Kamis, 23 April 2026, pukul : 16:38 WIB
Surabaya
--°C

Anggaran Minim,  Jatim Terancam Terlempar dari Tiga Besar PON XXI 2024!

SURABAYA-KEMPALAN: Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI akan digelar di Aceh dan Sumatera Utara tahun depan atau tahun 2024. Jika pada PON XX 2021 di Papua Kontingen Jatim menempati urutan ketiga di bawah Jawa Barat dan DKI Jakarta, maka pada PON XXI 2024 kontingen Jawa Timur tampaknya harus kembali mengubur
“mimpinya” untuk meraih gelar juara umum.

Jangankan merebut gelar juara umum, bisa bertahan di posisi tiga besar saja sudah sangat bagus. Bahkan, tidak menutup kemungkinan Jawa Timur yang selama ini dikenal sebagai barometer pembinaan atlet nasional, terlempar dari posisi tiga besar. Dan kalau itu terjadi, tentu sangat memprihatinkan.

Mengapa? Salah satu kendalanya adalah masalah dana. Seperti diketahui, hibah untuk KONI Jatim di tahun 2023 hanya sebesar Rp 55 miliar. Besaran anggaran untuk KONI Jatim ini tentu sangat minim. 

Tak heran jika Ketua DPD RI LaNyalla Mahmud Mattalitti yang merupakan mantan Wakil Ketua KONI Jatim ikut mencak-mencak.

“Minimnya anggaran untuk KONI Jatim membuat program Puslatda dan juga Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) yang telah disusun dengan rinci dan melibatkan banyak komponen penting jadi berantakan,” kata LaNyalla.

Dengan keterbatasan anggaran itu, menurut LaNyalla, KONI Jatim harus melakukan penyesuaian di semua sektor. Termasuk penyesuaian bantuan untuk atlet, baik itu berupa uang saku, peralatan, maupun program try out yang terpaksa harus dihilangkan. “Para pemangku kepentingan di Jatim seharusnya memberikan perhatian lebih terhadap dunia olahraga, khususnya untuk KONI Jatim,” ujar dia.

LaNyalla khawatir pada PON XXI tahun 2024 yang digelar di Aceh dan Sumatera Utara, prestasi dunia olahraga di Jawa Timur menurun karena keterbatasan anggaran tersebut.
Apalagi jika dibandingkan dengan dua seteru.terkuatnya di setiap event olahraga nasional, yakni Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Diketahui, DKI Jakarta dengan APBD Rp83,7 triliun, memberi hibah untuk KONI DKI Jakarta sebesar Rp270 miliar. Secara persentase, KONI DKI Jakarta mendapatkan 0,32 persen dari total APBD DKI Jakarta. 

Sementara Jawa Barat dengan APBD Rp33,31 triliun, KONI Jabar mendapatkan hibah sebesar Rp90 miliar, atau 0,27 persen. Demikian pula tuan rumah KONI Sumatera Utara mendapat kucuran Rp 95 miliar. Bahkan setingkat kabupaten dan kota, Pemkab Bekasi memberikan dana hibah Rp 53 miliar untuk pembinaan prestasi olahraga lewat KONI Kab Bekasi.

Sementara Jawa Timur dengan APBD sebesar Rp30,5 triliun, hanya mengucurkan hibah untuk KONI Jatim pada tahun 2023 ini sebesar Rp55 miliar. Jika dipersentase, KONI Jatim hanya mendapatkan 0,18 persen dari nilai APBD Jatim.

Angka ini juga lebih kecil bila dibandingkan anggaran yang dikucurkan untuk KONI Jatim pada PON XX 2021 di Papua. Kala itu KONI Jatim mendapat kucuran dana hibah sebesar Rp 65 miliar dari ABPD Jatim.

Menurut sumber yang diperoleh kempalan.com, saat ini atlet Puslatda PON Jatim hanya menerima uang saku sekitar Rp 1 juta per bulan. Padahal, pada PON sebelumnya mereka menerima lebih besar dari itu, yakni Rp 2,1 juta per bulan, bahkan lebih.

“Ibaratnya, kalau dulu mereka (atlet) bisa menjadi penopang keluarga, sekarang ini untuk memenuhi kebutuhan sendiri saja tidak cukup,” kata sumber itu.

Tidak hanya LaNyalla.
Sebelumnya, anggota Komisi E DPRD Jatim, Hasan Irsyad juga menyatakan prihatin setelah mengetahui minimnya hibah di tahun 2023 untuk KONI Jatim.

Hal itu diketahui, setelah politisi asal Partai Golkar ini melakukan kunjungan kerja (kunker) di PPOP Ragunan Jakarta dan BAPOPSI DKI Jakarta pada 7 Maret 2023.

Untuk itu, Hasan Irsyad berjanji akan berusaha mendorong penambahan anggaran untuk KONI Jatim pada Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) pada September 2023 mendatang.

Terancam Loncat ke Daerah Lain

Minimnya anggaran tersebut juga dikeluhkan pengurus cabor, pelatih, dan para atlet Puslatda Jatim. Salah satunya adalah Dhanu Iswara, Ketua Pengprov Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Jawa Timur. Pria yang juga pelatih panjat tebing Jatim ini mengaku prihatin dengan minimnya anggaran hibah untuk KONI Jatim tersebut, yang hanya Rp 55 miliar.

“Jelas tidak cukup. Apalagi tahun ini juga ada Pra PON, yang juga butuh anggaran,” kata Dhanu Iswara, Senin (10/4) siang.

Akibat minimnya anggaran tersebut, menurut Dhanu, tentu sangat berpengaruh terhadap persiapan atlet. Pasalnya, selain tidak ada lagi program try out dan pembelian peralatan, uang saku atlet juga dipangkas.

“Padahal try out sangat penting bagi pelatih untuk mengukur kekuatan atlet sebelum berlaga di Pra PON. Karena try out dihapus, ya kita tidak bisa berbuat apa-apa,” ucap Dhanu Iswara.

Paling dirasakan adalah soal peralatan. Misalnya untuk pengadaan tali yang sekarang dibebankan pada pengurus cabor. Padahal, sebelumnya dibelikan oleh KONI Jatim. 

“Ini jelas sangat memberatkan, mengingat tali ini merupakan peralatan vital di olahraga panjat tebing. Kalau tidak ada tali, lantas kita latihan pakai apa?,” sambung Dhanu.

Demikian soal uang saku. Dhanu menyebut, saat ini ada atletnya yang hanya menerima Rp 950 ribu per bulan setelah dipotong pajak. Mereka ini adalah atlet Puslatcab peraih medali perak dan perunggu di PON Papua. Untuk peraih medali emas dapat uang saku Rp 2,1 juta per bulan.

Sedang atlet peraih medali emas di SEA Games menpapat uang saku lebih besar lagi. “Yang paling kasihan adalah atlet yang dapat uang saku Rp 950 ribu per bulan. Kalau masih bujangan bisa diatur, tapi bagi yang sudah berkeluarga tentu tidak cukup,” ungkap Dhanu, prihatin.

Untuk itu, Dhanu Iswara berharap ada penambahan anggaran untuk KONI Jatim, paling tidak untuk tahun depan. Jika tidak, ia khawatir akan banyak atlet Jatim yang hengkang ke daerah lain yang dinilai lebih menjanjikan.

“Kalau keputusannya sudah begitu, pengurus dan pelatih tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi selama ini mereka merasa tidak dihargai, karena sudah berlatih keras pagi dan sore. Tapi, semoga saja itu tidak sampai terjadi,” tutur Dhanu.

Tetap Semangat

Sementara itu, meskipun anggaran sangat terbatas,
KONI Jawa Timur meminta seluruh cabang olahraga yang saat ini menjalani Puslatda tetap semangat dan serius mempersiapkan diri menyambut Pra PON yang akan digelar tahun ini.

Namun, karena minimnya anggaran, KONI Jatim terpaksa hanya merekrut atlet-atlet yang benar-benar memiliki prestasi dan peluang besar meraih emas di Pra PON. 

“Yang kami fasilitasi adalah yang punya trek rekord meraih emas atau perak di PON Papua, kemudian emas dan perak di Kejurnas dan atlet Pelatnas,” kata Ketua KONI Jatim M. Nabil. “Dengan berat hati, untuk atlet yang meraih perunggu tidak akan kami berangkatkan,” tegasnya.

Menurut Nabil, kondisi anggaran yang seret membuat KONI harus melakukan penyesuaian anggaran untuk Puslatda Jatim. Terutama masalah bantuan keuangan atlet. 

Selain itu, ia juga memohon maaf karena tidak ada program try out ke luar negeri seperti sebelumnya. 

Sedangkan peralatan akan diberi jika memang mendesak untuk diganti sesuai umur peralatan. 

Dengan anggaran minim, KONI Jatim berusaha memaksimalkan potensi yang ada untuk mempertahankan bahkan meningkatkan prestasi. 

“Jadi kami tidak bicara try out maupun training camp luar negeri. Tapi seleksi awal harus dilakukan pengetatan saat berangkat ke Pra PON. Yang jelas kalau perunggu tidak kita berangkatkan sebagai peserta PON,” kata mantan Komisioner KPU Jatim itu. 

Namun, Nabil berpesan kepada seluruh atlet dan pengurus cabang olahraga agar tetap semangat mempersiapkan diri untuk menunjukkan prestasi terbaiknya. “Hari ini harus yakin, harus optimistis  tidak boleh mengurangi nyali dan semangat kita untuk mempersiapkan diri dan bertanding nanti,” pintanya.

Ya, mau apalagi. Dengan dana hibah untuk KONI Jatim di tahun 2023 yang hanya sebesar Rp55 miliar, memang membuat Nabil dan jajaran pengurus KONI Jatim mumet dan harus memutar otak. Sebab, angka itu jauh dari cukup untuk persiapan PON XXI 2024. 

Padahal, saat ini ada sebanyak 751 atlet, 115 pelatih, dan 17 mekanik yang masuk Puslatda. Ini berlaku mulai Januari 2023 hingga berakhirnya Pra PON nanti.

Sesuai jadwal yang sudah dirilis KONI Pusat, bulan September adalah batas akhir penyelenggaraan Pra PON. Khusus untuk Pra PON, semua atlet termasuk non Puslatda akan dibantu pembiayaan untuk berangkat.

“Yang paling penting, pada Pra PON nanti KONI Jatim menargetkan harus juara, bukan hanya sekadar lolos,” tegas Nabil.

Sekadar diketahui, pada PON XX 2021 Papua, Jatim menempati urutan ketiga di bawah Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Kala itu, Jatim menyabet 110 medali emas, 89 perak, dan 88 perunggu. Jabar di urutan teratas dengan 133 medali emas, 105 perak, dan 115 perunggu. Sedang DKI Jakarta di posisi runner up membabit 110 medali emas, 91perak, dan 100 perunggu. Urutan keempat ditempati tuan rumah Papua dengan raihan 93 medali emas, 65 perak, dan 102 perunggu.

Sementara itu, Aceh dan Sumut kala itu masing-masing  menempati urutan ke-12 dan 13. Namun demikian, sebagai tuan rumah PON XXI 2024, Aceh dan Sumut harus diwaspadai. Jangan sampai Jatim kena sodok dan terlempar dari posisi tiga besar karena persiapan yang kurang maksimal. Semoga tidak! (Dwi Arifin)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.