Sabtu, 27 Juni 2026, pukul : 16:35 WIB
Surabaya
--°C

Buku Waktu Tak Pernah Menipu

KEMPALAN: Setelah ditenggang kurun waktu tujuh tahun, persisnya sejak tahun 2016 saat buku kumpulan puisi tunggal saya yang pertama berjudul Tiang Tiang terbit, hari ini menyusul terbit buku kumpulan puisi tunggal saya ke-2: Buku Waktu Tak Pernah Menipu (BWTPM). 

BWTPM berisi 60 puisi, yang lantas saya bagi menjadi 6 Bab. Apakah ‘pembabakan’ ini saya sengaja? Tidak! 

Setelah saya amati, puisi-puisi saya pada BWTPM, menyiratkan beberapa nuansa. 

Maka tersebarlah nuansa-nuansa itu ke dalam enam Bab, yaitu Bab I: Kampung Halaman (12 puisi); Bab II: Yang Tersisih (10 puisi); Bab III: Titian Kehidupan dan Percik Gelitik (13 puisi). 

Bab IV: “Permainan” Kehidupan (7 puisi); Bab V: Kepada Kawan Kawan (8 puisi); Bab VI: Cerita Malam (9 puisi).

Supaya lebih bisa diketahui, syukur-syukur bisa menginspirasi, akan saya hadirkan masing-masing satu puisi setiap Bab-nya. 

Dari Bab I: PASAR TURI

kawan, tentang pasar itu dulu kamu pernah bertanya:

“mana yang benar, gula yang dikerumuni kawanan semut atau lampu yang dikitari laron-laron?”

kini aku jawab:

“dua-duanya benar!”

betapa jubelan pedagang, makelar, kuli angkut, sopir taksi, tukang becak, pengais sampah, tukang copet — mengangkut, mengais, menggaet — manis rejeki di situ

tapi mengapa setiap jubelan itu semakin sesak melesak-lesak senantiasa setitik nyala berubah lidah panas menjilati dengan ganas melahap seluruh pasar menggeleparkan nasib orang-orang itu

BACA JUGA  Ketika Kamu Sudah Teredukasi: NPD Hanya Badut Penuh Drama

seperti laron-laron terkapar oleh terang sinar

kawan, mungkin kini saatnya kamu jawab pertanyaan lama: “terbakar atau dibakar?”

(Maret 2013)

Dari Bab II: ORANG ORANG YANG DITOLAK PULANG

Ada berita mengguratkan luka Orang-orang yang ditolak pulang

Ada sejarah meneteskan darah

Orang-orang yang tersudut di tepi jurang

Siapa menyuruh saksi palsu

menghunjamkan tajam ke dada orang-orang itu?

Para pengintai terus mendalamkan lebam Menanahkan luka, menderaskan dendam : bacalah gejala, tajamkan waspada!

Orang-orang yang ditolak pulang 

Yang tersudut di tepi jurang 

Terus bertahan, tak ada pilihan

Mengabarkan tentang penjarah 

Yang berkomplot dengan penetes darah !

(1 Februari 2021)

Dari Bab III: MENUNGGU KABAR

Termangu

Lama menunggu

Tak ada kabar 

Jadi tak sabar

Masih dua centrang hitam 

Kutatap layar dengan kelam

(Belum dibaca? Kemana?)

Lantas berubah dua centrang biru 

Tampak ‘mengetik’ di zona hijau

“Semalam hujan deras. Aku baik-baik. Bebat luka sudah kulepas”

( _Alhamdulillah Wa Syukurillah_ )

Empat dekade lalu 

Aku duduk dekat pintu

Lama menanti bunyi kring 

Lantas pesawat berdering

“Jangan dulu pergi. Kutunggu di pelabuhan jam tujuh pagi”

Menunggu dia punya kabar

Sering dengan dada berdebar 

BACA JUGA  Tenggat Waktu Pemrosesan dari Pencari Suaka hingga Dapat Izin Tinggal di Belanda atau Uni Eropa

Minggu ke-3 September 2018

Dari Bab IV: MENUJU SUMBER AIR

Orang-orang menuju sumber air berbeda-beda 

Dalam barisan berjejer beraneka warna

Ada yang tahu mana yang bening

Ada yang merasa tahu mana yang bening

Ada yang tak tahu sama sekali mana yang bening 

Suasana jauh dari hening

Desember 2016

Dari Bab V: BALAI PEMUDA

: _Endi, Yusman, Sulkan_

Puing-puing sisa kebakaran 

Munculkan keping-keping kenangan 

Sebagian sulit diingat

Sebagian terekam kuat

Paling kuingat Theresias peramal buta 

Oedipus?

Siapa memerankannya?

Yocastha?

Mungkin Vera. Atau Thelma?

Creon?

Ohoi, Frans Limahelu!

Bagaimana kalau aku tetap Theresias? 

Mungkin sempurna memerankannya 

Dengan tubuhku semakin renta

Dan kedua mata setengah buta

Mari bersihkan puing-puing 

Kita satukan kenangan 

Dalam hari-hari latihan 

Menuju pemanggungan !

(April 2013)

Dari Bab VI: SELEMBAR DAUN

Sekilas  cahaya 

Membilas selembar daun

O .. kuning warna!

Malam pun makin jauh 

Sebentar lagi embun jatuh

Menjadi keemasan atau seperti warna peluh? 

(Agustus 2019)

Buku kumpulan puisi ini berisi 96 halaman (xii + 84), diterbitkan Literasi Lohjinawi, cetakan I September 2023.

Mengapa diberi judul Buku Waktu Tak Pernah Menipu? Itu adalah salah satu judul puisi di buku ini. Lantas, mengapa selengkapnya tidak diturunkan di tulisan ini. Biar bikin penasaran? Mungkin…he-he-he.

(Amang Mawardi)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.