadap Palestina.

Perang terbuka Israel-Palestina kali ini membuka mata dunia internasional mengenai ketidakadilan permanen di Palestina ini. ()

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *